Demokrasi Ala Surabaya

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Sebuah daerah bisa cepat maju jika dipimpin orang yang baik/mumpuni. Agar muncul orang baik/mumpuni dalam pilkada, partai perlu berkorban mengorbitkan orang baik. Saya sebut berkorban, karena partai bisa jadi nggak dapat apa-apa dari calon yang didukung.
Setelah orang baik dimunculkan, masyarakat perlu cerdas dan jujur dalam memilih. 
Kegagalan sering terjadi karena banyak partai yang enggan mengangkat orang baik untuk diorbitkan. Dari sejak awal banyak partai yang sudah 'berdagang' dengan para bakal calon. Maka tidak muncul calon seperti yang diharapkan oleh masyarakat.

Kalau ada partai yang berani mengangkat calon yang baik, maka diperlukan pemilih yang cerdas dan jujur. Pemilih yang paham mereka sedang memilih pimpinan daerah, tukang pidato, pimpinan kompi, guru ngaji atau imam sholat. Jika pemilihnya nggak cerdas, maka meskipun tersedia calon yang baik, kegagalan mendapatkan pimpinan akan terjadi. Maka dari situ sulitlah daerah akan maju.

Kasus bu Risma jadi Wali kota Surabaya memang unik. Dari awal, ada partai yang mengorbitkan, masyarakat Surabaya juga termasuk cerdas dan jujur dalam memilih. Meskipun di perjalanan jabatan periode 1 sempat ada ontran-ontran mau dilengserkan karena mungkin tidak mau diajak 'kompromi' sama pejabat-pejabat di daerah(DPRD) atau tokoh partai, tapi backing pucuk pimpinan partai pengusungnya cukup kuat dan dukungan masyarakat tetap konsisten, gagallah pelengseran itu.

Di periode kedua, bu Risma sulit dibendung dengan kondisi yang hampir sama, ada partai pengusung dan tersedianya pemilih yang cerdas serta jujur.

Demokrasi ala Surabaya tidak mudah diulang/dicopy di tempat lain. Bahkan di Surabaya sendiri untuk waktu mendatang. Meski tersedia calon yang baik/mumpuni, kadang kualitas pemilihnya yang justru tidak mumpuni. Memilih orang yang salah untuk jabatan pimpinan daerah. Jadi untuk berhasil, keduanya harus ada: calon yang mumpuni dan pemilih yang cerdas dan jujur.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Tuesday, February 5, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: