Diminta Mundur, Fahri Hamzah Mengaku Tak Berdosa

 

REDAKSIINDONESIA - Akhir Desember 2015 lalu terjadi peristiwa langka, Ketua DPR Republik Indonesia mengundurkan diri. Dia adalah Setya Novanto yang sebelumnya didesak mundur sejumlah partai dan publik gara-gara kasus 'papa minta saham' PT Freeport Indonesia. 

Usai mundurnya Novanto, kini ada lagi yang disebut-sebut santer diminta mundur dari kursi Pimpinan DPR. Orang itu adalah politisi PKS Fahri Hamzah yang diminta elite partainya untuk mundur dari kursi Wakil Ketua DPR.

"Kalau dalam konteks sekarang, agar tidak menimbulkan kegaduhan, lebih bijak DPR tidak membuat manuver yang ditafsirkan rakyat sebagai cari kekuasaan dalam kesempitan. Tapi bahwa tiap-tiap fraksi misal ingin merotasi wakil pimpinannya, itu hak fraksi masing-masing," kata Wasekjen PKS, Mardani Ali Sera, Kamis (17/12/2015).  

Entah ada hubungannya atau tidak, antara peristiwa mundurnya Novanto dengan dorongan terhadap Fahri Hamzah kini. Yang jelas, dinamika politik terkait Pimpinan DPR memang kelewat seru sejak penghujung tahun lalu. 

Setelah Novanto mundur memang Fahri Hamzah jadi sorotan. Ia dilaporkan ke MKD lantaran sewenang-wenang menonaktifkan Akbar Faizal dari MKD DPR menjelang sidang akhir kasus 'papa minta saham' Novanto. Akbar Faizal tak terima dinonaktifkan dari MKD oleh Fahri Hamzah. Akbar lantas melaporkan Fahri ke MKD, dan MKD kemudian melakukan verifikasi terhadap laporan itu. 

Fahri mengungkapkan hal itu menanggapi pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal PKS Mardani Ali Sera yang menyatakan kader partai protes terhadap sikap Fahri yang terlalu berpihak kepada bekas Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus Freeport. Bahkan, menurut dia, sebagian kader menginginkan Fahri dicopot sebagai Wakil Ketua DPR.

Mardani mengatakan, jika memang terjadi protes, tiap kader bisa mengutarakannya ke Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO) partai. Namun menurut Fahri, BPDO tidak memiliki kewenangan mengevaluasi anggota partai.

"Dalam AD/ART PKS, BPDO pasif. Bahkan, BPDO tidak mengenal kasus yang tanpa laporan. Karena itu istilah evaluasi tidak benar. Kalau ada yang mengevaluasi saya, yang mengevaluasi fraksi PKS karena saya bernaung di bawah fraksi PKS," kata Fahri.

Fahri menyayangkan sikap Mardani yang mengungkap soal evaluasi PKS kepada para kadernya ke publik. "Sekjen sudah membuka itu, jadi saya terpaksa menjawab. Saya terpaksa terbuka juga karena pertanyaan datang kepada saya secara bertubi-tubi. Padahal, ini masalah internal partai," ujarnya.

Fahri berjanji akan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan lebih detail mengenai evaluasi itu. "Sehingga lebih clear. Tidak boleh ada proses yang tidak transparan. Kami harus menjelaskan," kata Fahri. 

"Terkait permintaan mundur dari kader dan simpatisan, perlu saya jelaskan bahwa saya belum pernah menerima selembar surat apa pun dari kader PKS yang meminta saya mengundurkan diri. Hanya memang pernah ada pembicaraan pribadi dengan Ketua Majlis Syuro PKS," ujar Fahri.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri hamzah mengaku belum pernah memiliki catatan buruk selama menjadi kader Partai Keadilan Sejahtera. "Kalau saya banyak dosa kan saya tidak mungkin banyak bicara. Karena tidak ada catatan, saya tidak punya beban untuk bicara terbuka," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 11 Januari 2016.

Menanggapi hal itu, Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman bersangka baik kepada Fahri Hamzah.  Terlebih sebagai Kader PKS, tentunya Fahri memahami maksud Salim Segaf. "Saudara Fahri itu kader yang negarawan. Tidak diragukan lagi pasti memahami tertib dan aturan organisasi," kata Sohibul. Ia juga berharap Fahri tak melawan keputusan partai (kooperatif). Namun demikian, Sohibul tak menerangkah lebih jauh soal yang dianggapnya sebagai urusan internal itu.

"Saya harap dia (Fahri) kooperatif dan semoga selalu dalam kebaikan," kata Sohibul.

Fahri Hamzah seolah melawan desakan mundur dari sejumlah elite PKS sebagai wakil ketua DPR. Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nurwahid tak ingin persoalan ini berlarut-larut. 

"Ya biar sesuai harapan Fahri Hamzah kita selesaikan di internal PKS," kata Hidayat, Senin (16/1/2016) siang. Memang keluarnya curahan hati Fahri Hamzah yang seolah merasa dizalimi cukup mengagetkan. Karena selama ini tak banyak elite PKS yang buka-bukaan soal persoalan internal partai dakwah ini.

Bagi Hidayat, hal semacam ini bisa diselesaikan baik-baik. "Jadi biarlah kita selesaikan." 

 

Sumber utamadetik.comtempo.co

Monday, January 11, 2016 - 16:45
Kategori Rubrik: