Dibohongi (Lagi) Pakai Prabowo

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Menurut penelusuran SILIT (Saluran Internasional Langsung Ilmu Telepati), SBY yang ahli strategi mampu membaca skenario tiga poros yang akan dimainkan oleh Jokowi melalui Muhaimin. Berdasarkan kalkulasi politik yang dilakukan Cikeas, skenario ini tidak menguntungkan mereka. Karena hal yang sama pernah terjadi di Pilkada DKI 2017. Maka dari itu, merapat ke kubu Prabowo adalah satu-satunya jalan karena kubu Jokowi telah menutup pintu.

Realitas dinamika politik yang memang mengharuskan terjadinya dua poros ini juga yang merubah kalkulasi politik Jokowi dalam memilih Cawapres untuk menjaga soliditas partai koalisi pengusungnya. Makanya diusungnya Ma'ruf Amien terjadi pada saat injury time.

SBY sempat menawarkan "kompensasi" agar PAN dan PKS juga merekomendasikan AHY sebagai Cawapres Prabowo. Sedangkan Prabowo membaca hal ini sebagai langkah catur dari SBY untuk mengambil alih nahkoda koalisi karena "kompensasi" akan diberikan secara bertahap kepada PAN dan PKS hingga hari H pemilihan. Prabowo langsung meiakukan intercept atas strategi Cikeas dengan aksi borong melalui Sandi dengan kompensasi yang sama namun dengan format lebih baik dari yang ditawarkan Cikeas.

Dan ternyata Sang Ahli Strategi masih kalah juga oleh Prabowo. SBY akhirnya melempar handuk dalam keadaan dilematis dan terjepit. Satu-satunya pilihan adalah mendukung Prabowo-Sandi untuk menyelamatkan Demokrat sebagai kendaraan AHY pada 2024. Lagi-lagi, SBY telah dibohongi "pakai" Prabowo. Pun SBY juga merasa masih akan dibohongi lagi, lagi dan lagi. Makanya dia gak tampil di TV saat Demokrat menyatakan bergabung dalam koalisi. Yaah.., apa boleh buat. Tapi sekali lagi ini cuma SILIT. Bisa benar bisa salah. Boleh percaya dan boleh tidak!

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=608420356218496&id=100011516113440

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, August 11, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: