Di Manakah PKI Itu Bersembunyi?

Aneh bin ajaib bahwa sebagian masyarakat Indonesia tak mau melek politik hingga mudah dihasut oleh isu jadul yang sudah sangat usang ini. Padahal secara logika trik ini sangat mudah ditebak arahnya kemana. Tengok saja saat Pilkada Solo dan Pilkada DKI Jakarta mengapa tidak muncul isu PKI, bahkan PKS saja ikut mengusung Jokowi menjadi Walikota Solo.

Isu yang dimulai oleh akun Twitter Trio Macan, lalu dijadikan rujukan sebagai berita hoax oleh tabloid Obor Rakyat yang dijadikan acuan oleh pihak yang anti Jokowi. Jadi bukan atas dasar realitas yang ada, alias hanya imajinasi dan karangan dari sisa-sisa rezim masa silam.

Kini sudah memasuki tahun ke-6 tapi mereka yang hobby teriak-teriak PKI tak ada satu pun yang bisa membuktikan keberadaan PKI secara nyata. Paling pol hanya menyebar opini busuk yang tak berdasar, namun ketika didesak dengan pertanyaan untuk pembuktian, selalu dijawab dengan amarah atau ngelantur.

Tak ada satu pun dari mereka yang dapat membuktikan kantor pusat dan kantor cabang-cabang PKI itu berada dimana, lalu siapa Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, Sekretaris Jenderalnya, kader-kadernya, nomor teleponnya, AD/ART-nya, dan lain sebagainya. Yang ada hanya tiba-tiba muncul benderanya yang terlihat masih sangat baru lalu mereka bakar. Pertanyaannya sekarang, bendera itu mereka dapat dari mana?

Nah sekarang sebaiknya aparat penegak hukum harus benar-benar tegas menyikapi persoalan ini. Panggil para pembawa dan pembakar bendera PKI itu dan tanyakan dapat dari mana bendera itu, agar semuanya jelas. Lalu hasilnya umumkan ke publik, agar tak terus menerus menjadi media pemecah belah bangsa dan setiap tahun jadi gorengan.

Bila nanti ternyata terbukti memang ada bibit komunisme dari tempat dimana bendera itu ditemukan, maka aparat penegak hukum harus tegas menciduk mereka semua. Namun bila tidak ada, kejar terus mengapa bendera itu mereka bisa miliki, lalu modusnya apa, dan siapa aktor intelektual di balik ini semua. Masyarakat pun jangan segan-segan melapor kepada Polri bila ada yang membawa atribut dan bendera PKI, agar bisa segera ditangani.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, mari kita bersatu kembali. Pilpres sudah selesai, dan sabarlah bila ingin berkontestasi kembali hingga tiba di tahun 2024 mendatang dengan jagoan kalian masing-masing. Ingat Pemilu itu hanya 5 tahun sekali, sedangkan persaudaraan, persahabatan, dan persatuan itu harus bisa kita jaga untuk selamanya.

Yakinlah bahwa PKI itu tidak ada dan sudah musnah ditelan rasa ketakutan yang begitu mencekam saat PKI dibantai dan diopinikan sebagai partai yang kader-kadernya sangat kejam. Sehingga sejak saat itu masyarakat pada umumnya sangat anti PKI dan sangat takut PKI yang dianggap bahaya laten oleh rezim orde baru. Karenanya amat sangat mustahil ada yang berani kembali mendirikan partai ini, karena pasti akan ditentang oleh pihak mana pun, termasuk Presiden Jokowi.

Jadi saat ini sebaiknya kita bersama-sama bisa bahu membahu membangun negeri ini. Terlebih di saat bumi pertiwi bahkan dunia sedang prihatin karena pandemi Covid-19 yang telah memporakporandakan sendi-sendi kehidupan umat manusia. Lalu apakah kita tega masih saja sibuk juga dengan urusan yang sejatinya hanya untuk melanggengkan ambisi elite tertentu yang haus kekuasaan? 

Ayo Saudaruku se tanah air mari kita bangkit bersama untuk memajukan negeri nan indah ini. Mari kita lawan hoax dan perangi Covid-19. Berhentilah percaya dengan tipu daya elite tertentu yang hobby bermain politik identitas, serta isu basi seputar PKI, antek aseng asing, dan utang. Sebab mereka tak akan pernah punya ide cerdas selain itu-itu saja yang selalu diputar ulang seperti gangsing mainan bocah.

Logika sederhana lainnya, bila PKI itu ada, berarti rezim orde baru gagal dong membasmi PKI. Iya apa iya? Lalu foto-foto bersenjata yang bawa bendera palu arit itu siapa? Itu tentara komunis yang berada di Philipina. Lalu siapa PKI di Indonesia? Tentu saja selain halusinasi, ya sembunyi di balik hati para pecundang yang ingin negeri ini selalu gaduh, lalu mereka berkuasa untuk menjarah atas kekayaan negeri ini yang berlimpah ruah. Sadarlah saudaraku..

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *