Dibodohi Pakai Kemunafikan

Oleh: Budi Setiawan
 

Sekatan jitu polisi memisahkan kelompok provokator politik dengan kelompok anti penistaan agama membuat terang benderang siapa yang munafik. Mana kala pertemuan pak Jokowi dan pak Prabowo mempersempit ruang gerak actor politik, maka kelompok lain memperlihatkan wajah kemunafikan mereka yang sebenarnya.

Tadinya mereka sepakat patuh mengikuti proses hukum yang berlaku. Namun mereka membalikkan lidahnya menuntut Ahok ditahan dan menuding pak Jokowi menistakan ulama. Ajakan palsu 25 November dan 2 Desember nanti jelas ditujukan untuk menggoyang pemerintahan dengan mempergunakan jubah bela Islam seperti yang kita duga sebelumnya

Mereka yang munafik penggerak ajakan itu kaya raya meski tidak bekerja punya banyak uang yang mampu menggerakkan orang-orang miskin. Dengan janji surga mereka membujuk orang yang hidupnya pas-pasan agar bersedia terus menerus berada di garis depan dan menjadi tameng manusia niatan mereka dengan imbalan seadanya —jka tidak uang maka sebungkus nasi dan air botolan.

Pemanfaatan orang-orang miskin yang masih harus bergulat dengan kehiidupannya juga nampak dari gerakan ajakan tarik uang massal yang sama sekali ngawur. Lihatlah data dibawah ini betapa mereka yang munafik berjubah agama dan kara raya itu memanfaatkan sebagian umat Islam yang hanya bergaji 3,7 juta perbulan.

Data Bank Mandiri menunjukkan bahwa dari250 juta rakyat Indonesia, hanya 60 juta orang saja yang punya rekening di bank. Dari jumlah itu, rata-rata orang Indonesia punya 2 ATM. Tahun 2015 kemarin telah diterbitkan 121,1 juta kartu ATM. Nilai transaksi tahun 2015 mencapai 4000 trilyun dengan jumlah tranksasi mencapai 4 milyar kali.

Namun besarnya transaksi ini tidak sebanding dengan kebiasaan orang Indonesia menyimpan uangnya di bank. Data untuk menunjukkan rata-rata uang yang ditabung orang Indonesia hanya 355 ribu perbulan. Mengapa demikian? Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan ini disebabkan karena orang Indonesia lebih suka belanja menghabiskan uangnya ketimbang menabung.

Rendahnya menabung ini mungin terkait dengan pendapatan perkapita kita. Tahun 2015, GNP kita cuma 45,18 juta pertahun atau rata-rata gaji orang Indonesia cuma 3,7 juta saja perbulan. Ini menunjukkan bahwa kehidupan sebagian besar rakyat ini masih berat.

Sesuai data BPS, ini disebabkan karena dari 250 juta penduduk hanya 120 juta saja yang bekerja. Jadi satu orang yang bekerja dengan gaji 3,7 juta setidaknya harus menanggung 1 orang. Rekening bank mereka cuma terminal uang numpang lewat untuk bayar tagihan macam-macam dan sisanya hanya sedikit.

Dan mereka yang hidupnya susah itu sebagian besar adalah umat Muslim yang jumlahnya 212 juta atau 85 persen penduduk Indonesia. Mereka inilah yang seharusnya diberdayakan secara ekonomi agar harkat martabat mereka meningkat. Agar mereka bisa beramal dan berzakat lebih dari 2,5 persen. Agar mereka bisa menyantuni guru-guru ngaji yang selama ini dibayar seadanya bahkan seenaknya. Bukan didorong-dorong menjadi demonstran dan bertingkah ala preman.

Dari data ini, jelas bahwa mereka yang berduit memakai jubah agama dengan sangat sadar memanfaatkan sebagian umat muslim yang miskin sebagai perisai manusia untuk tujuan-tujuan politiknya. Mereka melakukan program cuci otak dan memberdayakan kaum miskin agar bersedia “membunuh kehidupannya sendiri” lewat program “endok teri nasi” dengan slogan bela Islam.

Mereka yang berjubah agama dan kaya raya—bahkan ada yang mendirikan sekolah di Suriah tapi buta dengan kemelaratan disekitar mereka—memanfaatkan orang-orang kecil untuk rela terkulai dan luka ketika bentrokan terjadi, sementara pentolannya sudah lari duluan.

Sungguh kasihan mereka yang terjebak dalam konsep jihad ini. Karena ,ika pun tidak terluka, sebagian besar pengunjuk rasa kembali kerumahnya dan sadar kembali bahwa nasi di meja tidak ada. Anak2 mereka tidur dalam keadaan lapar. Sementara isrinya melihat dengan mata kosong melihat suaminya pulang dengan wajah belepotan odol .

Parahnya sang suami menyakinkan sang isri yang wajahnya lebih tua dari umurnya bahwa tidak mengapa susah hidup didunia, nanti bahagia di akhirat karena kita bela agama. Kata ustad nganu atau ulama itu..

Sebuah fenomena syiar Islam yang ngawur dari kelompok munafik berjubah agama. Teganya mereka menjajakan janji palsu sebuah kunci surga kepada pengikut mereka yang miskin dan papa agar terus menerus berdemo dijalanan dan kepanasan. Sementara keluarga mereka dirumah terus kelaparan.

Nauzubillah min zalik

 

(Sumber: Status Facebook Budi Setiawan)

Saturday, November 19, 2016 - 15:45
Kategori Rubrik: