Die Hard Menuju RI 1

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Dalam acara hari jadi, Gerindra meneriakan issue Pribumi memancing emosi umat islam yang dianggap korban ketidak adilan ekonomi. Sebelumnya petinggi Gerindra meneriakan issue PKI dan Aseng. Terakhir meneriak-kan revolusi Putih. Gerindra lewat FZ yang bertindank sebagai corong. Dan ini disambut oleh pasukan cyber yang memviralkan issue tersebut. Seakan FZ menjadi pabrik yang memproduksi amunisi bagi pasukan cyber untuk melempar issue ini ke semua follows menjadi kampanye kebencian kepada Pemerintah Jokowi. Kalau dulu PS masih punya uang banyak untuk beriklan di media massa dan media elektronik. Tapi kini mungkin karena uang udah cekak maka dia gunakan Pahe ( paket hemat ) membangun aliansi dengan PKS yang punya pasukan cyber para pengangguran yang mau dibayar murah. Maka jadilah kampanye murah meriah.

PS untuk jadi presiden hanya bermodalkan ambisi. Tidak ada prestasi nyata yang bisa membuat orang terinspirasi mengikutinya, Padahal PS pernah memimpin HKTI. Tapi tidak nampak dia tampil digaris depan memperjuangkan kepada SBY agar janji kampanye SBY membagikan tanah kepada Petani ditunaikan. Tidak nampak dia memperjuangkan nasip nelayan yang terpuruk akibat penjarahan ikan di peraian indonesia oleh kapal asing. Barulah di era Jokowi , setelah dia tidak lagi sebagai ketua HKTI, Jokowi mentunaikan program pembagian lahan kepada petani sebanyak 9 juta hektar dan menegakkan kedaulan indonesia di laut dengan membakar dan menenggelamkan kapal asing yang masuk perairan Indonesia mencuri ikan. Kini nelayan makmur dan angka produksi serta nilai tambah nelayan terus meningkat.

 

 

Ketika dia sebagai Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, tidak nampak PS memperjuangkan kepada pemerintah SBY agar ada anggaran revitalisasi pasar tradisional dan memastikan tidak ada lagi pedagang yang menggelar kaki lima. Kalau uang beriklan dirinya dia alihkan menjadi filantropi membangun pasar tradisional dengan pola bagi hasil atau sewa pakai, namanya akan melambung secara nasional. Lihatlah contoh Jokowi, hanya beberapa pasar yang berhasil dia bangun di Solo, telah melambungkan namanya ketingkat nasional sehingga mudah menang di Pilkada DKI dan akhirnya menang Pilpres. Justru di era Jokowi, anggaran program revitalisasi pasar diadakan sebanyak 5000 pasar selama lima tahun. Sekarang sedang berlangsung. Nama jokowi melekat di kalangan pedagang.

Karena miskin prestasi itulah akhirnya Musyawarah Nasional VII HKTI No 8 Tahun 2010 memilih Oesman Sapta sebagai Ketua Umum HKTI dan Sahala Beny Pasaribu sebagai Sekretaris Jendera. Tapi PS ngotot menolak keputusan MUNAS itu dan tetap membentuk pengurus HKTI bentukannya sendiri. Akibatnya ada dua pengurus HKTI yang berujung sengketa. Namun pemerintah melalui putusan Kementerian Hukum dan HAM No AHU-14.AHO 1.06. Tahun 2011 yang diperkuat oleh Akta Pernyataan Keputusan Musyawarah Nasional menyatakan pengurus syah HKTI adalah Oesman Sapta. Keputusan Mahkamah Agung No 310 /K/TUN/2012 yang telah berkekuatan hukum tetap, bahwa HKTI dibawah PS tidak syah. Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia ( APPSI ) kini seakan menjadi milik keluarga PS dan dia tentukan sendiri pengurus dimana kini Sandiuga Uno sebagai ketua Umum. Andaikan APPSI sama dengan HKTI di mana demokrasi hidup maka dipastikan PS akan juga tersingkir.

Banyak pihak dan sahabat yang tadinya dekat dengan PS , akhirnya menjauh. Mengapa ? hampir semua ketika saya tanya bahwa mereka tidak suka sikap PS yang terkesan tempramental dan punya ambisi berlebihan sehingga akal sehat hilang. Ambisi ini karena PS masih terobsesi hidup bergaya feodal dan menjadi presiden baginya adalah menjadi Raja. Makanya jangan kaget bila dia bisa saja seenaknya ngomong dihadapan wartawan, “ Gaji kalian juga kecil, kan? Kelihatan dari muka kalian. Muka kalian kelihatan enggak belanja di mal. Betul ya? Jujur, jujur, Dihadapan buruh dia berkata “ Jadi Kuli Saja Indonesia Kalah Saing. Itu semua kata yang biasa diucapkan oleh bermental feodal. Karena mental feodal pula dia bisa merendah dengan memuji orang yang lebih tinggi strata sosialnya dari dia ,seperti dengan Ical, HT, dan terakhir dengan Jokowi.

Orang yang mentalnya tidak stabil secara emosi dan punya ambisi besar ingin jadi raja, maka silahkan nilai sendiri apakah dia pantas menjadi bapak bagi 250 juta lebih rakyat yang pluralis. Sebetulnya momentum sebagai Ketua Umum HKTI kalau dia manfaatkan dengan baik, maka itu adalah cara dia menunjukan kelasnya sebagai pemimpin berkaliber nasional yang dekat dengan rakyat kecil. Tapi momentum itu tidak dia manfaatkan. Bahkan semakin menampilkan sikapnya yang anti demokrasi dengan membuat pengurus tandingan karena kalah dalam Munas. Yang pasti , PS bersama Gerindra akan die hard untuk menjadi pemenang. Tentu apapun akan dia korbankan dan halalkan. Bagi PS dan Gerindra, tahun 2019 Pemilu adalah NOW OR NEVER.

 

(Sumber: Facebook Erizeli Bandaro)

 

Monday, October 30, 2017 - 23:15
Kategori Rubrik: