Dedikasi Pekerja PT KAI

ilustrasi

Oleh : Ellen Kristi

Subuh ini saat turun di Stasiun Tawang, ada peristiwa sederhana tapi berkesan.

Sebelum kereta berhenti, aku sudah jalan ke pintu gerbong. Ada satu mbak di depanku, aku urutan kedua, jadi bisa melihat cukup jelas yang terjadi di muka pintu.

Seorang petugas menyiapkan tangga pijakan buat penumpang di pintu gerbong. Tapi gerbong berhenti dalam posisi ada tiang menghalang persis di tengah pintu keluar.

Kulihat petugas tadi berusaha memposisikan tangga supaya bisa sedekat mungkin dengan kaki penumpang. Terdengar "dung-dung" benturan tangga pijakan dan tiang ketika petugas itu memepetkan tangganya semepet mungkin ke mulut pintu.

Mbak di depanku melangkah hati-hati menginjak tangga di kiri mulut pintu. Tangga itu bergoyang. Gerbong kami ndilalah memang mandeg di ujung stasiun yang tanahnya tidak rata.

Aku giliran turun berikutnya. Saat kupijak, tangga itu bergoyang-goyang lagi. Petugas tadi masih berdiri di dekat tangga, mengamati.

Sebelum menjauh dari gerbong, sempat kulihat si petugas berjongkok. Dia memungut batu dari rel di bawah gerbong, lalu memasangnya sebagai ganjal tangga pijakan, supaya tidak goyang-goyang lagi.

Aku melangkah pergi, tapi benakku masih memikirkan petugas tadi.

Dia sebetulnya bisa saja taruh tangga pijakan asal-asalan di muka pintu lalu pergi. Yang penting kewajiban sudah gugur kan? Peduli amat tangganya goyang-goyang. Dia bisa saja tidak peduli. Tapi dia memilih untuk berusaha memposisikan tangga sebaik mungkin, berusaha membuatnya sestabil mungkin untuk dipijak. Dia melakukan tugasnya sepenuh hati, meski tak ada yang mengapresiasi!

Aku jadi terpikir ingin memotret petugas itu, semoga dia masih ada.

Aku menoleh. Kulihat dia sedang berjalan bergegas. Kunyalakan kamera HP. Dia sudah mulai menaiki tangga ke atap gerbong. Aku jepret.

Dia sudah di atap gerbong, berjalan menyusurinya. Aku penasaran. Aku berhenti sejenak mengamatinya, apa sih yang mau ia kerjakan di atap itu?

Ting-tong-teng-tung, sepertinya kereta sebentar lagi diberangkatkan ke tujuan akhir Surabaya Pasar Turi. Petugas itu masih di atap. Dia menarik gulungan ... oh, gulungan selang. Selang itu ia selipkan masuk di kotak besar, sepertinya sedang mengisi tandon air di kamar mandi gerbong.

Ingin kupotret lagi, tapi di kamera dia nyaris tak terlihat, karena latar langit yang masih gelap. Aku melanjutkan langkah ke rambu KELUAR diiringi ting-tong-teng-tung.

Petugas itu masih di benakku. Perannya tak semencolok masinis. Seragamnya tidak sekeren kondektur atau pramugara. Pekerjaannya luput dari perhatian kebanyakan penumpang.

Dalam sistem besar layanan kereta api, dia ibarat sekrup kecil. Namun ia sekrup kecil yang bekerja dengan hati, tanpa menunggu dipuji. Dan meski kita penumpang tak menyadari keberadaannya, yang ia kerjakan sebetulnya berguna.

Aku jadi teringat diskusi dengan kawan-kawan di grup Klub CMid Semarang kemarin. Topiknya soal individualisme, salah satu penyakit peradaban modern.

"Masyarakat individualistik mengkhotbahkan bahwa sang individu dan segala prestasinya itulah segala-galanya dan bahwa setiap orang bisa mendapatkan nasib istimewa. Komunitas tidak penting. Kelompok itu hanya bagi kaum rata-rata. Menjadi 'biasa-biasa saja' adalah kutukan. Hasilnya, sesuai statistik, kebanyakan dari kita akan berakhir sebagai pecundang menyedihkan.

Obat penawarnya adalah menghayati bahwa hidup biasa-biasa saja itu luar biasa – suatu penghargaan yang pantas terhadap kesenangan dan kepahlawanan tanpa tanda jasa sehari-hari."

https://www.theschooloflife.com/…/how-the-modern-world-mak…/

Di tengah persaingan menjadi yang paling menonjol, perebutan bangku sekolah favorit, pameran prestasi di media sosial, sepertinya lebih sehat bagi jiwa kita untuk mengagumi kerja tulus orang seperti si petugas kereta api tadi.

Menjadi rata-rata itu tidak hina. Yang penting yang menjalani merasa dirinya dan kerjanya bermakna.

Sumber : Status Facebook Ellen Kristi

Monday, June 24, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: