Demokrasi Pancasila Syar'i

ilustrasi

Oleh : Nun Alqolam

Surah Ali Imran ayat 159 disebutkan:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal" (QS. Ali Imran: 159).

Lafadz وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ , "dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu", adalah perintah bermusyawarah (syura) itu suatu perbuatan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang (orang banyak). Jika hanya satu orang (mono), ya nggak perlu bermusyawarah.

Ini artinya apa? Artinya kedaulatan rakyat, umat atau oraang banyak (demos) itu punya landasan syara'. Dgn kata lain demokrasi itu hakikatnya syar'i. Jadi yg syar'i itu bukan hanya monokrasi.

Biasanya alasan HTI menolak demokrasi itu karena masalah kasuistik, yaitu ada kasus voting, "ndilalah" yg menang itu opsi yg tdk baik, misalnya pemenangan pelegalam minuman keras, dsb. Ketahuilah disamping hal ini kasuistik juga karena masyarakat dlm komunitas itu belum iman dan taqwa. Klo ada kasus yg seperti ini, solusinya ya bagaimana cara masyarakat diiman dan takwakan. Lha inilah tugas kita bersama, lebih khusus tugas ulama, kiai, ustadz dan juru dakwah. Ini adalah lahan dakwah yg memang terus menerus harus diupayakan. ingat, "Innama bu'itstu liutammima makarial akhlaq", Sesungguhnya Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlaqul karimah". Lha kita sbg umat Rasul juga dituntut untuk selalu meneruskan perjuangan Rasul untuk berdakwah agar masyarakat itu akhlaknya baik. Jika masyarakat sudah berakhlak baik maka pasti jika musyawarah ataupun voting, opsinya memilih yg maslahat (kebaikan), bukan mafsadat (kerusakan).

Demokrasi hanyalah alat (wasilah). Namanya alat itu bisa jadi baik atau buruk tergantung siapa yg memegangnya. Contoh pisau itu alat. Pisau bisa digunakan untuk kebaikan, untuk mengiris sayuran, buah2an. Namun sebaliknya bisa untuk kejelekan/kerusakan jika digunakan untuk menikam orang. Untuk itu akhlak si pemegang pisau inilah yg perlu dikondisikan, diinstal dgn iman dan taqwa agar menjadi demokrasi wasilah hasanah.

(Sang Penoreh)

Sumber : Status Facebook Nun Alqolam

Monday, October 26, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: