Definisi Halal Haram dari Sudut Pandang Berbeda

Oleh : N.S. Rahayu  Setiawati Damanik

Topik mengenai halal-haram belakangan ini semakin marak beberapa diantaranya dipicu oleh sebuah artikel mengenai manfaat binatang yang dianggap haram tersebut. Sulitnya mencari produk yang halal mungkin menjadi motivasi bagi salah satu produsen mengeluarkan hijab berlabel halal. Produk ini kemudian menjadi dasar tulisan sebuah artikel, "Tubuh yang Penuh Balutan Stempel Halal" Meskipun saya bukan seorang Muslim, bukan berarti tidak peduli akan yang namanya halal dan haram. Justru saya sangat memperhatikan halal dan haram sampai detail karena penting bagi saya memiliki hati yang halal.

Saya mendefenisikan halal–haram sedikit berbeda dengan defenisi pada umumnya. Saya mendefenisikan halal dengan cara menjaga makanan di usaha day care halal karena haram bagi saya mengatakan makanan yang ada di day care halal padahal tidak. Apalagi orang tua yang menitipkan anak di day care saya kebanyakan berhijab. Bergaul dengan teman-teman Muslim saat kuliah dulu membuat saya banyak memahami mengenai ajaran Islam, salah satunya mengenai halal-haram. Halal atau tidaknya suatu makanan bukan hanya dinilai dari apakah di dalam makanan itu ada unsur haramnya namun mengenai peralatan yang digunakan. Itulah sebabnya sejak membuka usaha day care saya tidak pernah memasak makanan yang dianggap haram di rumah saya. Keluarga besar saya tahu apa yang saya lakukan ini. Bila ada acara arisan di rumah saya, walaupun acara batak saya jamin semua makanan yang saya sajikan halal.

Saya mau "repot-repot" demikian karena haram bagi saya bila mengatakan makanan di day care halal padahal sebenarnya haram. Saya tidak takut kepada orang tua yang menitipkan anak di day care karena pasti mereka tidak tahu persis bagaimana makanan di day care. Namun saya menjaga kehalalan hati di mata-NYA. Saya percaya DIA mengharamkan yang namanya berdusta sekecil apa pun itu. Saya juga pernah mengeluarkan seorang asisten rumah tangga karena sudah sungguh bersabar mengajarinya namun tidak menunjukkan perubahan. Sekian lama saya menunggu tampaknya dia tidak peduli bahkan semakin ngelunjak karena saya selalu bersabar atas kekurangannya. Akhirnya saya mengeluarkan dia dengan alasan yang dibuat-buat karena khawatir mengalami seperti apa yang dulu pernah saya alami, ada asisten yang tidak mau saya keluarkan. Hati saya tidak tenang dan sangat gelisah setelah dia saya keluarkan dengan alasan dusta. Akhirnya saya berinisiatif menyampaikan kepada mantan asisten rumah tangga tersebut kalau saya sudah tidak jujur, saya katakan maafkan karena alasan saya mengeluarkan dia bukan karena apa yang saya katakan namun karena ada alasan lain di hati saya.

Seorang pasangan pernah meminta saya untuk mengatakan sesuatu “kebohongan kecil” kepada pasangannya supaya anak mereka tetap dititipkan di day care. Sewajarnya saya ikuti saja karena bisa memberi keuntungan bagi saya namun saya menyatakan baik-baik kepadanya kalau saya tidak ingin berkata dusta walau kecil dan berpotensi memberi keuntungan bagi saya. Dusta adalah haram menurut saya.

 Empat tahun yang lalu, saat suami saya masih bekerja di maskapai penerbangan BUMN, dia pernah membawakan saya makanan yang enak sekali. Saya lupa persisnya bagaimana, yang pasti itu adalah makanan yang sisa dari pesawat dan dibagikan ke beberapa karyawan. Makanan itu hanya sedikit sehingga kami berdua sampai berebutan memakannya dan tertawa terbahak-bahak karena serunya acara saling berebut makanan enak itu.

Keesokan harinya dia membawa makanan sama yang cukup banyak di dalam tasnya. Suami berpikir saya bakal senang namun saya hanya terdiam. Saya tanyakan kepadanya darimana dia mendapatkan makanan yang banyak itu? Tidak mungkin makanan sisa sebanyak itu. Saya menanyakan apakah makanan tersebut juga dibagi-bagikan? Suami tidak memberikan jawaban yang memuaskan, akhirnya saya katakan kalau saya tidak mau memakan makanan yang tidak jelas asalnya. Saya sampaikan kepada suami supaya janganlah juga membawa uang, makanan, atau rezeki lain yang tidak jelas asalnya. Haram bagi saya menerima rezeki yang bukan menjadi hak pribadi.

 Kira-kira demikianlah saya mendefenisikan halal-haram. Apalah dampaknya seseorang menjaga dengan teliti sekali makanan atau pakaiannya namun hatinya penuh niat yang jahat. Apa yang terlihat di luar tidak bisa menggambarkan apa yang di dalam. Meskipun demikian pakaian tetap harus dijaga supaya tidak seminim mungkin apalagi bila di tempat ibadah karena bila memenuhi undangan Presiden kita berpakaian sopan apalagi menghadiri undangan-NYA bukankah seharusnya sangat hormat yang salah satunya ditunjukan dengan jangan berpakaian yang "kurang bahan"? Hati dan pikiran ibarat sumber mata air, bila hati dan pikirannya bersih maka seluruh tubuhnya bersih. Sebaliknya seorang yang hanya memikirkan bagaimana supaya halal di luar dan tidak memedulikan apa yang di dalam hati, ibarat kuburan yang sangat indah dan megah namun di dalamnya hanya tulang-belulang yang membusuk. Salam, Rahayu Damanik

Sumber : Kompasiana

Monday, February 8, 2016 - 13:45
Kategori Rubrik: