Dengar Apa yang Disampaikan Bukan Siapa yang Menyampaikan

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Kemarin saya memposting video Romo Budi yang menyampaika pesan tentang berbuat baik untuk orang lain sebagaimana kita sering mengharapkan kebaikan untuk diri kita. Pesan itu disampaikan dengan cara yang bagus mellaui media uang sehingga pesannya mudah ditangkap.

Tapi saya tidak ingin mengulas pesan itu. Justru saya ingin menyampaikan bahwa kebaikan itu darimanapun datangnya tetap akan bernilai baik, harus dihargai dan diterima. Tidak peduli dari kelompok lain atau dari orang tidak penting, kebaikan tetaplah kebaikan. Jadi meski saya muslim, saya senang melihat pesan romo yang Katolik atau Kristen itu.
Sebagaimana para sahabat non-Muslim saya bercerita suka mendengar ceramah Buya Syakur karena isinya adem dan tidak memusuhi.

Dalam agama saya ada ajaran "Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah isi pembicaraannya". Ajaran ini sering dilupakan oleh para pendakwah, terutama mereka yang dari awal sudah melihat agama sebagai kotak yang memisahkan kita dan mereka. Padahal ajaran tsb justru membawa pesan universalitas, kemajemukan, toleransi. Bahkan jika yang bicara itu musuh, asal isinya baik ya harus kita terima atau amalkan. Maka aneh jika orang yang mengaku beragama nggak mau menerima kebaikan yang disampaikan lewat wayang kulit atau kisah Mahabarata, anti menonton ketoprak , film Hollywood atau drama Korea yang sarat pesan kebaikan. Atau nggak mau membaca filsafat Yunani yang berisi banyak kebaikan.

Ajaran yang saya maksud harap dibedakan dengan kesaksian dalam proses hukum, pemberian informasi ke publik atau beropini dalam konteks politik. Dalam kesaksian atau beropini perlu dilihat siapa yang bicara. Tukang bohong atau tukang fitnah misalnya, jangan sembarangan dipercaya omongannya. Dalam politik juga sangat penting melihat sejarah orang yang membuat pernyataan.

Jadi 'jangan lihat siapa yang bicara tetapi lihat isinya' adalah dalam konteks menyampaikan pesan kebaikan. Kebaikan itu universal. Seperti kata Gus Dur jika kamu berbuat baik untuk setiap orang tidak akan ada yang bertanya agamamu apa.
Ingat pula cerita Buya Syakur yang mengucapkan belasungkawa untuk Bunda Theresia tapi dikritik sebagai kurang kerjaan hanya gara-gara Bunda Theresia itu non muslim alias kafir. Ya Allah!!

Seperti pembelajar kungfu, pada level dasar, semua orang diajak gelut. bahkan pohon pisang pun dijotosi tanpa ampun. Serasa dirinya yang paling jagoan, semua orang lemah. Padahal gurunya mengajarkan ultimate value dari Kungfu adalah pengendalian diri, membela yang lemah.

Sumber : Status facebook Budi Santoso Purwokartiko

Sunday, May 31, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: