Debat Prof Rhenald Kasali VS Rocky Gerung Tentang Hoax

ilustrasi

Oleh : Hadi Susanto

Indonesia Lawyer Club (ILC tvOne) edisi Selasa (26/3/2019) tadi malam mengangkat topik: "Tepatkah Hoax Dibasmi UU Anti Terorisme?". Bagi saya bagian menarik ada pada perdebatan Rocky Gerung (RG) dan Rhenald Kasali (RhK, tidak saya singkat RK biar tidak disangka Ridwan Kamil, hehe) tentang asal-usul hoax.

Bermaksud mengomentari RhK yang berbicara sebelumnya tentang ‘sejarah’ hoax yang sudah ada sejak diciptakannya dunia, RG bilang “Kata hoax itu pertama kali muncul dalam sejarah ilmu pengetahuan ketika […] Alan Sokal menulis sebuah artikel di majalah Social Text dengan nama samaran, lalu dipuji-puji oleh redakturnya tanpa tahu bahwa itu adalah bohong.”

RhK menimpali kalau “Asal kata hoax itu adalah hocus. Hocus itu artinya mengelabui.”

RG balik menyela dan mengatakan yang disampaikan RhK benar dari sisi etimologi (akar kata, atau Bahasa Arabnya mujarrad). RG mengulang informasi yang sama tentang sejarah hoax versinya (atau entah versi siapa yang RG sebut sebagai “referensi paling dasar untuk belajar tentang hoax”) bahwa “Asal-usul dari istilah hoax terjadi ketika Alan Sokal menguji kedunguan redaktur dari majalah Social Text. Itu poinnya.”

Saya tertarik untuk membedah pernyataan RG.

1) Menurut Merriam-Webster, salah satu babon kamus Bahasa Inggris, hoax itu kemungkinan bentukan (shorof) dari hocus dan sudah dipakai sejak kira-kira 1796.

2) Tulisan yang dimaksud RG adalah [Alan D. Sokal, "Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity", Social Text, 46–47: 217–252 (1996)]. Paper ini yang memunculkan ‘skandal Sokal’ (Sokal affair) atau ‘hoax Sokal’ (Sokal hoax). Sokal pakai nama asli. Bukan samaran. Dan paper itu tidak memuat kata ‘hoax’ di dalamnya.

3) Apa hubungan paper Sokal dengan hoax? Paper itu ditulis penuh dengan jargon-jargon ilmiah bombastis tapi tidak bermakna apa-apa (untuk membayangkannya, cukup ingat Vicky Prasetyo saja, hehe). Tujuannya Sokal ingin tahu apa editor majalah ternama itu benar-benar membaca paper yang masuk, atau main terima saja asal bahasanya keren dan bahasannya cocok dengan editor.

4) Jadi, apa yang RG maksud dengan “hoax pertama kali muncul dalam sejarah ilmu pengetahuan” sejak paper Alan Sokal? Mungkin maksudnya gara-gara Alan Sokal hoax jadi dipakai untuk membongkar ‘kedunguan’ dalam komunitas ilmiah. Jika benar demikian, dalam hal ini RG tidak tepat lagi.

Sebelum paper Sokal, sudah ada paper [William M. Epstein, "Confirmational response bias among social work journals", Science, Technology & Human Values, 15 (1): 9–38 (1990)]. Paper hoax tapi diterima di majalah keren. Hanya saja sayangnya tidak mendapat perhatian media.

Sokal sendiri menulis paper itu karena terinspirasi: i) buku Higher Superstition karya Paul Gross dan Norman Levitt; ii) Jacques Derrida (iya, si tokoh filsafat Derrida yang terkenal dengan teori dekonstruksi kata dan makna itu!).

Higher Superstition membongkar hoax-hoax orang-orang Sosiologi dan Politisi dalam menyerang keilmuan Fisika dan Biologi. Derrida membuat hoax waktu menjawab pertanyaan Jean Hyppolite tentang sosiologi teori Enstein. Nggedabrus lah gampangnya. Walau nggedabrus, gak ada yang tahu!

5) Sebentar… kok ada hoax orang Sosiologi terhadap Fisika dan Biologi? Iya, ceritanya Sokal, Gross, dan Levitt itu sedang dalam masa ‘Perang Sains’ (Science Wars) di tahun 90an antara aliran Realisme Ilmiah (Scientific realism) dan Posmodernisme.

Aliran realisme mengatakan semesta yang dijelaskan dengan sains itu nyata.

Aliran Posmo bilang sains itu tidak lebih dari konstruksi sosial. Dan Social Text adalah salah satu majalah ilmiah bergengsi kaum Posmo.

Berarti paper Sokal lebih dari sekadar "menguji kedunguan redaktur"? Ya iya lah, masa' ya iya dong?

Eniwei, betewei, pelajaran kita bersama, seorang Presiden Akal Sehat saja masih harus tetap belajar meningkatkan pengetahuannya. Apalagi kita! 

Dan saya setuju pesan sponsor: hoax itu perlu diberantas karena dia berbahaya. Persis seperti berbahayanya Dementor 

Sumber : Status Facebook Hadi Susanto

Thursday, March 28, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: