Demokrasi dan Kebohongan

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Demokrasi kita demokrasi elitis. Butuh waktu lama, untuk sampai pada demokrasi sebenarnya. Kampanye pilpres kali ini, mudah membuat jenuh, juga was-was. Yang diomongkan sama. Tentang siapa lebih baik dari dirinya. Masing-masing menilai lebih baik dari lawan.

Celakanya, nasihat moral yang beredar, cenderung normatif. Jenis dan kelas manusia seperti A’a Gym bisa laris manis, meski bisa lamis. Katanya; “Betapa buruk perilaku munafik, seseorang menasihati orang lain agar rendah hati, padahal dirinya sendiri sedang berlaku sombong.” Bagaimana perilakunya sendiri? Halauw? Kud’a?

 

Siapa pandai bersilat lidah, dan tega melakukan, mungkin pemenangnya. Tapi tak semua orang tega dan berani melakukan, termasuk melakukan apa saja demi ini-itu. Coba bandingkan mulut dan jempol Fadli Zon dengan Ibu Iriana, yang meski istri Presiden tapi tak punya instagram, apalagi twitter. Kalau mereka berkompetisi jadi capres? Bisa jadi Fadli Zon yang menang!

Sementara kita melihat, perjuangan berat SBY, yang katanya terpaksa hanya bisa mengadu kepada Allah. Karena bendera partainya dirusak, dicampakkan ke parit. Sungguh penistaan yang memprihatinkan. Pekerjaan tuhan akan makin banyak, karena banyak politikus busuk, juga koruptor, selalu menyerahkan nasib pada tuhan.

Terus apakah nanti selain membela bendera tauhid, akan ada demo membela bendera partai? Entahlah, lagi dikalkulasi, nasi bungkus per-100-nya bisa dapat diskon berapa. Kalau beli 11 juta bungkus, uang diskon bisa nggak untuk cicilan mobil?

Sun Tzu (544 – 496 SM), jenderal dan penulis dari Negeri Aseng, ngendika; “Tahu dirimu, tahu musuhmu. Seribu pertempuran, seribu kemenangan.” Apa maksudnya? Jika kita mengetahui kekuatan (dan kelemahan) kita, dengan sendirinya kita mengetahui lawan. Selalu bisa memenangi semua pertempuran, karena menguasai masalah.

Jika tidak? Biasanya main citra dan fitnah, juga hoax. Menurut Mbah Sun Tzu itu, “Bertempur dan menaklukkan musuh dalam peperangan bukanlah kehebatan paling tinggi; kehebatan tertinggi ketika engkau mampu menghentikan musuh tanpa perlawanan.”

Tanpa perlawanan? Ialah dengan menjelaskan, bahwa semua yang dikatakan musuhmu adalah bohong. Tapi bukan dengan pernyataan, melainkan dengan meningkatkan kualitas diri, minimal setingkat lebih baik, lebih jujur, lebih tulus, lebih tawaduk, lebih sabar, lebih integrated, lebih pinter, lebih ugahari, dari upaya yang mendelegitimasimu.

Inti pencerahan ualah tak tersentuh. Tidak marah ketika dimaki, tak sombong tatkala dipuji. Tidak melekat pada kebahagiaan dan tak menolak kesedihan, ujar Gde Prama motivator dari Bali. Karena sombong, menurut Gus Mus, ialah lebihan ketololan dimana pemiliknya tak tahu harus dikemanakan. Tahunya dipamerkan ke Monas, atau kalau perlu shalat di tengah jalan, biar yang nabrak bisa dituding menista agama.

Terserah mau Hitler apa Tan Malaka. Kalau Tan bilangnya, “Berapapun cepatnya kebohongan itu, namun kebenaran akan mengejarnya juga.”

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Monday, December 17, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: