Dimana Al Maidah 51?

Ilustrasi

Oleh : Yusuf Muhammad

Diera jaman now, dagangan yang paling laku bukanlah dagangan makanan, bukan juga pakaian, akan tetapi 'dagang agama.' Namun harus dicatat, agamanya harus yg mayoritas.

Saya pernah menulis surat terbuka untuk si Badut Politik.

Badut Politik itu adalah Amien Rais, si pendusta yang dulu ingkar janji mau jalan kaki Jogja - Jakarta jika pak Jokowi jadi Presiden. Dulu dia juga pernah menentang keras kasus penculikan aktivis yang diduga dilakukan oleh Prabowo, namun lucunya, ketika pilpres 2014 lalu si Badut justru mendukung Prabowo.

Masih teringat juga dibenak kita, ketika pilkada DKI Jakarta, Badut itu begitu semangat ceramah dari Masjid ke Masjid. Ia mengajak umat muslim untuk menolak memilih pemimpin kafir (non muslim). Ayat-ayat suci pun diobral olehnya demi mendulang suara.

Ahok dianggap kafir dan kasar, karena itu bagi umat muslim yang memilihnya dianggap haram. Ia juga heran ketika ada ulama-ulama lain, yang tidak menganggap haram jika memilih Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta.

Kini si Badut itu sedang sumringah, karena anaknya yang bernama Mumtaz Rais telah dipinang untuk dijadikan calon wakil gubernur Sumatera Utara, mendampingi JR Saragih yang kebetulan dari non muslim.

Jika JR Saragih non muslim dan Mumtaz Rais muslim, lantas dimana peran Al-Ma'idah 51? Apakah Al-Ma'idah 51 sudah tidak berlaku?

Demi sang anak, mulut si Badut itu pun tidak ceramah, "haram memilih pemimpin kafir" di Masjid. Suasana akan adem ayem, tidak akan ada juga ancaman untuk tidak mensholatkan jenazah bagi pemilih pemimpin non muslim, karena hal itu hanya berlaku bagi lawan politik (Ahok dan Jokowi).

Di tangan-tangan para politikus busuk, apapun bisa jadi halal atau haram, semuanya tergantung kepentingan.

Ah... Kalau Ahok pernah bilang, "jangan mau dibodohi pakai Al-Ma'ida 51" maka aku mau bilang, "jangan mau dibodohi pakai Badut."

Sumber : Status Facebook Yusuf Muhammad

Monday, November 13, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: