Di Dunia, Indonesia Nomor 3 Meraih Kejayaan

ilustrasi

Oleh : Andrean Nugraha

Adidaya ekonomi masa depan adalah China, Indonesia & Iran. Bagaimana ceritanya ? Simak ulasan di bawah ini :

GEOPOLITIK RARE EARTH ELEMENT (LOGAM TANAH JARANG / LTJ )

Anda mungkin bertanya2, mengapa China yg ideologi komunis bisa menjadi kapitalis dan menarik begitu banyak investor ?

Bahkan semua perusahaan industri yg terdaftar dalam 500 fortune pasti punya pabrik di China. Dari industri pesawat terbang seperti Boeing punya manufaktur di China. 90% produksi Iphone diproduksi di China. Semua produksi merek Samsung, LG Korea, diproduksi di China. GE raksasa bidang industri hight tech dan electro ada di China. Semua produk merek Jepang diproduksi di China. Kehadiran mereka di China sangat cepat sekali. Hanya 20 tahun mereka sudah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi China.

Dari kehadiran mereka lahirlah jutaan supply chain yg merupakan perusahaan lokal dg melibat ratusan juta angkatan kerja.

Mengapa?

Hanya satu jawabannya, yaitu China punya bahan baku Rare Earth Element (REE) atau Logam Tanah Jarang (LTJ).

Sebelum saya bahas lebih lanjut soal geostrategis Rare Earth Element atau Logam Tanah Jarang, kita pahami dulu apa itu LTJ.

LTJ merupakan bahan mineral yg mengandung tujuh belas unsur kimia, yg terdiri atas skandium, itrium dan 15 unsur lantanida (lantanum, serium, praseodimium, neodimium, promethium, samarium, europium, gadolinium, terbium, disprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, dan lutetium).

Skandium ditemukan di sebagian besar deposit unsur tanah jarang dan kadang2 diklasifikasikan sebagai unsur tanah jarang.

Unsur tanah jarang sering disebut sebagai "logam tanah jarang." Nah, logam2 ini memiliki banyak sifat serupa, dan yg sering ditemukan bersama dalam deposit geologis. Makanya juga disebut sebagai "oksida tanah langka”.

Apa manfaat dari REE?

Hampir keseharian kita tdk bisa dipisahkan dari alat yg dihasilkan karena adanya material RRE. Seperti memori komputer, DVD, baterai isi ulang, ponsel, catalytic converter, magnet, lampu neon dll.

Apalagi baterai isi ulang sangat dibutuhkan oleh industri perangkat elektronik portabel seperti ponsel, layar monitor sentuh, komputer portabel, dan kamera.

Semenjak mewabahnya kendaraan listrik di negara maju sebagai dampak revolusi energi hijau, kebutuhan akan RRE semakin besar. Karena baterai kendaraan membutuhkan bahan baku REE. Kendaraan listrik dalam jangka menengah akan mengalahkan kendaraan BBM fosil.

Dalam suatu seminar di luar negeri tahun 2013, saya mendapat wawasan tentang akan terjadi perubahan geopolitik dari minyak ke Logam Tanah Jarang (Rare Earth Element).

Yg membuat saya terkejut dari seminar itu adalah pembicara mengulas kejayaan bangsa yg pernah berkuasa di dunia ini.

1. Pertama adalah bangsa persia;
2. Kedua, adalah bangsa Mongol; dan...
3. Ketiga adalah Indonesia.

Nah, karena disebut nama Indonesia inilah yg membuat saya terkejut, dan akhirnya semangat menyimak seminar sampai akhir.

Semua tahu bahwa bangsa Persia pernah menjadi negara super power pada masanya. Mongol juga pernah menguasai lebih separuh bumi. Lantas, Indonesia? Ya. Majapahit pernah berkuasa sampai ke Vietnam.

Dalam konteks geopolitik, pembicara mengulas tentang resource logam tanah jarang yg ada di dunia, antara lain ialah:

1. Pertama adalah China, dimana penambangan terbesar di wilayah Mongol;
2. Kedua adalah Iran; dan
3. Ketiga Indonesia, yg belum diolah.

Namun hanya soal waktu saja Iran dan Indonesia akan tampil sebagai produsen REE terbesar di dunia.

Namun pada saat itu kelak, justru Iran dan Indonesia bakal menghadapi masalah geopolitik dalam konstelasi global dimana para adidaya menginginkan penguasaan sumber daya dari REE.

Kelak, pemain yg berebut sumberdaya itu adalah AS dan China. Mereka rakus akan logam tanah jarang atau REE.

Tak bisa tdk, selama sekian dekade sebelumnya, geopolitik dan geostrategi global berputar2 sekitar perebutan sumber daya oil and gas.

Dan hanya masalah waktu bandul geopolitik akan bergerak ke Logam Tanah Jarang. Jika dulu geopolitik itu identik dg follow the oil, era ke depan nanti follow the REE.

Kenapa? Karena kerakusan terhadap oil and gas dahulu, akan sama rakusnya pada Logam Tanah Jarang di masa yg akan datang.

Memang setelah tahun 2013, permintaan minyak menurun, harga semakin turun, terutama sejak berkembang tekhnologi shale gas.

Akibatnya, konflik regional agak mereda tidak seperti era booming minyak tempo doeloe. Akan tetapi, perseteruan akan kembali menghangat dan mewarnai perilaku geopolitik setelah permintaan akan logam tanah jarang semakin meningkat sebagai energi alternatif.

Artinya siapa yg menguasai sumber daya RRE atau LTJ, maka dialah penguasa dunia.

Iran

Tahun 2016, saya mendapat informasi dari teman di Beijing bahwa mereka mendapat konsesi tambang mineral di Iran.

Ternyata hasil survey geologis membuktikan seperti apa yg saya dengar pada seminar tahun 2013 itu. Bahwa Iran mengandung deposit REE sangat raksasa. Eksplorasi pertama kali mengidentifikasi zona mineral sangan yg terletak di barat laut Provinsi Khorasan Razavi.

Cadangan substansial unsur tanah jarang, ditemukan di zona 12.000 kilometer persegi. "Mereka adalah negara yg sangat kaya akan mineral. Ini jauh lebih besar dari sumber daya migas,” kata teman saya.

Iran meluncurkan ingot tanah jarang pertamanya dengan kemurnian 99%, yg disebut mischmetal. Ingot, hasil penelitian selama enam bulan oleh Pusat Penelitian Pengolahan Mineral Iran, terdiri dari empat unsur tanah jarang, termasuk serium, lantanum, neodimium, dan itrium, yang semuanya diekstraksi dari tambang di Iran Tengah.

Apa itu mischmetal?

Itu sangat dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan tabung hampa udara, baterai yg mengandalkan teknologi hidrida logam.

Dalam industri logam, ini sebagai sumber pemicu terjadinya percikan api utk memulai pembakaran dan nyala api, serta untuk meningkatkan kemampuan cetakan dan sifat-sifat mekanis pada campuran metal.

Iran sejak tiga tahun lalu serius mempelajari metode ekstraksi dan eksploitasi vanadium, galium, nikel, kadmium, dan tungsten dan akan segera memulai produksi ingot dan paduan tanah jarang ini.

Mungkin tahun ini akan mulai produksi. Hebatnya walau Iran diembargo ekonomi, namun kerjasama penambangan dan pengolahan bukan hanya datang dari China tetapi juga dari berbagai negara seperti Jerman, Denmark, Italia, Jepang, dan Australia.

Namun yg terbesar tetaplah China, sementara AS tdk dapat kesempatan sama sekali memanfaatkan RRE. Puluhan miliar dolar dibenamkan dalam industri pengolahan Logam Tanah Jarang.

China

Sekitar 30 tahun lalu, Pemerintah China telah memutuskan utk menjadikan Logam Tanah Jarang bahan baku strategis dan melarang pihak asing menambangnya.

Penambangan logam tanah jarang pertama kali di wilayang Mongolia, dan kemudian meluas sampai ke Xinjiang yg sangat besar deposit logam tanah jarang. Walau begitu Cina hanya memiliki sekitar 30% cadangan global dari tanah jarang.

Namun China memproduksi ekstrak tanah jarang mencapai 70% produksi dunia.

Sebagian bahan tambang logam tanah jarang didapat dari tambang yg mereka miliki di Amerika Utara, Australia, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara, yg dikapalkan ke China utk diolah.

China menguasai 90 pasar ekstrak logam tanah jarang dunia. Tahun ini China tengah meningkatkan kuota penambangan tahunan utk logam tanah jarang menjadi 132.000 ton atau 10 persen di atas rekor tertinggi pada tahun lalu.

Indonesia

Indonesia memiliki potensi mineral RRE mencapai 1,5 miliar ton. Namun, mineral REE tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai barang strategis utk mendukung kegiatan industri dalam negeri maupun menjadi komoditas ekspor. Survey yg dilakukan Badan Geologi, ada 29 lokasi yg berpotensi mengandung Logam Tanah Jarang.

Lokasi tersebut di wilayah Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, Pulau Bintan Riau, Kepulauan Anambas Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.

Inalum mulai tahun 2019 menggandeng BATAN utk melakukan studi pengolah REE tersebut. Dan rencananya tahun depan PT Inalum akan membangun industri logam REE dan bermitra dgn China.

Masalah geopolitik

Dunia tdk bisa mengandalkan China utk menjamin pasokan REE atau LTJ. Kalau dibiarkan, China akan menjadi diktator Industri dan mengontrol dunia.

Mengapa ?

Sebab kebutuhan industri hilir akan LTJ di China sangat besar. China mendominasi produksi Logam Tanah Jarang sejak 1990-an, karena didorong oleh dua faktor: "Harga rendah dan investasi".

Negara mendukung dalam infrastruktur dan teknologi. Pada tahun 2000-an, China hampir sepenuhnya menguasai produksi tanah jarang.

Dominasi ini tdk dicapai hanya dg harga. China juga menggunakan kebijakan industri yg dimulai pada 1980-an utk mengembangkan keahlian dalam ekstraksi, pemisahan, dan penyempurnaan dari REE atau tanah jarang.

Kebijakan industri Cina sebenarnya mencerminkan pendekatan A.S. pada 1950-an dan 1960-an, ketika Laboratorium Ames dan Pusat Informasi Rare-earth (RIC) menggunakan investasi negara untuk mendukung upaya sektor swasta.

Sementara dukungan negara menurun dg cepat di Amerika Serikat (RIC hilang pada tahun 2002), lembaga2 China masih terus menguat.

Setelah China mendominasi produksi, mereka menggunakan harga diferensial utk memberi keuntungan bagi produsen hilir domestik dibandingkan ekspor.

Harga domestik yg lebih murah, serta ketersediaan SDM keahlian menjadi magnit menarik investor asing ke China membangun industri hilir. Semua industri elektronik raksasa Jepang, Korea, Eropa dan AS mendirikan pabrik di China.

China sebagian besar mengendalikan harga, menjaga harga tetap rendah dan membuatnya sulit untuk disaingi.

Sudah banyak perusahaan tambang REE bangkrut akibat ulah China.

Seperti contoh, perusahaan AS punya, Molycorp menguasai tambang California Mountain Pass. Molycorp harus ajukan kebangkrutan ketika harga jatuh.

Perusahaan yg berbasis di Kanada yg sekarang memiliki aset sebagian besar telah memindahkan R&D dan proses pemisahan dan penyempurnaan dari Mountain Pass ke Cina. Begitu cara China menyedot penambang membangun pengolahan REE di China.

Jepang dan Australia berusaha utk membuka tambang baru. Sebagai antisipasi kalau China mengembargo REE.

Akan tetapi membuka tambang baru juga memakan waktu dan penuh risiko. Dari tiga belas konsesi tambang di Afrika, misalnya, hanya ada dua yg berproduksi, tiga telah gagal, dan delapan lainnya masih dalam tahap sangat awal.

Jepang menemukan sumber daya mineral REE di dasar laut. Tetapi penambangannya akan sangat mahal dan beresiko. Tapi AS dan Australia terus berupaya mendapatkan pasokan REE dari luar China.

Pertemuan antara pejabat Pemerintah AS dan Australia telah meresmikan kemitraan yg dimaksudkan utk meningkatkan pasokan Logam Tanah Jarang dan mineral penting lainnya dari luar China.

Dephan AS dan Badan Logistik Pertahanan, telah meminta kepada Lynas Corp yg berbasis di Malaysia utk menambah kapasitasnya di Texas.

Lynas Corp memiliki tambang di Australia dan pengolahan di Malaysia Timur. Menteri Sumber Daya Australia Matt Canavan menyampaikan lembaga keuangan ekspor di AS dan Australia akan mempertimbangkan langkah2 baru utk membantu mempercepat proyek2 tambang LTJ.

Yg jelas negara besar di dunia, mulai dari Greenland hingga India, juga telah berupaya mendapatkan sumber pasokan di luar China. Kini pesaing utama China yg memproduksi 30% LTJ dunia adalah Lynas.

Selain China, kekuatan tersembunyi sumber daya LTJ atau REE itu adalah Indonesia dan Iran. Kedua negara ini sudah mulai membuka pintu utk penambangan, namun baik Iran maupun Indonesia telah mengeluarkan UU yg mengharuskan pengolahan semua sumber daya mineral dilakukan di dalam negeri sebelum di ekspor.

Umumnya, unsur tanah jarang dijumpai di mineral ikutan, seperti bastnaesit, monasit, xenotim, apatit, dan zirkon.

Pada konsentrat nikel, timah, emas, almunium unsur tanah jarang banyak terdapat. Dg melarang ekspor konsentrat, itu artinya sumber bahan baku ikutan berupa LTJ tdk bisa lagi didapat oleh smelter yg ada di luar negeri.

Dg demikian, semua industri pengolahan mineral di luar negeri yg membutuhkan bahan baku utk indusri hilirnya harus membangun smelter di Indonesia.

Yg paling agresif melakukan kerjasama pembangunan smelter tambang mineral di Indonesia adalah China.

Disini terjadi tarung lobi politik tingkat tinggi antara dua kekuatan, yaitu AS dan China (bersama sekutunya Eropa dan Australia) utk mendapatkan pengaruh di Indonesia.

AS dan Eropa termasuk Jepang, jelas tdk ingin membangun smelter di Indonesia karena mereka ingin menghidupkan industri dalam negerinya. Sementara Jokowi tetap bersikeras. Stop.

Protes Eropa (tentu ada AS dibelakangnya) terhadap larangan ekspor bahan mentah mineral oleh Indonesia adalah bukti bahwa AS sedang menekan Indonesia.

Mengapa?

AS dan sekutunya tentu tdk mau tergantung dg China akan kebutuhan LTJ. Kalau AS tdk menguasai sumber daya LTJ selain China, ini beresiko bagi masa depan industri di AS.

Karenanya setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden, tensi politik memanas, khususnya sentimen anti China meluas.

China tdk mau tinggal diam. China menawarkan dukungan finansial kepada pemerintah Jokowi utk pembangunan infrastruktur di luar Jawa dan berjanji akan mengembangkan indusri hilir tambang mineral utk mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia.

Sedang AS tdk menjanjikan apa2 kecuali mengancam Jokowi melalui kekuatan proxinya di dalam negeri (pasukan kadrun kompor meleduk).

Mengapa AS menolak kebijakan larangan ekspor bahan mentah tambang?

AS sudah punya pusat industri pengolah LTJ di Malaysia dan Eropa. AS berharap bahan baku tambang LTJ dikirim ke Malaysia dan Eropa.

Dan kemudian dieskpor ke AS. Ini memang batu sandungan bagi bangkitnya industri hilir tambang di Indonesia, khususnya LTJ.

Iran agak beruntung. Karena proxi AS di Iran sejak pembunuhan Qasem Soleimani menjadi alasan bagi intel Qud untuk menangkapi mereka.

Sehingga program Iran menjadi kekuatan baru di masa depan berkat sumberdaya LTJ tdk mengalami kendala serius dari dalam negeri.

Namun hambatan serius datang dari luar. Tahun ini AS mulai head to head dengan Iran. Ketegangan baru terjadi di Iran dg tewasnya Qasem Soleimani. AS sudah mengirim Armada kapal Induk dan 1500 marinir. Perang terbuka mungkin saja terjadi.

Kesimpulan :

AS dan Barat harus menyadari politik hegemoni melalui kekerasan dan embargo sudah bukan zamannya.

Kini saatnya kolaborasi dan sinergi sebagaimana China, Barat dan AS harus mau merelokasi industrinya ke Indonesia dan Iran agar terjadi balance dg China.

Pada waktu bersamaan China harus mengubah sifat ingin mengontrol industri hilir dg mematikan pesaing di hulu.

Kalau itu terjadi, maka kejayaan bangsa Mongol, Persia, dan Majapahit akan terulang kembali di era modern, tetapi dg tata cara yang egaliter dan penuh cinta.

Sudah saatnya kita semua sebagai bagian dari penduduk dunia mengutamakan cinta dalam membangun, dan bersaing secara sehat.

Bagi Indonesia, semoga faktor geopolitik ini disadari oleh semua anak bangsa utk tetap bersatu.

Jangan sampai kita diadu domba yg pada akhirnya pihak asing justru yg diuntungkan.

Yg penting, pengalaman era kejayaan MIGAS di era Soeharto di bawah aneksasi AS (Barat dan sekutunya) dimana memaksa kita hanya menjual minyak mentah tanpa kemandirian di bidang kilang BBM, jangan terulang lagi.

Kedepan, kita harus belajar dari kesalahan masa lalu dan fokus kepada nilai tambah dan kedaulatan terhadap SDA utk kepentingan rakyat banyak.

Karenanya industri pengolahan LTJ adalah mutlak dilakukan di dalam negeri dan termasuk industri hilirnya. Siapapun Presiden setelah Jokowi nanti, platform ini harus jadi pijakan.

Salam, Indonesia Jaya di era Majapahit!

Sumber : Status Facebook Andrean Nugraha

Tuesday, July 21, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: