Denny Siregar

Oleh: Birgaldo Sinaga
 

Entah sejak kapan saya mulai suka dengan pria cemerlang satu ini. September tahun lalu membaca tulisannya biasa saja, lambat laun kalo gak baca seperti ada yang kurang. Dosisnya sudah mulai candu. Candu akan tulisan gado gadonya gabungan serius, jenaka, sindiran, makian bahkan ultimatum. Menyatu menjadi satu tulisan yang membawa kita menyelami hakikat makna sekaligus meminum vitamin pesan berkewarganegaraan kaum bijak.

Saya ingat penulis favorit saya waktu kuliah. Dulu kalau membaca majalah Tempo, saya selalu membaca dari halaman paling belakang. Caping catatan pinggir Goenawan Muhammad GM menjadi tulisan pertama yang wajib saya baca. Membaca tulisan caping GM membawa kita masuk dalam lembah filsafat politik hukum, budaya, ekonomi dan kekuasaan. Kita menjadi kaya akan mozaik peradaban manusia yang selalu dinamis. Manusia yang merawat kemanusiaan vs manusia yang memangsa kemanusiaan. Selalu begitu kisahnya.

Saat saya kanak kanak buku yang paling menarik fantasi dan imajinasi saya adalah buku karya Dr. Karl May. Karl May penulis buku petualangan di padang barat Amerika dengan tokoh Winnetou ketua Suku Apache dan tokoh Old Shaterhand dan Old Firehand benar benar membangun imajinasi liar saya.

Tokoh fiksi Karl May merasuki pikiran saya tentang dunia petualangan yang berisi keberanian, kegagahan, kepintaran berpadu kebaikan. Membaca bukunya membawa saya kealam padang koboi yang keras dan ganas. Adu strategi berperang, meloloskan diri dari kepungan, mencari jejak musuh, menghindar dari jebakan musuh secara komplet di urai Karl May. Ia menjadi rujukan membangun cerita berdaya tegang tinggi.

Kini, 577 tahun sejak mesin cetak ditemukan Johannes Gutenberg kita memasuki zaman touch screen. Sudah jarang orang kita lihat membaca buku. Membawa buku, duduk selonjoran di kursi. Kita melihat mayoritas orang membaca melalui gadget. Tidak peduli di restoran atau di dalam gereja, orang cukup mempunyai gawai atau gadget semua buku ada disana. Semua informasi ada di sana.

Zaman touch screen ini ternyata melahirkan banyak penulis andal. Kita tidak tahu asalnya darimana. Namanya tidak ada dipajang di rak rak toko buku. Tiba tiba Ia nongol di screen gadget kita. Siapa sih makhluk ini? Kok ribuan orang menglike tulisannya? Siapa sih orang ini kok ribuan orang mengshare statusnya?

Hampir setiap hari timeline kita dilewati statusnya. Statusnya sesungguhnya bukan status, melainkan tulisan panjang. Tulisan yang bergenre politik, religion, ekonomi, sosial, hukum atau gabungan semuanya namun dikemas dengan langgam sersan serius santai. Tulisannya itu penuh bumbu baru dalam khasanah bentuk karya tulisan.

Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi sosok fenomenal saat bukunya meledak dipasaran. Buku karyanya sangat disukai. Karya sastra ini bahkan telah ditulis beragam bahasa dunia sebagai rujukan mahasiswa dalam berbahasa Indonesia.

Demikianlah generasi touch screen saat ini banyak melahirkan penulis penulis hebat. Namun, sosok Denny Siregar menjadi fenomenal ketika Ia mampu merangkai pikirannya dalam bentuk tulisan ringan namun sangat berat bobotnya. Denny menulis tentang spiritualitas dalam bentuk bahasa sederhana. Ia mencoba menyadarkan banyak orang tentang kekeliruan memaknai hakikat beragama.

Di ruang lain Denny menulis tentang kepemimpinan. Ia mengupas tuntas seorang Ahok dengan apik lalu disaat yang bersamaan Ia membanting lawannya Ahok Pak Haji Lulung dengan cadas. Keras dan tajam. Membacanya pasti sempoyongan apalagi merasakannya. Dijamin pingsan 3 hari.

Denny menjadi buah bibir banyak netizen. Tulisannya menjadi pembicaraan banyak orang. Bahkan ada yang bilang menjadi pembentuk opini publik. Lihatlah bagaimana kocaknya Denny menulis tentang Pangeran Cikeas.

Lihatlah bagaimana Denny merangkai kata menjadi kalimat menjadi surat terbuka buat Prabowo yang penuh sindiran teramat perih. Membacanya seakan akan Ia menyuarakan suara kita. Suara kita yang selama ini tersekat ditenggorokan. Lalu saat kita membaca tulisan yang persis seprti itu kita gegap gempita.

Perkembangan teknologi yang demikian cepat juga melahirkan banyak penulis penulis kocak yg berbeda roh. Penulis penulis ini juga tidak lepas dari topik Denny. Jonru penulis kocak tak berlogika sering mendapat porsi lelucon Denny. Kita sebagai pembaca benar benar terhibur. Lebih tepat semakin kaya dan sehat. Kaya akan wawasan dan sehat karena tertawa terbahak bahak.

Denny Siregar telah menjadi fenomena. Pengikutnya sudah hampit 70ribu orang. Tulisannya dijadikan jaminan akan laris dibaca. IslamNKRI, Arrahmahnews, bahkan menjadikan status Denny tulisan utama portal tersebut.

Tidak heran Denny telah menjadi simbol penulis yang berlawanan dengan Jonruisme. Maka tidaklah berlebihan di sana ada Jonruisme, di sisi kita ada DESSTA Denny Siregar Suara Kita.

Ya buat saya yang senang tulisan Denny, Denny Siregar adalah Suara Kita, DESSTA.

Salam Dessta.

Friday, January 29, 2016 - 23:45
Kategori Rubrik: