Dibalik Apesnya Densi Dibaperin Kaum Supen

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Narasi sebuah berita sudah dianggap seperti sayur tanpa garam jika tidak dilengkapi dengan ilustrasi ataupun gambar. Tapi apakah sayur itu tidak bisa dimakan tanpa garam? Tentu bisa, meski kurang maknyus. Begitu pun sebuah berita juga banyak yang tanpa disertai gambar. Sebuah gambar selain efect eye catching dalam pemberitaan, juga biasanya merupakan fakta yang menyertainya.

No pict is hoax, begitu sekarang pesan warganet di medsos. Mungkin benar, karena setiap orang dapat saja membuat narasi. Contoh, kemarin anak-anak atau siswa mengerjakan ujian online (termasuk anak saya). Bisa saja siswa mengatakan kepada gurunya sedang di rumah mengerjakan soal ujian. Padahal siswa itu berada di rumah temannya dan sedang garap soal bareng. Tentu hal tersebut dilarang.

Jadi, bisa saja setiap siapapun menulis sebuah artikel (entah itu berita ataupun opini), namun belum terbukti jika tidak disertai gambarnya. Orang akan dianggap hanya mengarang saja. Begitupun, ada pula yang menggunakan gambar sebagai semacam aksesoris pemanis saja. Kadang sengaja dicari yang mendekati maksud dari konten, sehingga gambar bisa berasal dari mana saja. Artinya bukan menggambarkan konten yang dimaksud.

Bahkan sebuah gambar berita (postingan juga bisa), tidak ada kaitan sama sekali dengan konten. Yang perlu dijaga terkait dengan kaedah jurnalistik ada beberapa soal. Pertama soal validitas, aslikah gambar tersebut atau editan? Kedua, jelaslah sumbernya dari mana? Dan, ketiga, layakkah ditampilkan kepada publik? Ketiga hal ini akan menjadi perhatian penting bagi mereka yang memahami dunia kemediaan.

Apa maksudnya? Tulisan beserta gambar yang ditampilkan dapat berkonsekuensi hukum. Yang membaca jika tidak berkenan memiliki hak untuk menjawab. Namun dunia online diatur dalam UU ITE, artinya, jika dianggap memenuhi unsur menyebar kebencian, provokasi, kekerasan visual dan ataupun hoax, maka dapat dilaporkan dan berproses hukum. Berbeda dengan media cetak, setiap tulisan memang tidak dapat dikriminalkan, melainkan pembaca yang tidak terima akan diberi hak jawab.

Pembaca diberi ruang atau space dalam pemberitaan di media cetak tersebut. Kasus Densi yang dilaporkan oleh masyarakat adalah sebuah proses pengaduan biasa, bukan hal yang aneh. Pelapor mengatakan tidak terima Densi memasang foto anak-anak (yang nota bene muslim) dan dinarasikan sebagai adik-adik calon teroris (kontennya). Meski Densi sudah menjelaskan bahwa itu sekadar ilustrasi yang sama sekali tidak terkait dengan konten yang dituliskan.

Di sinilah perlunya kejelian, ketelitian bahkan kehati-hatian bagi penulis. Pekerjaan seorang penulis bukan berarti tanpa resiko, apalagi sudah memasuki ranah publik dan juga di media sosial pula. Densi is my bro. Jadi ini bukan soal politik. Saya sekadar menyampaikan dari sudut pandang jurnalis. Intinya, apapun yang kita lakukan (dalam hal ini menulis), maka harus siap mempertanggung-jawabkannya. Densi tinggal memberi keterangan saja kepada aparat jika dipanggil sebagai terlapor.

Siapapun bisa berpotensi seperti Densi (menulis kemudian dilaporkan). Untuk itu, ada baiknya memang kita harus lebih berhati-hati, karena UU ITE tidak hanya diperuntukkan bagi para hater Jokowi saja, melainkan juga terhadap pendukung Jokowi. Begitu kan? Saya selalu berhati-hati. Seperti gambar di bawah, selain kamera perekam saya sorot ke depan untuk mengambil obyek yang diinginkan, tapi perlu juga melakukan "cek sekitar". Periksa kanan-kiri dan terutama bagian belakang.

Siapa tahu ada yang mengawasi tanpa kita ketahui. Sesuatu yang tidak terlihat... Wah, kok jadi horor ya? Coba-coba explore mistery.

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Wednesday, July 8, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: