Dia Kaget, Lalu Joget

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Masih tentang joget yg memalukan itu, walau ada yg mengatakan itu lucu, buat saya sekelas debat kelas dunia ada peserta yg luas provinsi negaranya dan luas negara tetangganya dia gak tau, ini bukan lucu tapi dungu. Tapi sudahlah, karena memang kerap kali dia selalu buat salah. Ini akibat sebenarnya karena dia selalu kalah, baik kalah bersaing, atau kalah akhlak yg tak pernah eling.

Semua output pasti ada proses dan sebab akibat. Kenapa dia tiba-tiba bajoget, dan begitu cepat reaksi tukang pijitnya, pas konyolnya, makin jelas tololnya.

 

 

Gempuran Jokowi dalam debat yg membuat mereka pucat pasi adalah masalah hoax oplas RS, dan Caleg mantan koruptor yg dia tidak tau, dan yg konyol jawabannya sebagai ketum yg menanda tangani semua caleg dgn jawaban "tidak tau" ini harakiri man. Terus dia bilang caleg perempuan Gerindra adalah yg terbanyak ternyata hoax juga, karena buktinya yg terendah.

Kebohongan demi kebohongan yg dibangun dan terakumulasi adalah output dari tabiat yg tidak jujur, ambisius, asbun, ngeyel, sombong, sok tau, merasa paling cerdas, sehingga tidak ada orang yg bisa memberi masukan. Bayangin, saking asbunnya bisa dia katakan Jateng sama dgn luas Malaysia, padahal, kita sambil jongkok pagi saja buka mang google dunia diujung jari kita, ini capres ngomong sambil ngences, netes gak beres. Korupsi saja dia bilang boleh kl gak banyak, ini kaidah mana yg dipakai, hal seperti ini akan sama jawaban ulama setengah sadar, ditanya hukum komar, boleh diminum asal jangan mabuk.

Manusia secara utuh dikendalikan oleh EQ bukan IQ, gak ada gunanya negara yg punya presiden dgn IQ 152, kalau EQ nya jongkok, karena bisa memgakibatkan kerusakan banyak hal, nabi diturunkan Tuhan utk membenahi akhlak, terus ada orang yg membenarkan hal yg bisa merusak, mau jadi presiden pula, mampuih ambo datuak.

Ketidak konsistenan, anggap enteng, tak ada sifat mengapresiasi, ini membahayakan kalau berkuasa, dia bisa semaunya, dan orang harus tunduk kepadanya. Lihat reaksi dan intonasinya saat di katakan presiden adalah panglima tertinggi dalam penegakan hukum, dan dia akan memenjarakan bawahannya kalau bersalah, ini pikiran otoriter dan semena-mena. Hal ini dapat dibuktikan hasil analisa psikolog UI, bahwa Wowo hanya punya sifat demokratis 24 %, Jokowi 83 %.Sifat otoriter Wowo 76 %, Jokowi 13 %. Jelas ya..

Jadi, joget itu menutupi malu karena tak mampu. Mari kita tunggu joget lanjutan dan pijitan kepala karena mulai terasa kosong isi kepalanya.

#MARIJOKOWILAGI

 

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Monday, January 21, 2019 - 22:00
Kategori Rubrik: