Dialog Imajiner Tentang Dukungan Titik Soeharto Ke Prabowo

ilustrasi

Oleh : Judiarso Kurniawan

Tanya :
Bu Titik yang mantan istri pak Prabowo itu ngasitau jangan sampai keliru memilih presiden, eyang. Pilih pak Prabowo aja katanya. Menurut eyang bagaimana?

Eyang :
Alasannya?

Tanya :
Soalnya pak Prabowo itu kata dia punya sifat amanah, jujur, ksatria, sayang dan perhatian.

Eyang :
Itu sama aja dia nuduh pak Jokowi tidak punya sifat amanah, jujur, ksatria, sayang dan perhatian. Padahal faktanya pak Jokowi sama keluarganya ga ada masalah. Rukun-rukun aja, tuh. Ga bener kalau pak Jokowi dituduh ga punya sifat amanah, jujur, ksatria, sayang dan perhatian. Tanya aja deh sama keluarganya kalau masih ga percaya. Malah ketambahan satu sifat lagi pak Jokowi itu. Setia. Jadi soal setia, pak Prabowo jelas kalah dibanding pak Jokowi. Soal amanah, jujur, ksatria, sayang dan perhatian, itu justru masih perlu diragukan makanya pak Prabowo mustinya disuruh klarifikasi dulu, apa bener dia sebagai suami sudah bener-bener amanah, jujur, ksatria, sayang dan perhatian apa malah ga bisa gitu. Eyang rasa pak Prabowo orangnya ga gitu, deh.

Tanya :
Dia dulu pas pacaran sama bu Titik pernah bolos diem-diem pas jadi prajurit. Itu artinya dia cinta sama bu Titik.

Eyang :
Tapi setelah nikah sama bu Titik akhirnya cerai, tuh. Nikah sampai punya anak tapi akhirnya cerai itu susah dibilang mereka sama2 punya komitmen menjaga kesetiaan, padahal kesetiaan itu penting dalam membina rumah tangga, juga jadi presiden. Itulah ga enaknya pilih pemimpin yang katanya amanah, jujur, ksatria, sayang dan perhatian, tapi ga setia.

Tanya :
Ga enak gimana maksudnya, eyang?

Eyang :
Ya ujung-ujungnya ga bahagia. Padahal bahagia itu lebih baik kalau ditaruh di belakang, bukan ditaruh di depan doang trus ilang.

Tanya :
Ntar dulu, eyang. Kayaknya eyang nuduh pak Prabowo sama bu Titik cerai itu gara-gara pak Prabowonya yang ga setia, padahal bisa aja bu Titiknya yang ga setia, atau karena keadaan yang memaksa mereka cerai.
Pak Prabowo sama anaknya aja setia, kok. Ketemu juga masih dianggap anak. Ga ada beritanya pak Prabowo ga akur sama anaknya.

Eyang :
Bukannya nuduh gitu. Cuma meragukan kesetiaan pak Prabowo. Ya sama bu Titik juga karena mereka ga mau terbuka kenapa mereka bisa cerai. Biar ga kepanjangan, kita bahas pak Prabowonya aja, deh. Kalau menurut bu Titik dia memang setia, mustinya dia punya karyawan di pabrik kertasnya ga akan ada beritanya kalau gajinya tidak dibayar. Pak Prabowo kan kaya. Kudanya aja ada 100 lebih, semua terawat dengan baik. Masak nasib karyawannya nggak? Tanggung jawabnya sebagai boss gimana? Apa kayak gitu amanah? Jujur? Ksatria? Sayang? Perhatian? Setia? Penting mana nasib kuda sama orang? Kalau nasib orang lebih penting daripada kudanya, jual dong kudanya buat ngelunasin utangnya ke karyawannya itu. Kalau nggak ya susah eyang mau nyebut amanah, setia, dll. Kalau pak Jokowi ga ada kena urusan model gitu. Jadi pertanyaannya, kalau ada capres yang jelas amanahnya, jelas setianya, dll, kenapa musti pilih yang ga jelas banget?

Tanya :
Iya, ya...?

Eyang :
Makanya itu ga usah dengerin saran bu Titik, deh.

Tanya :
Oke, eyang..

Sumber : Status Facebook Judiarso Kurniawan

Thursday, February 28, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: