Demo Mahasiswa, Apa Artinya?

Oleh: Dimas Supriyanto

DEMO MAHASISWA APA ARTINYA? Tidak ada artinya, menurut saya. Kalaupun ada, artinya mahasiswa sudah terkooptasi oleh politisi oposisi - yang sedang gigih menggoyang penguasa, menjelang Pilpres 2019 ini - karena gentar dengan fakta fakta obyektif yang mereka hadapi.

Ketika oposisi tak lagi mampu mengekploitasi isu SARA, antek PKI, antek asing, kurs dollar naik, kini mereka “nitip” agenda lewat mahasiswa. Dan sekumpulan ‘anak anak alay’ itu menurut saja.

Mereka harusnya malu pada seniornya yang berhasil menurunkan Presiden Soeharto di tahun 1998. Kini mereka justru jadi operator lapangan dari kaki tangan Soeharto yang ingin bangkit kembali. Segelintir mahasiswa yang naif sejarah, seperti lagi iseng karena tak ada agenda.

Gerakan mahasiswa sudah kehilangan marwahnya karena sudah jadi operator partai lawan pemerintah. Tidak punya gagasan sendiri. Membawa isu basi.

Jika menuturi tuntutan mahasiswa, maka presiden diganti setiap tahun. Sejak era reformasi 1988, semua presiden yang sedang meerintah dituntut mundur : Gus Dur - Megawati - SBY dan Jokowi setiap tahun didemo dan dituntut mundur. Tak ada satu pun tuntutan yang sukses. Semua presiden tergantikan lewat koridor demokrasi dan penyelenggaraan pemilu dan Pilpres.

SAAT INI, mahasiswa mahasiswa yang memenangkan lomba robotik, melahirkan temuan baru, membuat karya karya inovatif, membuat aplikasi dan mendirikan perusahaan rintisan (start up) ikut misi kebudayaan atau membuka warung kopi dan memberikan lapangan kerja bagi sekitar - jauh lebih bermartabat dibanding segelintir mahasiswa yang kini teriak teriak di jalan, yang membawa isu dan agenda orang lain – pihak lain. Cuma jadi ‘Toa’.

Apa mereka tidak belajar dari Soe Hok Gie (1966), Ahmad Wahib (1970), Hariman Siregar (1974), Wimar Witular (1988) dan empat sekawan Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie dari Trisakti (1998) – yang menebus perjuangan mereka dengan nyawanya - saat berhadapan dengan rezim militer yang mengukuhkan kekuasaan yang sedang menumpukkan kekayaan untuk keluarga Cendana di masa lalu?

Alih alih menentang kelanjutan kembali Soeharto, yang masih berbahaya, dan siap bangkit kembali, justru kini mengikuti agenda kaki tangan mereka.

Tak ada demo mahasiswa di Riau (dan Jambi) ketika tiga gubernur mereka terlibat korupsi dan ditangkap KPK. Tapi hanya beberapa hari kedatangan Capres Sandiaga Uno dan ketua BEM Riau memamerkan kemesraaan mereka, meletus demo antiJokowi di Riau.

Naif sekali jika dua peristiwa itu tak ada kaitannya.

Di sisi lain, alih alih memperkuat keIndonesiaan, mahasiswa ‘alay’ dan ‘amnesia sejarah’ itu malah merusak Pancasila dan NKRI, jadi antek gerakan Islam TransNasional, seperti jadi kader PKS di UI – yang mengibarkan kartu kuning ada Presiden Jokowi - dan kader kader organisasi Harmoni Amal dan Titian Ilmu (HATI) yang merupakai persemaian paham Hizbuth Thahir Indonesia (HTI) yang terlarang, di kampus legendaris ITB – sehingga dibekukan di kampusnya.

Di rumah saya ada dua mantan mahasiswa (kini sudah diwisuda) dan sejak mula saya tak mengizinkan mereka ikut organisasi politik. Karena, dengan pengamatan sekilas saja, gerakan mereka tidak bermutu. Saya tidak menyesalinya, melihat kualitas gerakan mahasiswa yang ada di jalan sekarang.

Saya mengenang kehebatan mahasiswa era 1970-an 1980an, yang dijadikan teladan anak anak SMA masa itu, yang secara berkala membuat pernyataan bersama, pernyataan intelektual dan kritis, sebagaimana disampaikan kelompok Cipayung, HMI, PMKRI, dll, yang sangat berbobot sehingga menjadi berita halaman satu di ‘Kompas’ dan ‘Sinar Harapan’, serta koran lainnya.

Tak ada mahasiswa berbobot lagi di kalangan aktifisnya saat ini. Yang ada kumpulan anak anak 'alay', yang pamer kemesraan dengan Capres pengusaha yang makmur.

(Sumber: Facebook)

Monday, September 17, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: