Diantara Sekolah dan Covid 19

ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Seminggu terakhir ramai menyoal tentang sekolah, setelah perkantoran mulai kembali membuka pintunya. Sebagian mengatakan sebaiknya dinormalkan kembali, dalam arti siswa kembali belajar ke sekolah dengan protokol kesehatan. Sebagian lainnya ingin untuk sementara tetap di rumah.

Perbedaan pendapat ini bukan hanya muncul dari para orang tua murid saja, namun juga di kalangan dokter, dengan argumentasinya masing-masing yang tentu saja berdasarkan pengalaman dan ilmunya masing-masing.

Penulis tak hendak membela apalagi menyalahkan salah satunya, karena kedua pihak mempunyai tujuan dan pemikiran medis yang tentu sama baiknya. Terlebih penulis bukanlah ahli medis atau seorang dokter.

Penulis hanya ikut merasakan betapa beratnya tugas dan tanggung jawab para tenaga medis, karena berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Sementara itu pandemi Covid-19 belum bisa dicegah, sedangkan vaksin buatan Bio Farma yang bekerja sama dengan Kalbe Farma baru tersedia pada Januari 2021, yang distribusinya dibantu oleh Kimia Farma.

Artinya rentang waktu menuju Januari 2021 cukuplah panjang untuk kondisi sebuah negeri yang sedang dilanda pandemi dengan penularan yang begitu cepat sekali. Bayangkan saja, saat ini korban terpapar di Indonesia sudah melampaui jumlah yang terpapar di China, negeri asal Covid-19.

Ada yang mengatakan bila anak-anak cenderung memiliki tingkat imunitas yang tinggi, hingga langka terjangkit Covid-19. Lalu benarkah hal itu? Kalau begitu, mari kita tekan ego kita masing-masing, dan jangan ada yang merasa paling benar, termasuk dokter. Karena kita semua adalah manusia biasa.

Penulis mengajak semua pihak untuk lebih arif dalam menyikapi persoalan ini demi keluarga kita semua. Dari kaca mata sosial, penulis belum melihat ada penelitian khusus yang benar-benar sahih yang melibatkan banyak siswa sekolah, hingga sah dikatakan bila anak sekolah lebih imun atau sebaliknya.

Beberapa negara di Eropa hanya merujuk pada sampel kecil saja, sehingga hal itu belum bisa dijadikan rujukan yang pasti, walau dikatakan sedikit kemungkinan penularan di kalangan anak. Lalu ketika Korea Selatan melakukan penelitian dengan sampel yang lebih banyak, menyatakan risikonya cukup tinggi.

Data lain mengatakan bahwa anak-anak pun ternyata ada yang tertular. Beberapa negara menyimpulkan anak-anak dapat tertular dan menulari dengan persentasi antara 1-5%. Sehingga bila merujuk data tersebut, terlebih hasil penelitian di Korea Selatan, maka anak-anak tak bisa diabaikan dari Covid-19.

Karenanya yang harus difikirkan terkait dengan karakter anak-anak adalah tentang protokol kesehatan yang belum tentu mudah diterapkan kepada anak-anak. Terlebih kebiasaan anak yang lebih suka bergerombol, yang itu artinya satu poin untuk menjaga jarak akan sulit dikontrol, apalagi selepas dari sekolah.

Selain itu setiap sekolah membutuhkan biaya yang tidak kecil untuk menerapkan protokol kesehatan. Risiko terburuknya adalah, ketika ada satu saja yang terpapar, sangat mungkin menulari kawan atau gurunya, utamanya sekolah-sekolah yang menggunakan AC.

Oleh sebab itu, penulis cenderung menyikapi kemungkinan terburuk, sambil menunggu vaksin siap pakai. Setidaknya hingga Januari 2021. Tentu saja tanpa mengabaikan betapa beratnya tugas tambahan para ibu bangsa yang kini mulai banyak mengeluh betapa repotnya menjadi guru pendamping di rumah.

Proses belajar daring itu tidak mudah dan banyak kelemahannya, selain risiko yang mungkin tidak diketahui pihak terkait, semisal ketikaanak-anak bergerombol di tempat yang ada Wifi gratisnya. Yang pasti bagi penulis, jauh lebih terhormat mereka yang silang pendapat tentang sekolah tapi percaya dan peduli sehat serta percaya adanya Covid-19, ketimbang mereka yang tidak percaya Covid-19. Apalagi kepada mereka yang ikut gerakan "Tidak Pakai Masker."

Karena yang anti dan nyeleneh inilah yang ikut menghambat penanganan Covid-19. Pemerintah dan tenaga medis tentu menjadi semakin repot, sebab bukan saja harus menyiapkan vaksin untuk Covid-19, tapi juga negeri ini butuh vaksin kebodohan, vaksin mental ndableg, dan vaksin sok tau.

Salam NKRI Sehat

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Friday, July 31, 2020 - 18:45
Kategori Rubrik: