Demo Cinta Indonesia

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Syahdan, Pendekar Kapak Naga Geni 212 akan beraksi lagi, besok Jumat 287. Kini tattoo yang bakal ditoreh di dadanya, "Seribu Bendera Merah Putih Berkibar Sebagai Bukti Cinta Kami Pada Negara Kesatuan Republik Indonesia!" Heroik banget?

Halah, nggatheli. Rayuan dengan kata-kata gombal, biasanya hyperbolic, penuh kata bersayap. Itu pun sudah tak dipercaya lagi, karena lebay. Lha ini, diekspresikan dengan kata-kata bodoh, standar, normatif. Puitis juga kagak. Terasa lamis.

 

 

Memangnya kalau sudah gitu-gitu banget, itu nasionalis? Terus kita jingkrak-jingkrak ndukung demo? Itu kan sama dengan jidat bertato item, yang ngotot dibilang simbol kesalehan terus jedot-jedotin jidat ke lantai? Bukan itu, Tukijan!

Cinta sejati mah, menurut ahli cinta, tak pernah dinyatakan verbal dan vulgar. Biasa wae. Pernyataan dalam cinta, adalah gombal amoh. Karena yang penting kenyataan. Bolak-balik menyatakan cinta banget, sesungguhnya hanya dalih. Agar bisa nunjukin dirinya kuat, didukung banyak orang, dan terus saja baperan ke sana-kemari?

Cinta kok bengis. Cinta kok minta ongkos, untuk pacaran. Itu cinta atau cari duit? Kata Mahatma Gandhi; Cinta tak pernah menuntut, cinta selalu memberi. Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam. Lha kamu?

Gandhi 'kan Hindu? Hadeh, cinta kok pilih-pilih. What light is to the eyes what air is to the lungs what love is to the heart, tutur Robert Green Ingersoll, manusia abad pertengahan dari AS. Cahaya terlihat oleh mata, udara terserap ke paru-paru, cinta berasal dari hati.

Sang pakar cinta Erich Fromm, dalam The Art of Loving (1956) menulis: Cinta adalah kekuatan aktif yang bersemayam dalam diri manusia; kekuatan yang mengatasi tembok yang memisahkan manusia dengan sesamanya, kekuatan yang menyatukan manusia dengan yang lainnya.

Sedangkan bagi Rumi, karena cinta duri menjadi mawar, karena cinta cuka menjelma anggur segar. Menyatakan cinta pada NKRI tapi menghujat-hujat pemerintahan, memaksa untuk diberi konsensus, keringanan, rekonsiliasi, melihat Jokowi kayak badut, melihat Ahok kayak anjing? Sementara pada Prabowo dan SBY kamu puji-puji sundul langit? Itu mah bukan cinta, tapi adu-domba. Ingatlah nasihat Rhoma Irama, adu domba itu dosa. Dosa itu masuk neraka. Neraka itu jahanam. Jahanam, tujuh, delapan!

Lagian, cinta kok dinyatakan tiap Jumat, sementara sunah nabi konon tiap kamis malam. Ini ekspresi kegembiraan, atau kekecewaan malam sebelumnya? Kesannya cinta nebeng. Masih berat diongkos, manfaatin jamaah kumpul shalat jumat. Emang nggak ada anggaran untuk transportasi, atau sudah ketilep?

Cinta bertendens, biasanya dilakukan manusia dekaden. Apalagi mereka yang selalu mengatasnamakan agama. Itu ciri manusia yang tega mendiskreditkan tuhan. Meletakkan tuhan pada posisi yang sulit, jadi korban fitnah. Dan membiartkan tuhan berapologia sendiri.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Thursday, July 27, 2017 - 09:45
Kategori Rubrik: