Demi Berhala Identitas

Oleh : Anis Sholeh Ba’asyin

Suatu malam, dari dalam rumah syaikh Juha terdengar suara pertengkaran hebat. Adu mulut sang syaikh dan isterinya yang makin lama makin bising itu, tentu saja mengganggu para tetangga. Dan ketika kebisingan ini berpuncak pada suara gaduh benda berat jatuh, para tetangga tak kuasa lagi menahan rasa penasarannya. Beramai-ramai, mereka segera mengetuk pintu rumah syaikh Juha.

“Apa yang terjadi syaikh?” tanya para tetangga.

“Jubahku jatuh melalui tangga!” jawab syaikh dengan suara terengah-engah.

“Kalau sekedar jubah jatuh, kenapa begitu gaduh?”

“Itulah masalahnya,” celetuk syaikh, “aku ada di dalam jubah itu!”

Kontruksi Prasangka

Iskandar al-Balkhi, seorang sufi, saat mendekati ajal sempat berpesan pada putranya, “Sadarilah, bahwa apa yang engkau sangka sebagai dirimu itu hanyalah ramuan keyakinan-keyakinan orang lain yang dijejalkan ke dalam dirimu, tapi bukan dirimu yang sebenarnya!”

Celakanya, apa yang oleh Iskandar al-Balkhi dianggap sebagai ‘bukan dirimu yang sebenarnya’ itulah yang hari-hari ini justru kita sebut sebagai identitas. Sesuatu yang secara ajaib tiba-tiba mengikat, mengurung dan -kalau boleh meminjam istilah syaikh Juha- menjubahi kita tanpa bisa ditolak.

Karena itu, meski terlahir di dunia, orang tak pernah disebut identitasnya sebagai warga dunia. Orang cuma diberi hak untuk menjadi bagian dari identitas yang lebih kecil dari itu: sebagai anggota ras tertentu, bangsa tertentu, etnis tertentu, agama tertentu, mazhab tertentu atau budaya tertentu.

Meski bisa dihubungkan dengan beberapa unsur bawaan, seperti ras atau gender, atau dengan agama dan budaya tertentu misalnya; tapi sebagai sebuah konstruksi sosial, identitas tidak serta merta lahir dari unsur-unsur ini. Ia justru terbentuk dari penilaian dan -celakanya- juga prasangka yang secara terus menerus dilekatkan pada unsur-unsur ini.

Dan tampaknya kita bukan cuma ditakdirkan untuk terjun bebas ke belantara identitas, dan mau tak mau harus tumbuh dalam jubah identitas tertentu; tapi sekaligus ‘ditakdirkan’ untuk selalu ikut berperan serta mengabadikan prasangka-prasangka yang -entah siapa penyusunnya- sudah terintegrasi dalam masing-masing identitas ini.

Prasangka yang tampaknya merupakan dampak langsung dari upaya menegaskan keberbedaan yang satu dari yang lain. Pada batas tertentu, alih-alih mendorong orang untuk secara arif menyikapi perbedaan sebagai sesuatu yang alamiah dan netral; upaya ini justru merangsang orang untuk menyulap perbedaan yang ada menjadi simbol kebenaran atau kesesatan, kemuliaan atau kehinaan, superioritas atau inferioritas, kecerdasan atau kebodohan, kejujuran atau kelicikan, dan seterusnya dan seterusnya.

Padahal, apa yang diklaim sebagai identitas seringkali lebih merupakan faktor pembeda dalam pergaulan manusia belaka. Faktor pembeda yang ukurannya selalu sepihak dan hanya bisa didefinisikan dalam perbandingannya dengan yang lain.

Faktanya, orang selalu kesulitan menemukan definisi identitas dari dalam dirinya sendiri. Karena, bila secara ekstrim diurai sampai dengan satuan terkecilnya, identitas hanya akan tampak sebagai penggejalaan perbedaan pribadi-pribadi belaka.

Celakanya, sikap kritis kita atas fakta semacam ini acap tumpul. Bisa jadi karena -dengan satu dan lain cara- sejak awal kita terlanjur dididik dan dibudayakan untuk menganggap identitas sebagai second nature kita yang sakral.

Dengan posisi semacam ini, dan dengan kemampuannya yang luar biasa dalam membungkam daya kritis; tak mengherankan bila identitas begitu sering bermetamorfosa menjadi faktor pemicu horor, pembantaian dan genosida.

Padahal, dari awal mestinya orang bisa memperkirakan, faktor prasangka dan penilaian sepihak semacam inilah yang selalu menjadi unsur eksplosif yang labil, dan bisa menciptakan ledakan begitu bergesekan dengan akumulasi unsur sosial-ekonomi-politik-budaya tertentu.

Di Rwanda misalnya, suku Tutsi -yang minoritas dan sebelumnya menikmati previlese sebagai kelas berkuasa- bisa tiba-tiba dianggap sebagai sekedar ‘kecoak’ (begitu istilah yang digunakan) oleh suku Hutu yang mayoritas. Sebagai ‘kecoak’ mereka lantas layak diburu dan dibantai dimanapun ditemukan.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana hal nyaris serupa pernah pula terjadi antara orang Madura dan Dayak di Kalimantan, atau kasus orang Bali di Lampung misalnya. Dalam beragam variasi penggejalaannya, catatan semacam ini bisa panjang sekali.

Identitas dan Agama

Yang paling menakutkan tentu saja bila gesekan yang terjadi sudah menyangkut identitas yang bagi banyak orang menjadi faktor paling sensitif, yakni: agama. Baik menyangkut dua identitas agama yang berbeda maupun dua identitas  di dalam agama yang sama (yang terbentuk berdasar aliran yang berbeda, misalnya). Sungguh, ledakan benturan seperti ini bisa sangat mengerikan.

Rasanya hampir semua agama punya catatan sejarah tentang konflik semacam ini. Meski banyak pihak yakin konflik ‘bernuansa’ keagamaan pada dasarnya selalu dipicu faktor-faktor di luar agama itu sendiri.

Bahkan, kalau mengikuti Karen Armstrong (2001), sejarah menunjukkan bahwa hal ini sejak awal selalu terjadi dalam setiap konflik yang membawa-bawa agama ke dalamnya, tak terkecuali perang salib yang diberi embel-embel perang suci sekalipun. Meski demikian, keyakinan semacam ini tak serta merta bisa mencegah berulangnya konflik serupa.

Sangat mungkin salah satu sebabnya adalah bahwa di medan kenyataan, secara aneh, para pelakunya entah kenapa- selalu saja berhasil diyakinkan bahwa konflik yang terjadi bukan sekedar ‘bernuansa’ keagamaan, tapi memang benar-benar konflik ‘keagamaan’.

Kesaksian kritis Amin Maalouf tentang konflik Libanon di era 70 sampai 80-an, seperti diungkapnya dalam In The Name of Identity, misalnya; adalah contoh tajam tentang bagaimana ‘agama’ beroperasi dan diplesetkan dalam medan konflik semacam ini, tanpa seorangpun mampu mencegahnya lagi. Begitu benturan terjadi, seolah yang tersisa tinggal dua pilihan: identitas kami atau identitas mereka yang hancur.

Yang tak kalah menakutkan, dengan memanfaatkan temuan-temuan antropologi misalnya, kini siapapun bisa menstimulasi benturan semacam ini dengan meletakkan pemicu di sekian titik rawan yang pasti tersedia di tiap identitas. Sekian pemicu yang akan mengguncang penopang konfigurasi sosial yang ada dan memprovokasi benturan antar identitas (termasuk agama) yang berbeda.

Ibarat meletakkan peledak di titik-titik rawan dalam konstruksi bangunan atau gunung es, maka runtuhnya bangunan atau longsornya salju tinggal ditunggu saja. Dan ini bisa terjadi di manapun dan kapan pun. Kasus Poso atau -dulu- Ambon, juga konflik dengan skala yang lebih kecil yang secara sporadis kerap pecah di banyak daerah (baik antar maupun inter agama) misalnya, adalah contohnya.

Kini kasus yang nyaris serupa juga kita lihat sedang dipertontonkan di Irak dan -dalam batas tertentu- tampaknya juga sedang kembali mengintip di Suriah dan Libanon. Dalam semua kasus ini, identitas benar-benar menjadi awal mula petaka. Sungguh absurd membayangkan bahwa orang bisa begitu saja kehilangan nyawa cuma karena identitas yang menempel pada dirinya, cuma karena jubah yang dikonstruksikan oleh realitas sosial historis tanpa pernah bisa ditolaknya.

Melawan Prasangka

Untuk melawan, membongkar atau -paling tidak- meminimalisasi peran prasangka-prasangka yang selama ini selalu menjadi amunisi konflik antar identitas; tampaknya kita harus belajar dari kearifan para mistikus, dari para sufi.

Dari merekalah kita bisa belajar untuk melampaui penjara identitas, merelatifkannya, untuk kemudian meraih diri sejati yang -pada dasarnya- cenderung untuk selalu merangkul semesta dengan kasih sayang.

Ironisnya, inilah yang seharusnya menjadi salah satu fungsi utama agama (yang oleh para penganutnya justru kerap diturunkan fungsinya menjadi sekedar berhala identitas), dan sekaligus berarti menjadi salah satu tugas utama para agamawan pula (yang seringkali justru ikut-ikutan terbenam dalam pemujaan berhala identitas itu sendiri).

Sebagai bangsa yang terbentuk dari beragam identitas, tampaknya kita harus mulai belajar menyikapi identitas sebagai sekedar jubah pergaulan dunia. Jubah yang memiliki keterbatasannya sendiri, sehingga tak boleh diberhalakan dan dianggap sebagai segala-galanya.

Tanpa mau belajar untuk menyikapi identitas sebagai ‘bukan dirimu yang sebenarnya’, kita jadi mirip syaikh Juha: dengan konyol selalu ikut jatuh bangun bersama ‘jubah’ identitas yang kita pakai atau dipakaikan orang pada kita. Tentu saja jatuh bangun yang menyisakan korban dan dendam tak berkesudahan. Dan, dengan begini, artinya tanpa sadar kita telah menyediakan ladang bagi siapapun untuk mengail keuntungan darinya!** (ak)

Sumber: sulukmaleman.org

Saturday, May 14, 2016 - 07:30
Kategori Rubrik: