Demo "Wagu"" Pendukung ISIS

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Orang Jawa menyebutnya "wagu" yaitu janggal, tidak enak dilihat, tidak nyambung, 'gak matching' terkait penampilan dan gaya bicara. Tapi penyebutan itu juga berlaku untuk hal lainnya. Misalnya, kemaren dukung ISIS sekarang dukung Panca Sila. Kemarin dukung Khilafah sekarang dukung NKRI. Kemaren dukung perda perda Syariah dan Islam Kaffah, sekarang mengaku nasonalis.

'Wagu' jadinya. Cuma orang pekok saja yang percaya. Kayak dagelan aja.

Tapi kalau demo sudah jadi bisnis dan mata pencaharian, apa pun jadi. Terutama karena sudah rindu turun ke jalan, ada 'bohir' yang mendanai, dan punya reputasi menurunkan ribuan kadrun, demi bela agama, bela Islam, bela ulama, bela habaib dan lain lain.

Ketika sejumlah ormas Islam radikal dan sektarian itu melakukan aksi penolakan atas Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) di depan gedung DPR-RI /MPR-RI, Rabu (24/6/2020), kemarin yang nampak hanya kelucuan

Tidak hanya meminta RUU HIP dibatalkan, massa juga mengatakan bahwa pengusul dari RUU tersebut merupakan pengkhinat bangsa.

Tuntutan penolakan RUU HIP oleh massa aksi PA 212 melebar menjadi tuntutan agar MPR turunkan Jokowi.

"Mendesak agar MPR menggelar sidang istimewa untuk memberhentikan Presiden Jokowi," kata Ketua Pelaksana Pergerakan Aksi PA 212 dkk Edy Mulyadi dalam orasinya di depan gedung DPR. Ada juga pembakaran bendera PDI-P partai pengusung Jokowi.

Aksi unjuk rasa di depan gedung DPR MPR RI, kemarin, diikuti oleh beberapa ormas. Antara lain DPP Front Pembela Islam (FPI), DPP Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), Bang Japar, Pergerakan dan Jawara Bela Umat (PEJABAT), Pembela Tanah Air (PETA), Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami (HASMI), Brigade Jawara 411, Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) dan Masyumi Reborn.

Bukan sekali ini mereka demo bareng setelah sukses menurunkan Ahok lewat isu penistaan agama - mereka ketagihan untuk turun ke jalan, main reuni reunian dan sejenisnya. Isunya senada. Dan ujungnya sama juga: turunkan Presiden Jokowi.

Siapa pentolan demo ini ? Salahsatu dan jadi juru bicaranya adalah Yusuf Martak. Sekarang dia disebut ustadz dan ulama. Jabatannya, Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U).

Yusuf Martak berasal dari keluarga pedagang. Ia adalah keponakan Faradj bin Said bin Awadh Martak atau yang lebih dikenal dengan nama Faradj Martak, seorang saudagar Arab kelahiran Hadhramaut, Yaman. Dari negeri ini juga datang kakek moyang Riziek Shihab FPI dan Anies Baswedan yang kini mengelola DKI Jakarta. Ketiganya bahu membahu menumbangkan Ahok dengan isu agama untuk mengantar Anies ke Balaikota.

“Kita ke sini karena keterpanggilan kita, di mana Pancasila yang akan dirongrong oleh kelompok yang tidak jelas,” kata Yusuf Martak dalam orasinya di atas mobil komando milik DPP FPI, Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Yusuf Martak yang berkali kali turun ke jalan untuk aksi aksi sektarian, anti pemimpin non muslim - mendadak membela Pancasila ? Sedang melawak kah?

Kalau kita 'googling', dunia digital belum menghapus jejaknya. Latar belakangnya adalah pebisnis.

Yusuf Martak adalah Vice President PT Energi Mega Persada, selaku pihak pemilik saham terbesar PT Lapindo Brantas yang menyengsarakan warga Sidoardjo.

Di awal tahun 2007, Yusuf Martak mengatakan, bahwa pihaknya hanya mampu menyediakan dana maksimal sebesar Rp3,8 triliun untuk menangani semburan lumpur di Sidoarjo.

Berita mutakhir, Lapindo masih memiliki kewajiban untuk membayar pokok utang sebesar Rp 773,3 miliar. Namun dari jumlah tersebut, Lapindo baru membayarkan Rp 5 miliar.

Yusuf Martak sendiri mengaku sudah berhenti dari Lapindo sejak 2012 lalu. Tapi jelas dia masih punya kewajiban moral pada kesengsaraan puluhan ribu warga Sidoardjo.

Dari pengusaha, Yusuf Martak hijrah dan berubah penampilan jadi ulama, yang entah bagaimana jejak-rekamnya sehingga ia bisa menyandang gelar tersebut. Dengan wajahnya yang keArab Araban memang tak sulit, awam langsjng percaya. Dan dengan posisi barunya sebagai Ketua GPNF Ulama menjadikan legitimasi baginya untuk menghadapi siapa saja yang menekannua khususnya negara.

Selain Yusuf Martak, ormas FPI menjadi tulang punggung demo RUU HIP.

Mengapa ormas Front Pembela Islam (FPI), mendadak teriak bela Pancasila dan NKRI ?

Rasanya baru kemaren kita baca maklumat itu. Maklumat yang lembarannya masih terpampang di google berikut penanda-tanganannya. Bahwa mereka mendukung ISIS, teroris paling bengis di dunia dekade ini.

Bahwa mereka berjuang menerapan Syariah Islam dan Penegakan Khilafah Islamiyah melalui jalan dakwah, hisbah dan jihad sesuai Manhaj Nubuwwah.

Bahwa dalam perjuangan penerapan syariat Islam secara kaffah di NKRI dilakukan melalui koridor syar’i dan konstitusi.

Selain itu, FPI setia mendukung segenap gerakan jihad Islam di seluruh dunia dalam melawan segala bentuk kezaliman hegemoni global (new imperialism) untuk menuju terbentuknya Khilafah Islamiyah Alamiyyah sesuai Manhaj Nubuwwah.

FPI mendukung seruan dan nasehat Pimpinan Al-Qaeda Syeikh Aiman Az-Zhowahiri bahwa seluruh komponen jihad Al-Qaeda baik pasukan Syeikh Muhammad Al-Jaulani di Syria maupun pasukan pasukan Syeikh Abu Bakar Al-Baghdadi di Irak, serta komponen jihad Al-Qaeda lainnya agar bersatu dan bersaudara dengan segenap mujahidin Islam di seluruh dunia untuk melanjutkan jihad di Syria, Irak, Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya yang tertindas.

Baik Al Baghdadi maupun Al Jawlani , menurut situs web 'Rewards for Justice', sama sama bertanggung jawab atas beberapa serangan teroris di seluruh Suriah, dan sering menargetkan warga sipil.

Mereka berperan di balik aksi penculikan dan pembunhan warga sipil dalam perang melawan pemimpin / presiden Suriah, Bashar Al Ashad.

Maklumat FPI di tahun 2014 itu tak hanya ditujukan khusus kepada MPR RI, DPR RI, dan DPD RI, melainkan teristimewa bagi Pemerintah RI dan segenap jajaran penegak hukumnya, sipil dan TNI/Polri. ***

Sumber : Supriyanto Martosuwito

Sunday, June 28, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: