Dimana Kita Saat Afi Dinistakan?

Oleh: Muhammad Shoma

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” -Pramoedya Ananta Toer

Saya adalah pelajar sekolah menengah. Berumur 15 tahun, dan izinkan saya berkisah terlebih dahulu. Siang itu saya pikir adalah hari yang biasa-biasa saja. Saat Bapak hendak berjalan menuju mobil dan membuka gagang pintu, tiba-tiba ia berkata, “Faktor yang mempengaruhi seseorang itu ada dua; bagaimana lingkungannya dan apa bacaannya.”

 

Saya tak tahu persis apa maksudnya, namun setelah saya masuk ke dalam mobil, Bapak melanjutkan, “Orang tua kalau tak membaca bisa-bisa ia kalah dengan yang muda, tetapi kalau yang muda malas membaca ia juga bisa kalah pula. Makanya, kamu harus terus membaca, agar tak kalah.”

Rupanya hal ini yang jadi alasan Bapak membebaskan buku apa yang hendak saya baca tanpa mengintervensi sekecil apa pun. Guru-guru saya di sekolah menengah kerap menegur saya dan orangtua saya, karena saya terkenal dengan bacaannya yang ‘beda dari yang lain’. Berbicara tentang buku bacaan saya yang ‘beda dari yang lain’, mau tak mau harus membuat saya bercerita tentang kejadian pada siang itu. Siang itu Bapak punya agenda bertemu dengan teman-temannya yang mengambil kuliah doktoral (S-3) di Jurusan Hukum Islam.

Bapak mengajak saya, dan tentu saja Bapak punya maksud lain, mengenalkan saya pada dunia para intelektual dengan segenap pergulatan pemikirannya. Bapak mengajak kawan-kawannya itu untuk sekadar santap siang di sebuah warung ayam goreng sembari bercakap-cakap santai. Siang itu kami semua makan dengan lahapnya hingga ada yang menambah porsi nasi. Setelah semuanya habis terlahap, mulailah Bapak memancing kawan-kawannya untuk bercakap-cakap santai.

Dari percakapan itulah, saya dimantapkan dengan langkah pemikiran saya. Salah seorang kawan Bapak, yang kebetulan seorang dosen di Lombok, bertanya kepada saya, “Biasanya buku apa yang dibaca?” Spontan saya menjawab, “Ya buku-buku pemikiran tokoh tentang ideologi, teologi, atau sastra baik klasik maupun kontemporer, itu favoritnya sih.”

Tiba-tiba, Ibu yang duduk di samping kawan Bapak itu juga ikut menjawab, “Dia sukanya buku-buku kiri, padahal sudah banyak diperingatkan sama gurunya, sudah saya larang juga, tapi dianya ngeyel,” kata Ibu dengan ekspresi seolah-olah kewalahan mengatasi saya.  Seorang kawan Bapak tersebut lantas menimpali, “Jangan, Bu. Jangan dilarang. Biarkan anak mengeksplorasi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ia pikirkan. Tidak apa membaca buku kiri, itu baik. Malahan saya baru baca Karl Marx saat kuliah S-2, tetapi anak Ibu sudah membacanya saat duduk di bangku sekolah menengah. Ya, asal diimbangi saja. Tapi lanjutkan. Dia juga sudah baca karya-karya tentang Islam juga kan?” katanya dengan mengacungkan jempol di hadapan muka saya.

Siang itu kami berbicara banyak hal. Kami membahas mulai dari KH. Wahid Hasyim yang sejak remaja sudah membaca Das Kapital, Gus Dur yang dibesarkan dalam lingkungan heterogen, Nietzsche dengan ide ‘Gott ist tot’-nya, dan komodifikasi agama sampai cara membakar ayam ala Timur Tengah. Hari itu saya nikmati sebagai hari yang luar biasa. Mungkin juga buat Bapak, karena setelah itu Bapak mengatakan, “Saya sengaja mengajak anak saya, biar bisa diskusi hal-hal yang dia suka dengan kawan-kawan saya. Saya ingin dia berpikiran Avant-garde (mendahului lainnya). Mengajak dia ke sini adalah hal yang tepat.”

Saya bisa mengatakan bahwa dari berbagai kawan saya, hanya ada satu-dua yang bisa saya ajak diskusi tentang tema-tema yang saya minati. Salah dua kawan saya yang bisa saya andalkan kemampuannya adalah Fandy dan Arka. Saya kagum kepada mereka. Mereka bisa berpikir kritis dan dapat mengejar capaian akademiknya dengan gemilang. Tidak dengan saya yang tidak pernah mencicipi peringkat sepuluh besar layaknya mereka. Saya dan Arka biasanya berdiskusi tentang teologi.

Begitu pula dengan Fandy, saya juga membicarakan teologi, namun dengan tema yang lebih luas lagi. Saya adalah orang yang totalitas. Ketika saya fokus terhadap suatu hal, tiada orang lain yang dapat mengubah fokus saya dari hal itu. Dan fokus saya adalah pada literasi serta seluk-beluknya. Ketika ada salah seorang guru yang mengatakan Pramoedya adalah seorang komunis dan karya-karyanya harus dijauhi bak barang haram nan menjijikkan, saya melawannya dengan meletakkan dua buku Pramoedya; Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan Anak Semua Bangsa di meja saya saat beliau mengajar di kelas saya. Ketika kawan-kawan saya terus tekun belajar hingga tak mempedulikan lingkungan sosialnya hanya semata untuk ‘masa depannya’, saya adalah orang yang dengan tegas melawan mereka dengan menulis artikel Pramoedya, Kesalahan Pendidikan dan Mental Pegawai Negeri. Serta masih banyak lainnya pemberontakan saya.

Baru-baru ini saya dan kawan-kawan seperjuangan seperti mendapat angin segar. Generasi perjuangan sudah berani naik gelanggang. Memang benar, sudah saatnya yang muda yang berbicara dan menyampaikan kegelisahan mereka kepada khalayak. Sehingga kegelisahan ini, yang awalnya terdiri dari barisan-barisan pertanyaan, akan berakhir dengan jawaban. Jawaban atas masalah yang terjadi. Afi Nihaya, gadis berumur 18 tahun yang lahir di Banyuwangi ini adalah salah satu bukti, dari sekian banyaknya pemuda-pemudi di Indonesia, masih ada harapan dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Walaupun kebenaran dibungkam, tiada yang kuasa menahan kebenaran.

Afi menyuarakan pendapatnya melalui Facebook.  Sudah banyak fitnah yang dilayangkan kepada Afi, sebut saja kabar hoaks yang mengatakan ada ‘orang’ yang berada di belakangnya. Ini adalah sebuah pelecehan. Sebuah penistaan, yang sungguh, saya tidak akan terima dengan ucapan seperti itu. Semalam saya baru saja membuka Facebook dan saya sontak dikejutkan dengan status seseorang yang berinisial Y.A yang menuliskan, “Dulu sempet heboh ada anak kecil umur 11 tahun asal Pakistan yang sempat dinominasikan sebagai peraih Nobel Perdamaian karena tulisan-tulisannya yang tajam, keren, menggugah, mengundang simpati, dan lain sebagainya. Eh, terntaya itu bukan 100% tulisan dia, ada orang-orang yang berkepentingan di balik dia yang menggunakan sosok anak kecil agar tulisannya ini lebih menarik perhatian ketimbang kalau yang menulis orang dewasa. Jangan tertipu lagi ya, model pembohongan publik kayak gini dari dulu sudah ada.”

Kata-kata itu tak ia pertanggungjawabkan secara penuh. Itulah yang membuat saya berang. Sudah seharusnya pemuda-pemudi Indonesia mampu berpikir kritis layaknya Afi. Bagaimanapun, sikap kritis itulah yang menyediakan pelbagai pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan membawa sederetan jawaban atas kegelisahan. Pemudi seperti Afi ini, harus terus-menerus ada, harus terus-menerus diperbanyak untuk kepentingan bersama. Pemikiran Afi yang kritis, dengan pembawaan seorang perempuan yang lemah-lembut, bisa menjadi daya tarik tersendiri pada Afi. Dan ini harus dipertahankan serta dikembangkan kepada muda-mudi lain. Sikap Afi layak diapresiasi, bukan dicaci, dimaki, difitnah, dan lain sebagainya.

Di tengah gejolak panasnya kerukunan bangsa, Afi seolah-olah menjadi oase di tengah panasnya gurun. Ia layaknya pahlawan bagi pegiat media sosial yang menawarkan kebhinnekaan sebagai pemersatu, bukannya pemecah. Dan ini yang harus diperhatikan, bisakah bangsa ini mencetak muda-mudi yang kritis? Masalahnya adalah ketika kita berpikir kritis, acap kali kita dicap sebagai ‘liberal’, ‘komunis’, atau yang paling parah ‘ateis’.

Semua itu adalah kurangnya edukasi dalam masyarakat kita. Ini adalah masalah pendidikan yang harus kita selesaikan, yang nantinya juga akan menentukan nasib bangsa ini. Karena saya yakin, nasib suatu bangsa bukan ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alamnya, namun pada sumber daya manusianya. Apakah SDM-nya unggul atau jeblok, itulah yang akan menentukan nasib bangsa kita ke depan.

Menyinggung status Facebook yang diunggah oleh seseorang yang berinisal Y.A seperti yang dikutip di atas, secara tak langsung telah merepresentasikan ‘antipati’ sebagian masyarakat dan syak wasangka terhadap sikap kritis yang seharusnya difasilitasi dengan baik. Afi dicaci namun juga dipuji. Dan ia harus tetap berjalan sesuai idealismenya, agar apa yang ia tulis, bisa menjadi saksi sejarah bahwa ia pernah bermimpi dan nantinya akan realisasikan. Seperti kisah yang saya kutip di atas, jika Afi salah menurut seseorang, jangan pernah larang ia untuk menyuarakan pendapatnya. Namun, berilah ia ruang untuk lebih mengeksplorasi gagasan-gagasannya dengan baik.

Melarang seseorang untuk menyuarakan pendapat dengan cara-cara kampungan adalah sikap yang primitif dan tak layak ia si pelaku disebut benar-benar hidup pada era keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Dengan menghujat Afi, dengan menista Afi, semakin terlihat mana pihak yang sedang dilanda ketakutan dan mana yang sedang menyuarakan kebenaran. Dan saya tahu Afi hanya menyampaikan apa adanya yang sebenarnya terjadi. Afi adalah potret muda-mudi yang berpikiran Avant-garde, yang harus kita contoh.

Kita jangan kita disibukkan dengan buku-buku pelajaran, diktat-diktat, kisi-kisi, pelajaran-pelajaran saja, namun kita harus turun gelanggang. Pelajar harus menyambut realitas sosial yang ada pada masyarakatnya dengan hal yang ia minati, setidaknya yang ia bisa. Karena sekecil apa pun kontribusi itu, anak-cucu kitalah yang akan merasakannya. Kisah saya yang telah saya tulis di atas bisa jadi sama dengan apa yang dirasakan Afi, karena menjadi kritis adalah masalah bagaimana lingkungan dan apa bacaannya yang nantinya mendukung ia untuk bergerak.

Tugas pendidikan tak selesai ketika para peserta didiknya lulus dan memberikan selembar ijazah pada setiap muridnya yang lulus, namun fungsi pendidikan akan tetap berlaku saat ia hidup dalam masyarakat. Kunci dari kesuksesan pendidikan adalah implementasi, bukan teori. Ketika sebuah pendidikan dapat membentuk seseorang menjadi kritis dan berani menyuarakan kebenaran, di situlah pendidikan dapat dikatakan sukses. Apa yang dilakukan Afi adalah pekerjaan untuk keabadian.

Dan Afi takkan hilang dari sejarah maupun dari masyarakat, karena ia menulis, karena ia menyuarakan kebenaran, ia akan selalu dikenang sebagai pahlawan kebhinnekaan. Lalu, di mana pelajar saat bangsa ini butuh kita? Di mana kita saat Afi membutuhkan kita? Kita akan terus bersuara. Karena kebhinnekaan adalah kenyataan yang tak boleh dinista. Dan jelas kita harus mendukung kebhinnekaan dan mendukung Afi. Afi tak bisa hanya berjalan sendiri seorang, ia harus kita dukung. Kita harus menyertainya. Kita harus merumuskan masalah. Kita-lah yang harus turun gelanggang.

(Sumber: Kompasiana)

Sunday, May 21, 2017 - 10:00
Kategori Rubrik: