Di GBK Tukang Kayu Itu Berdiri

Oleh : Sahat Siagian

Tepat ketika Harry Kane mengangkat piala dunia di hadapan 7.6 milyar manusia pada hari Minggu nanti, berakhirlah pesta dan kegembiraan orang-orang sedunia.

30 malam kita tertawa, saling goda, saling ganggu, saling ejek, saling puji, menangis bersama atas kegagalan tim-tim favorit, merunduk di samping Messi, terbahak di hadapan Joachim Loew sedang angkat koper. Itu satu bulan penuh. Kita rela mengenangnya kapan pun dan di mana pun.

Akhir Agustus ini kita masuk ke 8 bulan lebih mendebarkan. Pertarungan menentukan arah Negara Kesatuan Republik Indonesia digelar. Kita terlibat. Menunya sama: saling ejek, saling goda, saling jebak. Tapi satu saya kuatir tak muncul: tertawa bersama.

Kalau Anies atau Prabowo menantang Jokowi: itu pertarungan antara ujaran kebencian VS Cinta dan gagasan. Kita cuma disuguhi telenovela, bukan Antigone, bukan Macbeth. Negeri ini terjerumus ke jurang ketololan.

Lupakan Prabowo. Dia tak punya apa-apa. Anies? 9 bulan kepemimpinannya di Jakarta tidak menghasilkan bahkan upil sekali pun. Mana Rumah DP 0%? Malah Pemerintah Pusat yang menginisiasinya. Si bego itu tak punya daya mengeksukusi gagasan. Juga lihat Tanah Abang terlantar dan berantakan.

Saya tahu banyak pemimpin berupaya memikat rakyat dengan kebijakan populis. Tapi yang dilakukan Anies Machiavellistik. Dia rela memberantakkan apa saja asalkan ambisinya maujud. Jalan di Tanah Abang dia tutup. Becak mau dihadirkan kembali. Orang berjualan seenaknya di jembatan penyeberangan, di Monas, di sekitar Bundaran HI dan di banyak tempat lain lagi, merajalela.

Bukan berarti Anies setuju dengan cara itu. Percayalah, begitu puncak ambisi terpenuhi, dia akan dengan dingin mengembalikan semua ke yang seharusnya: berkeliling Indonesia merekatkan kembali apa yang sudah diribak, mengusir pergi tukang becak, merapikan Tanah Abang—kalau perlu mengajak taipan masuk menghalau para pedagang liar. Hatinya penuh tipu daya.

Dia akan maju ke arena Pilpres dengan seribu pesorak kebencian berjalan bersama. Dua ratusan organisasi tanpa bentuk sudah dibangun. Ribuan ustadz segera bergabung. Oratorio permusuhan sedang ditulis. Dia bermimpi Indonesia bisa dibelah sembari ngelamun belahan terbesar berpihak padanya.

Lupakan. Ancur Badut memang tak tahu malu.

Ada Ngabalin, yang akan berdiri memimpin umat merangsek siapa pun musuh Islam. Bahkan Jokowi sudah “mempersila” Rizieq segera pulang—tapi pujaan Firza itu tak kunjung punya zakar.

Bergabung dengan Somad dan AA Gym, Rizieq bakal berhadapan dengan barisan mujahid Islam pimpinan Ngabalin. Peperangan sesungguh bakal digelar. Kita berharap Polri dan TNI bersiap di setiap sudut gelanggang, mengawasi pertarungan.

Di mimbar akademik, TGB, Agil Siradz, Quraish Shihab, siap memadamkan dusta. Arena pertarungan terbuka digelar. Duel sederhana antara Islam Nusantara dengan Islam FPI-HTI berlangsung telanjang. Barangkali inilah saat paling tepat untuk membungkam kebohongan minggat selamanya dari tanah Nusantara. Kalau kalian masih berdiri di pinggir, bersolek ganjen dengan selendang “golput”, celakalah kalian.

Semua ruang ditutup. Ekonom mana pun tak berdaya di hadapan barisan Jokowi. Bukan berarti mereka kalah pintar tapi karena apa yang dkerjakan Jokowi sudah tepat, membawa Indonesia ke panggung dunia pada tahun 2029, menjadi negara utama di planet manusia.

30 hari Sepakbola dunia selesai hari Minggu. Kita lalu masuk ke pesta orang-orang Asia. Di Jakarta. Dibuka di stadiun Gelora Bung Karno, yang menjadi saksi atas suara kebebasan Putra Sang Fajar.

Asian Games akan bersuara kepada dunia: di negara ini orang Asia bertarung dan berpesta, merayakan suara nurani berusia tepat seperempat abad.

Di GBK, dunia akan memandang pemimpin sejati berdiri, berpidato, memanah matahari, memimpin segenap kaum berjalan di bawah langit dan bumi yang baru.

Di GBK, tukang kayu itu akan sekali lagi berkata: kerajaanku bukan dari dunia ini. Ia datang dan tinggal bersamamu.

Sumber : facebook Sahat Siagian

Wednesday, July 11, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: