Didi Kempot, Mengenang Kepergian

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Untuk Sebuah Negeri yang Telah Lama Mencoba Dihilangkan dari Ingatan Namun Selalu Tak Dapat Dilupakan

Tafsir metafisis lirik lagu Sewu Kuto

(Endonesah, entah sudah bagaimana aku memanggil namamu semenjak Ruh-mu seperti telah lama pergi. Seperti pergi menghilang ditelan bumi. Kau bukan lagi Indonesia yang dimaksud para pendiri. Kepergianmu entah kemana harus kutanyakan. Keberadaanmu entah siapa yang dapat menjelaskan. Sampai ku datangi seluruh kota untuk bertanya : apa Indonesia masih ada ? Bagimana Pancasila diperlakukan ? Amanat Penderitaan Rakyat di junjung apa diinjak-injak ? Tapi semua acuh. Semua menggelengkan kepala. Tak tahu masalahnya. Ebit bilang : tanya saja pada suket teki yang bergoyang.
Kemana perginya Indonesia yang dicita-citakan. Sampai kuhabiskan waktu 53 tahun mencari jawab kemana dan kenapa Ruh Indonesia hilang dari kita ? Tapi tetap aku tak menemukan jawabannya.)

Sewo kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi
Pirang tahun anggonku nggoleki
Seprene durung biso nemoni

(Semua berita tenggelam dalam Vovid-19 tapi tidak untuk kepergian Didi Kempot. Seniman yang hendak menghapus nama itu dari hatinya seperti rakyat yang hancur juga pengin menghapus nama itu juga dari hati mereka. Tapi ia tak dapat menipu dirinya sendiri bahwa rasa cinta itu masih ada. Bagaimana tak hancur hati rakyat ini. Dulu ketika penderitaan itu disebabkan oleh Belanda yang menjajah, memang mereka orang seberang yang hendak mencari harta. Ketika Japang mengambil paksa hasil panen dan anak perempuan, mereka orang seberang yang mengagungkan keserakahan. Tapi ketika yang melakukan itu adalah dari bangsa sendiri, bagaimana sakitnya hati ini. Untung ada Didi seniman menyediakan penampungan untuk segala hati yang hancur, teriris tipis perih. Yang lebih memberatkan lagi adalah realitas cinta ini tak juga bisa kunjung pergi meski jutaan sayatan penghianatan terjadi berulang-ulang kali timpal menimpali bertubi-tubi)

Wis tak coba
Nglaliake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu

(Jika suatu saat nanti nama itu berkibar terkenal di penjuru dunia. Menjadi negara yang maju dan disegani oleh kawan dan lawan. Negara yang menjadi pusat energi terbarukan dengan hamparan deposit litium yang melimpah. Seluruh bangsa di dunia menaruh hormat. Seluruh dunia terbelalak dan terpesona oleh kemuliaanmu. Aku rela. Hanya satu saja permintaanku, temuilah penderitaan rakyatmu jangan sampai ada satu tersisa yang masih menderita. Meski pertemuan itu hanya sebentar. Itulah obat bagi jiwa bangsa Indonesia yang senantiasa menggetarkan dada)

Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan wektumu mung sedhela
Kanggo tombo kangen jroning dodo

(Kucoba lagi untuk melupakan
Dan terus kucoba lagi
berulang-ulang kali
Agar terbuang nama dan semua tentangnya dari dalam jiwa
tapi selalu tak pernah bisa)

Wis tak coba
Nglaliake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu…

Kekuatan syair Didi adalah jiwa senimannya yang hidup hiduri sehingga mampu merasakan getaran jiwa bangsa yang sedang tercederai (cidro). Pembangunan melulu fisik dari hasil pajak dan utang (nanti rakyat yang bayar) membuat jiwa bangsa Indonesia kering kerontang. Yang tumbuh adalah gulma yang ternak saja tak mau.makan, yakni suket Teki. Bangsa ini meninggalkan jati dirinya gotong royong. Menjadi orang lain hidup sendiri-sendiri, individual dengan rumah bertembok tinggi di kota beaar, lengkap dengan anjing galak. Ambyar. Semua ini tak membuat sang seniman menyerah. Ia rangkul dalam Sobat Ambyar.

Angkringan Filsafat Pamcasila

Sumber : Status facebook Abdul Munib

Friday, May 8, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: