Din Syamsuddin Tidak Dungu, Hanya Berhalusinasi

Oleh: Rudi S Kamri

Lega rasanya saya mendengar komentar dari Buya Syafii Maarif yang mengatakan sangat tidak bijaksana dalam kondisi bangsa sedang berjuang keras melawan pandemi Covid-19 seperti saat ini, ada orang yang usil mengulik wacana 'impeachment' terhadap Presiden. Pendapat guru bangsa Buya Syafii serta merta meluruhkan kredibilitas pembicara dalam webinar yang dilakukan Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (Mahutama) beberapa hari lalu termasuk Din Syamsudin.

Sudah jadi rahasia umum bahwa Din Syamsudin atau Muhammad Sirajuddin Syamsuddin merupakan sosok yang tidak legowo menerima nasib bahwa dia bukan orang yang terpilih mendampingi Presiden Jokowi. Jangankan terpilih menjadi calon wakil presiden, bahkan menjadi menteri pun, dia tidak dilirik. Dan saya adalah salah satu orang yang bersuka cita bahwa Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini tidak masuk di pemerintahan. Entah kenapa secara subyektif, saya tidak pernah sreg dengan sosok ini.

 

Akibatnya sudah bisa diduga, Din Syamsudin masuk dalam kelompok orang yang selalu mengganggu kerja Presiden Jokowi. Tidak pernah satu kalimat pujian yang keluar dari mulut mantan ketua PP Muhammadiyah kelahiran Sumbawa, 31 Agustus 1958 ini. Selurus dan sebaik apapun Presiden Jokowi mengambil kebijakan selalu mendapat kritikan yang cukup tajam. Namun karena kritikannya tidak pernah esensial dan selalu beraura menjatuhkan, akhirnya publik semakin paham apa maksud dibalik semuanya.

Sebelumnya bersama Amien Rais seniornya, Din Syamsudin berusaha menggugat Perppu tentang corona di Mahkamah Konstitusi. Namun seperti kita tahu usaha mereka gagal total. Dan terakhir Din Syamsudin memprovokasi masyarakat dalam webinar Mahutama dengan mengatakan bahwa Presiden Jokowi telah memenuhi syarat untuk dimakzulkan. Suatu provokasi yang sangat tidak etis di tengah kondisi bangsa yang sedang serius menghadapi pandemi Covid-19. Dan alhamdulillah provokasinya seolah tertelan angin alias sama sekali tidak bergema.

Rakyat kita sudah terlalu cerdas memilih dan memilah mana suara yang perlu didengar dan mana yang harus diabaikan. Dan pada saat suara seorang yang menyandang gelar guru besar ternyata diabaikan oleh masyarakat, hal itu merupakan pukulan telak bagi kredibilitas yang bersangkutan. Dan saat ini Din Syamsudin sedang mengalami hal itu. Untuk itu saya sangat mendukung sikap sahabat saya Ade Armando yang tidak mau meminta maaf kepada Din Syamsudin. Karena memang tidak perlu dan tidak ada gunanya.

Di negara lain semua tokoh bersatu padu mendukung Pemerintah melawan pandemi corona, tapi di Indonesia ada kelompok tidak beretika yang asyik berhalusinasi mengganggu Pemerintah. Mereka manusia jenis apa ya?

Salam SATU Indonesia
04062020

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Sunday, June 7, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: