Diisyaratkan Kelebihan Pembayaran Utang Tak Selalu Riba

ilustrasi

Oleh : Zulfikar Matin Efendi

Ada satu diskusi, dimana dikatakan, kelebihan yg dipersyaratkan diawal dari utang bukanlah selalu riba. Dengan alasan prinsip keadilan. Bahwa terjadinya inflasi/deflasi dimasa depan. Misal: pinjam uang 1juta tahun ini, janji dibayarkan 25 tahun lagi, dimana nilai 1juta nanti dipercaya sudah sangat terdegradasi, maka boleh dipersyaratkan diawal hitungan tambahannya. Dalam rangka mencapai RASA ADIL.

Baik. Kita bahas poin per poin:
    1. Hutang adalah akad tolong menolong atau mencari pahala. Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallâhu 'anhu, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu 'anhuma, bahwasanya mereka melarang dari utang piutang yang ditarik keuntungan, karena utang piutang adalah bersifat SOSIAL, ingin cari pahala. Jika di dalamnya disengaja mencari keuntungan, maka sudah keluar dari konteks tujuan (hutang piutang). Tambahan tersebut bisa jadi tambahan dana atau manfaat.” (Al-Mughni, 6: 436).

    2. Bagaimana nilainya yg tergerus inflasi? Itulah kesalahan penggunaan uang fiat, yg sama-sama diketahui keburukan penjagaan nilainya. Apa solusinya? Ya lakukan hutang piutang jangka panjang dengan komoditas yg diketahui terjaga nilainya, misal: daripada berakad utang piutang uang rupiah 10jt utk tempo 10 tahun, akadkan saja berutang piutang dengan emas LM 100 gram selama 10 tahun. 

Dikatakan lagi: Tapi penerapan bunga di depan, bermanfaat utk menjadi barrier buat manusia-manusia dengan moral hazard yg akan malas bayar utang. 

Nggak. Bunga yg disyaratkan sebesar apapun di depan utang, tidak akan mencegah para pengemplang utang utk kabur, JIKA memang diketahui penegakan konsekuensinya lemah. Maka solusi utk para debitor bermasalah adalah "adakan instrumen penagihan dan penegakan hukum yg jelas". 

    3. Tapi hadits كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ حَرَامٌ dikritik keabsahan PERIWAYATANNYA. Gak bisa jadi dasar hukum! Baik. Tapi dari jalur lain, kalimat ini ada yg mauquf sampe sahabat Abdullah bin Salam radhiyallâhu 'anhu. Artinya, ada sahabat sebagai generasi terbaik islam yg berpendapat demikian. 

Kemudian dikatakan, "tetap saja belum terbukti sampai ke Rasulullah shallallahu' alayhi wasallam". Baik. Tapi tercapai ijma' dengan konteks yg sama. Jangan lupa, ijma' adalah sumber hukum ketiga setelah alquran dan sunnah. Siapa yg bilang hal tersebut tercapai ijma? Ibnu Qudamah dan Ibnul Mundzir rahimahumallah. Ibnul Mundzir wafat 317 H. Ibnu qudamah wafat 620 H. 

Tapi para ulama tidak ma'shum! Benar. Tapi ijma' para ulama-lah yg ma'shum. Ibnu katsir rahimahullah bilang, "Jika telah diketahui bahwa mereka (para mujtahid) bersepakat dalam suatu hal, maka dalam kesepakatan itu ada al ishmah, yaitu kemustahilan dari kesalahan." 

Maka utk menolak hal ini 'bukan ijma', haruslah didatangkan  perkataan ulama lain yg membantahnya dari yg semasa atau dari masa sebelumnya. Adapun penyelisihan SETELAH tercapainya ijma', adalah tertolak. Ini pentingnya mengetahui life-timeline para ulama rujukan. 

    4. Bagaimana dengan hadits Abu Raafi' Radiyallahu anhu? Dalam hadits Abu Raafi’ Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam pernah meminjam unta yang masih kecil. Kemudian ada unta ZAKAT yg diajukan sebagai pembayaran utang. Nabi lantas menyuruh Abu Raafi’ untuk mengganti unta muda yg dahulu beliau pinjam. Abu Raafi’ menjawab, “Tidak ada unta sebagai gantian kecuali unta yang terbaik (maksudnya, yg ada hanyalah unta2 yg lebih dewasa, tak ada unta muda yg sama usia dgn unta yg dahulu dipinjam nabi).” Maka Nabi shallallahu ‘alayahi wasallam kemudian menjawab, 
أَعْطُوهُ فَإِنَّ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ أَحْسَنَهُمْ قَضَاء
“Berikan saja (unta terbaik tersebut) padanya. Ingatlah, sebaik-baik orang adalah yang baik dalam melunasi utangnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Nah, untuk mengukur KONSISTENSI ijma' diatas yg terlihat bertentangan dengan hadits ini, para ulama juga sudah menjelaskannya. 

Ibnu Qudamah berkata, “Maka, jika meminjamkan begitu saja tanpa disyaratkan DIAWAL (ttg syarat penambahan atas utang), kemudian dilunasi dengan yg lebih baik, yakni dilunasi dengan jumlah berlebih atau dengan sifat yg lebih baik, maka itu BOLEH, dengan saling ridha keduanya (bukan paksaan).”

Konsisten gak? Ya, teuteup. 
يَجِبُ تَقْيِيْدُ اللَّفْظِ بِمُلحَقَاتِهِ مِنْ وَصْفٍ، أَوْشَرْطِ، أَوِاسْتِشْنَاءٍ، أَوْ غَيْرِهَامِنَ الْقُيُوْدِ 

Wajib mengaitkan perkataan dengan hal-hal yg mengikatnya, seperti: sifat-sifat, syarat, pengecualian atau pengikat lainnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata ttg kaidah fiqh ini, 
وخَصِّصِ العامَّ بخاصٍّ وَرَدَا، كقَيْدِ مطلقٍ بما قد قُيِّدَا
“Khususkanlah lafadz yang umum menjadi khusus, kalau datang lafadz yang khusus, seperti mengikat sesuatu yang mutlak apabila datang hal yang mengikatnya.”

Maka simpulannya:

A. Utang piutang dalam islam, gak-bisa-nggak adalah muamalah sosial, tolong menolong. Bukan muamalah cari untung. Gak wajib lho buat nolong,, kalau mau, ya tolong.. Kalau ogah dan takut dengan moral hazard manusia zaman ini, ya gak usah memberi pertolongan lewat muamalah yg ini. Ingat, utang piutang adalah muamalah yg PASTI LUNAS, baik di dunia, ataupun di akhirat. Tapi pasti lunas! Jangan khawatir.

B. Kaidah "setiap utang yg mendatangkan manfaat/kelebihan (bagi pemberi utang) adalah riba" adalah kaidah umum, yg harus diterapkan secara umum. Pengecualian atas lafadz yg umum jatuh pada perkara-perkara yg khusus dengan memerlukan batasan dalil yg khusus. Misalnya seperti adanya kelebihan dalam pengembalian selama TIDAK disyaratkan/diminta oleh si pemberi utang di awal, maka bukanlah bagian dari riba.

C. Kaidah "setiap utang yg mendatangkan manfaat/kelebihan (bagi pemberi utang) adalah riba" telah tercapai ijma', maka dia VALID sebagai hujjah. Penyelisihan setelah tercapainya ijma', adalah tertolak.

D. Suatu masalah tidak bisa dipecahkan dengan masalah yg lain. Misal, value hutang yg dikhawatirkan terdegradasi oleh inflasi, solusinya bukanlah penerapan bunga/interest. Kaidah fiqh berkata:
العَدْلُ وَاجِبٌ فِي كُلِّ شَيْءِ وَالْفَضْلُ مَسْنُوْنٌ
 
Al-‘Adl (Keadilan) Itu Wajib Atas Segala Sesuatu Dan Al-Fadhl (Tambahan) Itu Sunnah. 

Kata para ulama, jika si debitor dalam keadaan sulit, dan beneran tidak mampu melunasi setelah jatuhnya tempo, maka memberinya penangguhan adalah sikap 'Aadil. Adapun jika si pemberi hutang mengikhlaskannya dan menjadikannya sodaqoh, inilah sikap al-Fadhl (keutamaan). 

See? Adil tidak selalu berarti sama rata, kan? 

E. Carilah keuntungan dengan albay'a, atau jual beli, tijarah. Jangan cari untung dari utang piutang. Karena begitu samarnya antara riba dan albay'a, makanya Allah menyandingkannya dan memberikan peringatan.
 ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ 
وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وََحرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ 
"..... Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (Al-Baqarah, Ayat 275)

F. Jangan takut rugi, atau takut terdhalimi dalam pasal utang piutang. Utang piutang adalah muamalah sosial yg PASTI LUNAS. Kalau gak lunas di dunia, pasti lunas di akhirat. Dan unsur ukhrowi dalam muamalah dunia, tidak bisa dipisahkan bagi seorang muslim.

Semoga Allah hindarkan kita dari riba dan debu-debunya.

Semoga bermanfaat

Sumber : Status Facebook Zulfikar Matin Efendi

Wednesday, April 7, 2021 - 11:00
Kategori Rubrik: