Decency

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Atau kepatutan, yang erat kaitannya dengan kredibilitas. Kredibilitas menentukan credential atau tingkat pengakuan. Jika ketiganya rendah maka demikianlah kualitas orang itu. Dan kualitas orang menentukan hasil pekerjaannya.

Menjadi pejabat negara mesti punya wibawa agar masyarakat percaya aspirasi yang diamanatkan lewat suaranya di Pilkada bisa diwujudkan secara nyata. Tapi dengan cara-cara tidak layak berpose sembarangan ketika berseragam resmi, ada karakter yang muncul.

Dia ini meski ibunya pakar etika tapi mannernya jeblok. Pose becandaan mengesankan dia ini selalu merasa insecure, kekanak-kanakan, sembrono sekaligus protektif. Jika terdesak, bicaranya kampungan. Bahasa dan kata-katanya tidak baku dan sering menggunakan bahasa pasar termasuk intonasi dan bahasa tubuhnya. Empty talk hasilnya. Seperti pojok jomblo atau dp nol persen. Nol besar, ngibul dan ngawur.

Sukar berharap banyak dari kepemimpinan norak seperti ini. Dia mengawalinya dengan buruk. Tidak bisa menjaga marwahnya. Dia bertindak ala pengusaha menang taruhan di turnamen golf mini di ruang kerja yang mewah. Mudah-mudahan dia tidak dipecundangi anak buahnya atau gerombolan pendukungnya yang sudah mulai antri minta kompensasi.

Oh ya saya ingat dia menang bukan karena program. Dia menang karena para majikan dan broker politiknya jualan agama.

Wajar kalau dia berpose ala bintang iklan kecap.

Ciat..Wacauwww..

May Bango Tong Tong Blessed You All The Time..

Mari kita jawab dengan tertawa bersama-sama..

Karena dia ini pelawak mental badut.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Friday, October 13, 2017 - 11:00
Kategori Rubrik: