Di Zaman Jokowi Kehidupan Sulit?

Oleh: Denny Siregar
 

"Gila. Jaman Jokowi ini susah banget nyari kerja.."

Seorang kerabat mengeluhkan situasinya saat berkumpul ketika mudik lebaran. Ia yang lulusan S1 dari sebuah perguruan tinggi swasta mengeluhkan betapa sempitnya lowongan pekerjaan, karena melamar kemana-mana tidak diterima.

 

 

Dalam keputus-asaan itu, ia membaca berita bahwa tenaga kerja asing - terutama dari China - membanjiri negeri ini. Sempurnalah alasannya untuk mengeluh karena ada kambing hitam yang harus ia jadikan tameng ketidak-mampuan.

Saya senyum-senyum saja di pojokan. Sambil seruput kopi hitam dan menjulurkan kaki sambil bermalas-malasan. Ah, ini liburan. Jadi manjakan badan sebelum nanti kembali sibuk di kegiatan.

Mungkin banyak orang seperti saudara saya itu diluar sana. Mereka yang kalah berkompetisi lalu menyalahkan keadaan, bahkan sampai menyalahkan pimpinan. Ia tidak mampu menyalahkan dirinya sendiri yang tidak cerdik melihat peluang, tidak mau mulai dari situasi ketidak-punyaan, dan tidak berpandangan luas ke depan.

Banyak sekali orang yang memandang bahwa bekerja itu harus kantoran. Padahal dampak dari pekerjaan adalah mencari pendapatan dan pendapatan bisa didapat dari mana saja asal mata kita terbuka lebar karena wawasan.

Dia sebenarnya bukan sedang mencari kerja, tapi mencari kebanggaan. Bangga jika ada di sebuah institusi terkenal, meski disana dia hanya jadi kacangan. Bangga dengan seragam atau kemeja rapih dengan halusnya lipatan, meski gaji tidak cukup untuk dimakan sebulan.

Sedikit sekali orang yang memandang bahwa bekerja itu sejatinya adalah bagian dari ekspresi diri. Dan bagaimana ekspresi diri itu bisa mendatangkan pendapatan yang memadai. Dia tidak mampu mengenali dirinya sendiri, "Apa yang bisa saya lakukan ?". Tapi lebih sibuk menghakimi, "Ini semua salah situasi.."

Seandainya saja dia mau menggunakan gadgetnya untuk mulai mencari peluang, tentu dia sudah keluar dari situasinya sekarang.

Tapi tidak. Dia malah sibuk bicara politik dan membagikan berita-berita yang sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Dia berkawan dengan para pengeluh yang sama-sama suka menyalahkan. Jadinya seperti anjing bergonggong bersahut-sahutan, tapi tidak bergerak dari tempatnya meski ada sesuatu di depan..

"Sejatinya semua orang berpeluang sukses.." Kata seorang teman dulu. "Yang membedakan adalah cara mengambil sudut pandang. Orang sukses melihat masalah menjadi sebuah peluang, sedangkan orang gagal melihat peluang sebagai masalah besar..."

Di tangan kita selalu diberikan dua pilihan, positif atau negatif. Jalan hidup kita ditentukan pilihan yang kita bangun sendiri. Dan sejak dulu - meski dalam keadaan sesulit apapun - saya menolak melihat sesuatu dari sudut pandang negatif, karena itu menghancurkan..

Tapi apa yang harus saya katakan padanya ?

Dia sedang jatuh cinta dengan situasi yang membuat dia nyaman. Situasi terus menyalahkan dan mencari kambing hitam, dimana dia bisa bersembunyi dari semua kelemahan. Tidak ada nasihat yang bisa bermanfaat baginya, karena apapun yang tampak di matanya adalah negatif adanya..

Saya seruput secangkir kopi yang terhidang. Secangkir kopi yang bisa ada dimana saja, di warung, di kafe bahkan di restoran besar, tapi semua orang mencarinya karena dia memberikan kenikmatan kepada semua orang, bukan tergantung pada nikmat yang diberikan orang..

Seruput dulu, ah.. Liburan yang menyenangkan..

(Sumber: Denny Siregar)

Saturday, June 16, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: