Denny Siregar: Gelombang Perubahan Jangan Dilawan

REDAKSIINDONESIA-Seleb media sosial Denny Siregar menyatakan, gelombang besar perubahan jangan ditahan apalagi dilawan. Sebaliknya perubahan harus dihadapi dan orang harus segera menentukan posisinya.

“Dulu kita akrab banget dengan Nokia. Hampir semuaHP yang kita pegang ber-merk Nokia, mulai dari yang pisang sampai yang communicator. Dulu keliatan canggih banget megang communicator. Serasa pebisnis muda yang sukses dan melek teknologi. Munculnya blackberry menyapu habis Nokia, ujar Denny dalam status Facebooknya tertanggal 5 Februari 2016 pukul 20.35 WIB.

Denny yang dikenal sebagai pengamat politik dan juga sosial di medsos melanjutkan, “Perilaku kita dalam berkomunikasi dirubah total. Biasanya kita SMS dua arah, berbalik menjadi model multi arah dengan grup BBM. Munculnya media sosial seperti Facebook dan Twitter kembali meugbah cara kita berkomunikasi. Dunia benar-benar hanya ada dalam genggaman.”

Denny menganalogikan, orang bukan lagi bicara dengan beberapa orang, lebih dari itu berada satu meja di warung kopi, bisa dengan ribuan bahkan puluhan ribu orang. Semua berhak bicara, semua mengeluarkan pikiran. “Kita bukan lagi menjadi individu, tetapi sekumpulan besar kepala dengan begitu banyak pemahaman, saling mempengaruhi satu sama lain. Bisakah kita menahan perubahan itu? Sama sekali tidak bisa. Melawan, kita akan hancur sendiri. Tertinggal seperti butir air ditengah gelombang besar perubahan yang menuju ke suatu tempat.”

Denny menegaskan, orang harus memilih dan pilihan terbaik adalah berselancar. Dia menambahkan, sebentar lagi media cetak akan bertumbangan. Kertas semakin mahal dan biaya operasional membengkak, sedangkan internet semakin murah. Perilaku dalam membaca pun akan berubah drastis. “Kita akan terpaku pada gadget di tangan kita untuk mencari informasi sampai komunikasi,” dia menuturkan.

Ada saatnya buku sudah tidak bisa lagi melambungkan imajinasi,menurut Denny hal itu karena imajinasi sudah terwujud dalam bentuk-bentuk yang pasti. Buku juga tidak mampu interaktif, sedangkan interaksi akan menjadi kebutuhan dasar.

Di atas semua itu, sambung Denny, dunia akan terkotak. Semua aktifitas manusia akan berada dalam ruang kecil bernama Google, mulai mencari sesuatu sampai berkomunikasi dengan seseorang. Orang merasa itu dunia yang sangat luas, padahal itu hanya seperti bumi di tengah miliaran galaksi. “Kita belum lagi menjelajah Baidu, yang mengotakkan komunitas masyarakat di China.”

Media televisi, imbuh Denny, juga mendapat lawan tangguh yang bernama media sosial. Manusia sudah tidak mau dicuci otak oleh kepentingan pemilik modal yang menggunakan televisi sebagai senjatanya. Nanti semua bisa membuat acara sendiri. Mengagumkan sekaligus mengerikan.

”Pertanyaannya, dimana posisi kita? Semua tergantung cara kita beradaptasi, meninggalkan pola-pola lama yang selama ini menjadi zona nyaman dan memasuki era baru yang penuh kompetisi.”

Denny menyarankan para penerbit segeralah membangun media digital dan merubah pola kertas menjadi elektronik. Oleh karena akan muncul sosok-sosok berpengaruh di media sosial yang akan melesat mengalahkan artis-artis karbitan. “Para pengiklan pun akan beradaptasi dengan perubahan. Radio yang hanya audio sudah banyak mereka tinggalkan. Media cetak yang ongkos produksinya mahal akan mereka lupakan. Mereka akan masuk ke pasar-pasar media sosial karena sifatnya yang mampu membangun emosi. Jauh lebih murah dan tepat sasaran.”

Denny tak menafikan kenyataan bahwa perubahan selalu membawa korban. Namun di satu sisi  juga akan memunculkan banyak kesempatan. “Tinggal kita mau berada pada posisi yang mana sekarang, itu pilihan..." (Mahifah Nailah)

Sunday, February 7, 2016 - 10:00
Kategori Rubrik: