Di Balik Batalnya "BTP Menjawab"

Oleh: Wahyu Sutono

 

Tentu banyak pemirsa TV termasuk penulis yang kecele saat mantengin televisi sejak pukul 19.30, hingga acara yang tak ditunggu itu usai tapi acara 'BTP Menjawab' tak kunjung nongol dan tak ada konfirmasi dari pihak televisi, hingga menimbulkan kekecewaan, tanda tanya, dan berbagai opini.

Ada yang mengatakan bila sosok BTP begitu menakutkan, terutama bagi kelompok tertentu yang khawatir ditelanjangi akan kiprahnya, utamanya terkait dengan reklamasi pulau, dan tentu banyak hal lain yang berkaitan dengan pengelolaan dan persoalan ibu kota.

 

Ada pula yang mengatakan acara tersebut tak lolos sensor dari lembaga penyiaran, karena khawatir membawa dampak pada situasi politik yang dirasa sudah mulai adem. Ada pula yang mengatakan ditunda hingga Jokowi-Amin dilantik, serta ada yang mengatakan bila BTP sedang dipersiapkan untuk bidang percepatan pemindahan ibu kota.

Tentulah berbagai kemungkinan di atas itu bisa benar, tapi juga bisa saja kemungkinan lainnya, mengingat belum ada konfirmasi langsung dari Metro TV, maupun BTP sendiri. Yang itu artinya bisa saja ditunda hingga minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau batal sama sekali, hingga membuat ada pihak tertentu yang lega.

Termasuk yang secara individual saat ini sudah tidak simpatik, walau sejatinya dulu mereka adalah pendukungnya. Hal ini pun tersampaikan kepada penulis, yang intinya bahwa sejak BTP cerai dan nikah lagi lah mereka menjadi tak simpatik dengan segala argumentasinya. Sungguhlah itu hak mereka, dan penulis tak pernah sekalipun menentang, juga tak pernah sedikit pun berargumentasi terlebih hingga membelanya.

Karena yang ada dalam benak penulis bahwa itu sudah 'Ranah Pribadi' dari BTP, dan penulis pun pasti akan merasa terganggu bila kehidupan pribadi penulis diusik. Selain itu, penulis pun tidak tahu dan tak mau sok tahu tentang apa yang terjadi pada kegagalan rumah tangga BTP dengan segala intriknya. Siapa yang salah dan siapa yang benar, hanya mereka lah yang sangat tahu.

Yang pasti pula bahwa penulis lebih menyukai kehadiran sosok BTP lebih pada kinerja dan prestasinya dengan segala keberadaannya, ketimbang sisi kehidupan pribadinya yang sudah pasti penulis sama sekali tidak tahu. Penulis tidak ingin apa yang telah BTP berikan dan perjuangkan selama ini menjadi pupus hanya karena persoalan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan penulis, dan penulis tidak pernah dirugikan apapun itu.

Bagi penulis, BTP tetap sosok hebat yang perlu dilahirkan kembali pada pribadi-pribadi lainnya dengan gayanya masing-masing. Dan yang pasti, dengan kehebatannya itu pula, terbukti membuat pihak tertentu was-was, hingga ada yang kegenitan seperti halnya si tuan segi tiga merah yang menganggap BTP sedang bermanuver dan mencari perhatian. Padahal mereka sendiri lah yang saat ini gamang.

Salam BTP: Berani, Tegas, dan Pasti..

 

(Sumber: facebook Wahyu Sutono)

Friday, July 12, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: