Diantara Sensitifitas Netizen dan Taper Tantrum Ekonomi Global

Oleh : Risky Pratama N

Rupiah pekan lalu melemah, lalu muncul-lah ekonom-ekonom karbitan yang mengklaim krisis moneter Indonesia 99 akan terulang di-rezim sekarang. Padahal, era SBY juga semua negara berkembang merasakan, saat dimana dipermainkan oleh pengumuman kebijakan moneter AS, yang memang langsung berdampak terpukulnya kurs negara berkembang. Kenapa disebut Taper Tantrum? Karena kebijakan tsb belum benar-benar dijalankan tapi tetap mempunyai pengaruh besar terhadap kurs negara berkembang.

Bagaimana pengaruh pemerintah AS dengan Federal Reserve atau Bank Sentralnya dalam menetapkan kebijakannya, terutama kebijakan yang berkaitan dengan kebijakan menaikan ataupun menurunkan suku bunga. Maka akan berimbas pada naik turunnya kurs di negara-negara lain. Tentu pada akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi global. Jadi, imej yang dibentuk oleh beberapa netizen yang beropini Indonesia akan krisis mungkin kelas ekonominya sering bolos. Atau, terprovokasi oleh haters minded.

Karena faktanya, kondisi ekonomi Indonesia sekarang, masih terbilang baik. Jauh dari krismon. Ditopang oleh fundamental ekonomi yang masih terjaga. Tentu ini berkat BI dan Pemerintah terus bersinergi.

Kutip;

BI, saat Indonesia mengalami tekanan dari ekonomio global yang memicu arus modal keluar, mereka langsung memperketat kebijakan moneter dengan menjaga perbedaan suku bunga acuannya dengan bank sentral AS. Upaya tersebut cukup ampuh membendung arus modal keluar.

Sementara itu pemerintah, Sander memandang telah mampu menjaga tingkat defisit, inflasi dan utang rendah. Sander mengatakan koordinasi kebijakan tersebut cukup baik.

https://m.cnnindonesia.com/…/bank-dunia-nyatakan-indonesia-…

 

Sumber : facebook Risky Pratama N

Saturday, September 22, 2018 - 16:30
Kategori Rubrik: