Debat Terakhir, Anies dan Sandi Tak Memberi Jawaban

Ilustrasi

Oleh : Nuran Wibisobo

Dua pasangan calon gubernur – wakil gubernur DKI Jakarta berhadapan dalam debat terakhir Pilkada DKI 2017 pada Rabu (12/0/2017). Pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno tak lagi terlihat agresif menyerang lawannya, Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat.

Selain itu, pasangan Anies – Sandi seperti sedang berusaha untuk menancapkan “brand” OK OCE untuk sejumlah permasalahan. OK OCE juga “dimodifikasi” sesuai dengan permasalahan mulai dari OK OTRIP untuk konsep transportasi ataupun OKE OCEMART untuk konsep toko-toko kelontong kecil, dan OK OCARE untuk masalah kesehatan.

Ketika ditanya soal penanganan kesehatan di Jakarta, Sandi menjawab solusinya adalah OK OCARE. Soal kendala pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah, solusinya adalah OK OCE. Ketika Djarot bertanya bagaimana mencari dana Rp200 juta untuk bikin OK OCEMART, jawabannya adalah jaringan OK OCE. Ketika ditanya perkara rusun, jawabannya tentu saja OK OCE.

Sayangnya, bahkan sejak awal berkampanye, Anies dan Sandi tak kunjung menjelaskan dengan rinci bagaimana sistem OK OCE bergerak. Dalam situs resmi Anies-Sandi, dijelaskan kalau OK OCE adalah, "gerakan untuk melahirkan 200.000 pengusaha baru, dengan membangun 44 Pos Pengembangan Kewirausahaan Warga, di setiap kecamatan."

Pertanyaannya kemudian: bagaimana bisa gerakan kewirausahaan ini kemudian menjadi solusi bagi setiap masalah, mulai dari kesehatan hingga rusun? Di sana lah Anies dan Sandi tidak bisa meyakinkan penonton debatnya. Seharusnya debat terakhir ini membuat Anies dan Sandi lebih baik dalam menjelaskan apa program dan visinya, termasuk OK OCE. Tapi apa boleh buat, mereka belum berhasil.

Karena Kita Tak Bisa Membahagiakan Semua Orang

Satu hal yang bisa dipelajari dari hidup bersosial adalah: kamu tak bisa membuat semua orang bahagia. Apalagi jika kamu adalah Gubernur DKI Jakarta, kota dengan 12 juta orang penduduk.

Dalam debat terakhir, Anies dan Sandi tampak ingin membuat semua penduduk Jakarta bahagia. Sebenarnya ini sudah tampak dari slogannya: Maju Kotanya, Bahagia Warganya. Namun di debat terakhir, slogan itu tampak lebih terang.

Usaha ingin membahagiakan semua orang ini tercermin dari berbagai kosa kata yang ia pakai. Mulai "memastikan" (disebut berkali-kali), "menghadirkan", "berikan", "keberpihakan", "amankan", "komunikasikan", "merangkul", hingga "menginginkan". Dengan diksi-diksi itu, Anies dan Sandi ingin menunjukkan bahwa mereka ingin merangkul semua pihak. Anggota DPRD, pengusaha, pengemudi angkot, nelayan, warga bantaran kali, semuanya.

Dalam debat terakhir ini, kita menyaksikan Anies dan Sandi yang seperti ingin menyerang tapi berusaha menahan diri. Anies tampil tenang, kalem, sempat mengeluarkan aura kesantunan yang membuat banyak orang terpukau. Begitu pula Sandi yang juga tampil santai dan seperti tanpa beban.

Tapi ada beberapa momen di mana mereka tak bisa menahan diri. Dalam segmen soal reklamasi, misalkan. Ahok sempat mengatakan, "jangan membohongi." Disanggah dengan Anies, sembari menyerang, "Warga Bukit Duri tahu persis soal kebohongan." Ada pula momen ketika Anies memotong Ahok, menunjukkan nafsu menyerang yang susah dikekang.

Misalnya saat lawannya, Ahok sedang memberikan penjelasan atas kritikannya tentang ketidakadilan di Jakarta. Ahok menjawab dengan menjelaskan beberapa hal yang sudah dilakukan untuk melawan ketidakadilan di Jakarta, misalnya dengan membebaskan BPHTB untuk rumah di bawah Rp 1 miliar.

“Saya kira Pak Anies mungkin kurang informasi ya di Jakarta. Siapa bilang di Jakarta itu tidak adil? Itu PBB di bawah Rp 1 Milyar tidak bayar BPHTB tidak bayar untuk dibawah itu boleh tidak bayar,” jelas Ahok.

Belum selesai menjawab, Anies sudah memotong: “Boleh saya menanggapi?”

“Sebentar Pak sabar Pak.” Jawab Ahok. Ahok pun akhirnya melanjutkan penjelasannya, sebelum akhirnya dikritik oleh Anies.

Soal penggusuran, Anies memang ada di atas angin. Apalagi saat Sukarto, warga dari Komunitas Rumah Susun dan Toilet Untuk Semua, mengatakan bahwa warga di Rusun Jatinegara hidup sengsara. Ia memberi contoh rusun yang bocor. Juga soal warga yang tak mampu membayar iuran pemeliharaan lingkungan.

Anies juga unggul dalam hal reklamasi. Ahok sempat bertanya, "Bagaimana caranya untuk mengubah Keppres yang dibuat sejak zaman Pak Harto? Bagaimana kita akan membatalkan reklamasi yang akan menghasilkan 1,2 juta tenaga kerja."

Dengan ketenangan ahli strategi yang sudah bisa membaca langkah lawan, Anies menjawab: "Pertanyaannya mudah sekali dan diberikannya mudah sekali untuk siapa. Kepres Nomor 52 Tahun 1995 menyatakan eksplisit, itu ada dalam Pasal 4, tanggung jawab reklamasi ada pada Gubernur. Karena itu pada saat saya menjadi Gubernur, saya akan memanfaatkan otoritas ini untuk rakyat banyak. Bukan untuk sekelompok orang."

Namun keunggulan itu tak berlaku dalam perkara birokrasi. Dan ini berakhir dengan mengenaskan dalam momen ketika Djarot diberikan kesempatan bertanya pada Sandi. Djarot bisa mencium kelemahan Sandi perkara birokrasi, dan itulah yang ditanyakan: bagaimana cara membantu Gubernur dalam menyusun KUA-PPAS.

"Apa itu KUA, Pak? Supaya orang di rumah juga tahu," kata Sandi.

Di saat seperti itu, kita melihat bagaimana Djarot dengan kejemawaan seorang resi pada muridnya, memberi kuliah umum 3 SKS tentang Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara. Sandi yang sudah terlihat kalah, menjawab sekenanya tentang pengalamannya mengelola perusahaan.

"Pengelolaan keuangan di perusahaan dan negara itu berbeda," kata Djarot santai.

Pasangan Anies Sandi juga tampak keteteran ketika disodori pertanyaan soal rumah DP 0 persen. Pihak lawan dengan cerdik membenturkan pernyataan berbeda Anies dan Sandi soal penghasilan orang yang bisa mendapatkan rumah. Ahok juga tegas bertanya tentang bentuk rumah yang akan disediakan Anies dan Sandi: rumah tapak atau rumah susun.

Banyak orang tahu bahwa wacana rumah dengan uang muka 0 persen ini sempat jadi diskusi panas nan panjang. Hingga menjelang debat terakhir, memang tak ada penjelasan yang memuaskan. Bahkan Anies dan Sandi sempat mengungkapkan konsep yang berbeda.

Pada debat di Mata Najwa, Anies mengkritik bentuk rusun yang saat ini jadi andalan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun empat hari kemudian, Sandi mengatakan kalau rumah murah ini akan berbentuk rumah susun, meniru konsep Housing and Development Board, Singapura. Begitu pula yang awalnya uang muka 0 persen, jadi ada syarat tambahan berupa tabungan Rp2,3 juta per bulan selama 6 bulan. Ahok tahu program ini jadi jualan utama Anies-Sandi, tapi sekaligus jadi titik lemah karena belum ada konsep yang jelas.

"Rumah yang bapak sediakan itu tapak atau rusun? Lalu untuk orang yang berpenghasilan minimal 3 juta atau 7 juta? Karena Pak Sandi pernah bilang, orang yang berpendapatan di bawah 4 juta tidak mungkin beli rumah di Jakarta, dan Pak Sandi bilang harus rumah susun karena lokasi lahan engak ada," cecar Ahok.

"Kami tidak membicarakan pembangunan rumah. Yang kami siapkan adalah instrumen pembiayaan. Karena itu, warga siapa saja bisa membeli. Pilihannya beragam. Tapak atau susun. Kami tidak membangun rumah. Kami kasih pilihan sesuai yang mereka mau," jawab Anies.

"Tidak menjawab yang saya tanya," balas Ahok.

Penonton sadar bahwa jawaban Anies memang mengambang, alias tidak menjelaskan apa-apa. Jelas terlihat bahwa program rumah dengan uang muka 0 persen itu lebih tampak sebagai titik lemah pasangan nomor 3 ini. Dan ketidakmampuan Anies menjawab program andalannya semakin parah dengan celetukan Ahok yang bilang bahwa apa yang diomongkan Anies adalah retorika belaka.

“Saya terus terang dari tadi tidak menemukan jawabannya ya. Ini tuh retorika,” kritik Ahok atas jawaban Anies.

Debat terakhir sayangnya tidak berhasil membuat Anies tambah mengkilap. Ini tentu mengkhawatirkan, karena dalam hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting, Anies-Sandi hanya unggul 1 persen dari lawannya. Tren dukungannya juga berbeda. Dalam sebulan terakhir, dukungan pada pasangan Ahok-Djarot naik 3,1 persen. Sedangkan Anies-Sandi turun 2,8 persen. Salah satu penyebab turunnya dukungan ini adalah debat yang disiarkan di televisi. Saat debat di Mata Najwa, 45 persen warga Jakarta menonton debat, dan 63 persennya menilai Ahok unggul ketimbang Anies.

 "Karena unggul di debat, elektabilitas Ahok dalam sebulan terakhir cenderung naik. Sebaliknya Anies, karena tidak unggul dalam debat, elektabilitasnya cenderung sedikit menurun," ujar keterangan di situs Saiful Mujani.

Apakah debat terakhir tadi malam adalah sinyal bahaya untuk pasangan Anies-Sandi? Jawabannya tentu baru bisa dilihat tanggal 19 April 2017. 

Sumber : Tirto.id

Friday, April 14, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: