Dibalik Tangisan "Bombay" Deddy Mizwar"

Ilustrasi

Oleh : Josef H Wenas

Ada yang hal sama antara drama “Tangisan Deddy Mizwar” yang dicemooh banyak orang belakangan ini, dengan lagu-lagu dangdut semacam “Hamil Sama Setan” (Ade Farlan), “Paling Suka 69” (Julia Perez), “Wanita Lubang Buaya” (Mirnawati), “Mobil Bergoyang” (Asep Rumpi dan Lia MJ), “Hamil Duluan” (Tuty Wibowo).

Dalam bahasa dagang mereka semua berbicara kepada pasar yang sama. Sedangkan dalam bahasa politik, konstituen yang sama.

Lagu-lagu yang disebutkan itu adalah beberapa diantara tiga belas yang baru-baru ini dilarang oleh KPID Jawa Barat atas alasan “degradasi moralitas” sehubungan dengan konten pornografi. Alasan yang masuk akal bagi siapapun yang mengamati teks, grafis maupun video terkait, dan memang merasakan somewhere ada yang cenut-cenut.

Tetapi ada paradoks yang menarik. Radio Rama FM di Bandung bersaksi bahwa permintaan pemutaran lagu-lagu yang dilarang itu justru meningkat dalam dua hari kemudian. Dan paradoks ini mau menjelaskan apa makna “Tangisan Deddy Mizwar” sebetulnya.

Ada segmentasi budaya dalam komunitas-komunitas di zona rural yang menikmati “romantika kehidupan” mereka diluar yang bisa dipahami budaya kaum intelek di berbagai komunitas zona urban. Dan tidak ada yang hitam putih, selalu ada enclaves atau kantong-kantong rural semacam ini di zona urban. Walaupun, barangkali, sama-sama pernah “hamil duluan”, namun rasa, pemahaman, nilai yang dianut berbeda diantara kedua kelas sosial itu.

Sebutlah yang satu “komunitas sentral”, yang lainnya “komunitas periferal”. Yang satu mengumpat kalau pilihan warna uniform Partai Idaman itu kampungan. Yang lain bilang itu keren, akrab karena dekat dengan masalah sehari-hari soal perut, diasosiasikan dengan kecap Bangau yang setia menemani nasi dari sarapan sampai makan malam, tujuh hari seminggu.

Bukankah warna mobil F1 Rio Haryanto juga diasosiasikan dengan kelas rural yang hidup di kantong-kantong zona urban? Padahal orang-orang Manor Racing sudah menggunakan konsultan, tetap saja katanya norak seperti Metro Mini, yang jadi moda transportasi utama “komunitas periferal” ini.

Sekarang ini menjelang Ramadhan 2016, Deddy Mizwar yang sudah menjadi icon di macam-macam stasiun TV setiap bulan Ramadhan, tentu tidaklah bodoh. Seperti halnya Rhoma Irama, Deddy tahu kepada siapa dia menyampaikan pesan cengeng-nya, atau pesan norak-nya itu. Manuver Muhaimin Iskandar yang memanfaatkan Rhoma Irama pada Pemilu 2014 bisa menjadi insipirasi Deddy. Apa yang dilakukan Muhaiman itu bukannya tanpa hasil di tingkat grass root “komunitas periferal” Nahdlatul Ulama, terutama di wilayah seperti “Tapal Kuda”. Dalam Pemilu 2014, PKB meraih 9,3% suara nasional, menunjukkan prestasi kenaikan suara hampir 5% dibanding Pemilu 2009 yang hanya 4,9%.

PPP pasti masih ingat penurunan suara drastis di Pemilu 1987 menjadi hanya15% suara nasional dibandingkan Pemilu 1982 yang 26%. Memang, keluarnya NU dari PPP adalah sebab utama, namun pindahnya jurkam Rhoma Irama ke Golkar tidak bisa dikecilkan perannya.

Deddy Mizwar tentu sudah melihat ada masalah dengan konstituen PKS. Strategi “gerakan Tarbiyah”, yang pernah sukses di awal dekade 2000-an, sudah menunjukkan kemandulan. Di mata mayoritas swing voters yang Nasionalis, semakin hari semakin merasa curiga adanya agenda Khilafah Islamiyah yang mau mengganti NKRI, maka modal politik partai ini juga mengalami tren penurunan. Pada Pemilu 2009 masih memiliki 7,8% suara nasional, menjadi 6,9% pada Pemilu 2014.

Ada spekulasi kuat— maka menarik untuk diteliti— bahwa pesan-pesan seperti “tokoh militer”, atau “neo-Pangeran Diponegoro”, dalam konteks dialektika yang berbau fasis seperti “ancaman kedaulatan”, “ancaman asing”, dan ”ancaman komunisme”, seperti yang dipraktikan Prabowo Subianto di Pemilu 2014 juga ternyata laku dibeli oleh “komunitas periferal” ini. Pesan-pesan semacam ini tidak menimbulkan perselisihan diantara “kaum abangan” maupun “kaum santri” dalam konsepsi Clifford Geertz. Gerindra malah mengalami kenaikan lebih hebat dari PKB, sekitar 7% suara nasional, dari 4,4% di 2009 menjadi 11,8% di 2014.

Barangkali Rob Allyn yang selain pernah menyutradarai film-film seperti “Java Heat”, “Merah Putih” dan “Hati Merdeka”, juga pernah menjadi spin doctor Presiden Vincente Fox di Meksiko tahun 2000, bisa menjadi nara sumber yang kredibel tentang kampanye Prabowo Subianto di Pemilu 2014 lalu— yang harus diakui cukup berhasil menggerus elektabilitas Joko Widodo saat itu.

Jadi, apakah itu “tangisan Reklamasi” atau “teriakan Komunisme” dibaliknya ada naluri untuk menguasai. Apalagi ada keahlian counter insurgency yang menganggur dari beberapa pensiunan jenderal bintang dua atau bintang tiga yang kebetulan sedang mengalami krisis moral dan identitas. Dari mereka, dan orang-orang semacam Allyn, kita sudah belajar strategi pecah belah dibalik kampanye “Capres Boneka Suka Ingkar Janji”, “Disandera Cukong dan Misionaris” , “Dari Solo Sampai Jakarta Deislamisasi”. Dan banyak lagi versi semacam ini mulai tahun 2017 nanti. — Yogyakarta, 25 Mei 2016

Kompasiana

Thursday, May 26, 2016 - 17:00
Kategori Rubrik: