Debat Moral Politik Pius Lustrilanang dan Saiful Huda Ems

Ilustrasi

PIUS: Aku mungkin tak akan pernah menjadi raja. Bagiku itu tidak penting. Menjadikan banyak orang menjadi raja adalah kebanggaan tersendiri. Itu lebih dari cukup.

SHE: Dengan membiarkan atau bahkan menuntun orang-orang itu untuk menjadi raja melalui serangkaian hembusan intrik, fitnah keji, eksploitasi sentimen SARA yg penuh kebencian dan yg mengorbankan jutaan orang? Oh engkau sahabatku, sungguh apa yg engkau lakukan itu keliru, sangat keliru. Dan meski saat ini tiada seorangpun yg menghukummu, namun suatu saat engkau akan dihukum oleh rasa penyesalanmu sendiri jika engkau adalah termasuk dari bagian orang-orang yg diberi-Nya petunjuk setelah berbuat kesesatan...

PIUS: Move on Bro. Jagoan yg Lu puja kalah. Terima itu dengan lapang dada.

SHE: Ooh...engkau keliru sahabatku, engkau keliru...bicara kebenaran bukanlah bicara soal kalah dan menang, namun bicara kebenaran adalah bicara soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena itu sy sebagai orang muslim tak sedikitpun ragu atau berat hati untuk mendukung Ahok yg bukan orang dari pengikut agamaku, juga tak pernah gentar membelamu menghadapi pasukan biadab yg menculikmu dan yg sekarang engkau sembah-sembah, meski engkau dalam banyak hal berbeda denganku. Dan ketahuilah sampai saat ini sy slalu pasang badan untuk membela saudara-saudara seagamamu dari serangan kaum fundamentalis yg seagama denganku...

PIUS: Jagoan Lu kalah. Titik. Lu puja dia seperti memuja Tuhan. Faktanya dia kalah.

SHE: Jakarta itu sangat kecil untuk wilayah NKRI yang sedemikian luas dan beratus-ratus juta penduduknya, aku rasa Pak Jokowi yg masih memimpin negeri ini dan bukan Prabowo yg kau dukung dan sembah-sembah. Lagian untuk orang seperti kita ngapain masih bicara politik kekuasaan? Tidak adakah yg lbh substantif dlm perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, daripada membicarakan soal pribadi-pribadi yg hrs didukung untuk menang dlm politik dan berkuasa agar kita mendapatkan imbalan darinya? Jika itu yg engkau lakukan, maka tingkat keikhlasanmu tak ubahnya seperti budak, dan bukan tingkat keikhlasan seorang hamba yg merdeka...

PIUS: Kamu kalah. Jagoanmu kalah. Terima aja dengan lapang dada.

SHE: Engkau sdh mendapatkan apa yg dahulu engkau cita-citakan, sahabatku, engkau sdh mendapatkan banyak kemewahan dan kehormatan. Handphonemu sdh canggih, kendaraanmu sdh bagus, rumahmu sdh mewah. Tak seperti dahulu Handphonemu jelek pakai karet, tudurmu tak beraturan, pakaianmu dekil, dlsb. Apalagi yg ingin kau cari hingga engkau berani dan tega membiarkan saudara-saudara sebangsamu bahkan seagamamu hidup dalam ketakutan karena teror politik yg tak berkesudahan? Orang-orang non muslim dinajiskan, orang-orang keturunan China dibabikan, orang-orang jujur dikomuniskan, mengapa engkau tidak bangkit membelanya, bahkan yg terjadi engkau malah memperkuat mereka yg ingin membinasakan kerukunan berbangsa dan bernegara? Sadarilah kesalahanmu sahabatku, jangan sampai kekuasaan dan kekayaan membutakan mata kesadaranmu...

PIUS: Sudahlah. Semua sudah berakhir. Ahok yg kau Tuhankan sdh mati. Mari mulai lembaran baru. Jadilah dirimu sendiri.

SHE: Ahok yg kalian tuduh menistakan agamaku sesungguhnya adalah Pejuang Politik yg hidup di hati para perindu keadilan. Dan sy sebagai orang muslim dgn sepenuh hati membela dan mendukungnya meski sy harus kehilangan banyak sahabat bahkan dihujat oleh banyak orang dan dituduh sebagai santri yg berkhianat pada pesantren dan durhaka pada kyainya krn sy saat itu menantang debat terbuka dgn Gus Sholah Pemimpin Pesantren Tebuireng almamater sy untuk soal kasus Ahok...

PIUS: Ahok adalah Tuhanmu. Sembahlah dia.

SHE: Allah SWT Tuhanku berfirman:"Wahai orang-orang yg beriman, jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi yg adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yg kamu kerjakan"...(QS. Al-Maidah:8). Atas dasar firman Allah SWT ini sy membela dan mendukung penuh Ahok meski beliau tak seagama dgn sy, krn dari kesaksian sy memang Ahok tdk bersalah. Namun sayang sekali orang2 sepertimu malah mendukung kaum fundamentalis yg seagama dgn ku tapi keliru dan sangat berlebihan itu. Ada apa dgn mu sahabatku Pius?...

PIUS: Jika dia dimuliakan Tuhan, kenapa dia (Ahok) kalah? Berdebat denganku tak menjadikanmu sekelas denganku. Maaf, terpaksa harus sombong. Ahok ga akan bangkit lagi. Ikhlaskan saja. Jadilah dirimu sendiri.

SHE: Pius Lustrilanang sahabatku, justru karena Tuhan memuliakan Ahok maka Tuhan menyelamatkannya dari fitnah dunia. Penjara untuk sang pejuang keadilan bukanlah simbol kekalahan, karena jika itu yg terjadi maka Bung Karno kalah, KH. Hasyim Al-Asy'ari kalah, Pramoedya Ananta Toer kalah, Sjahrir kalah, Nelson Mandela kalah karena beliau semua telah memasuki penjara dimasa-masa perjuangannya. Logikamu keliru sahabatku...karena Ahok dipenjara bukan soal korupsi, Ahok kalah Pilkada DKI pun bukan karena ia salah, namun karena kesadaran politik masyarakat ditutup oleh orang2 tamak yg selama ini kau bela dan puja2...

PIUS: Kita lihat saja. Dia mampu muncul lagi atau tidak. Lu Sakit jiwa.

SHE: Yg sakit jiwa itu yg ketika habis diculik pakai kalung salib tapi stelah jadi anggota DPR kalung salibnya dilepas bahkan diinjak-injak dgn kesombongannya. Iya kan? Lagian sy sombong kan krn dlm rangka menyombongimu. Hehe...Sudah gak sehat ah diskusinya. Aku jd ikut-ikutan keliru sepertimu. Lbh baik ku akhiri saja diskusinya. Lupakan kata2 kerasku, ingat saja nasehatku yg pertama-tama itu sebagai tanda penghargaanku atasmu, sahabatku. Salam hormat, semoga sahabatku Pius Lustrilanang semakin sukses dan selalu sehat wal afiat. Haturnuhun...

PIUS: Aku akan mengenangmu sebagai aktivis yg menjual dirinya buat Ahok. Ahok adalah cerminan pemodal kuat. Di situlah kamu berdiri dan berpihak. Tanpa keraguan tanpa malu-malu.

SHE: Pius Lustrilanang: Jika kau mengenangku dgn pikiran negatifmu padaku, maka aku akan mengenangmu dgn pikiran positifku padamu. Taukah engkau kritik tajammu padaku sekian puluh tahun yg lalu dan msh ku ingat? Kau pernah bilang padaku spt ini: "Saiful itu kalau bicara di awal-awal paragrafnya selalu baik dan benar, tapi diujung-ujungnya itu selalu salah". Hahaha...Kritikmu itu bagiku seperti obat yg sangat pahit namun mampu membuatku terkenang manis selamanya, hingga tiap sy mulai tersulut kemarahan di tiap akhir perdebatan sy slalu tiba2 teringat nasehatmu dan sy lbh menyukai menyudahi perdebatan krn sy khawatir terjerumus dlm kesalahan. Terimakasih...

Ket: Dalam perdebatan di medsos ini (FB) saya telah diolok-olok oleh para pendukung Pius yg terdiri dari berbagai latar belakang profesinya tapi semuanya jika saya cermati dari profile akun fb mereka semuanya para kader atau pengurus Partai Gerindra bahkan ada yg jd Wakil Sekjend DPP Partai Gerindra. Meski demikian sy pikir mrk berhak untuk melakukan hal itu karena bagaimanapun mrk satu partai. Uniknya dari beberapa orang yg masuk dalam pertemanan FB Lustrilanang Pius kemudian masuk ke pertemanan FB sy dan memberi dukungan pada sy. Selain hal itu ada satu keunikan lagi manakala di akhir perdebatan ada seseorang yg menulis komentar spt ini:

Ratna Rahayu: bang Saiful Huda Ems manusia yg memuji Tuhan Yesus pasti memiliki karakter Nya...dan ada Roh Kudus yg bisa membedakan benar dan salah...gka kaget kl Bung Pius ini berubah...krn dlm.Alkitab sudah di jelaskan Bukannya orang yg menyebut Tuhaaan... Tuhan yg akan masuk dlm.KerjaanNYA...Roh Kudus hanya menegur orang yg lembut hatinya...percayalah Bang hdp ini akan berujung...pasti ada batasnya...semua manusia yg berbuat nanti akan bertanggung jawab di hari penghakiman nanti...kita semua akan melihat demonatrasi besar bukan di bumi ini...tp nanti...apakah yg kita bela org yg berpihak pada Kebenaran...atau dia adalah musuh Tuhan... sia2 Abang melemparkan mutiara pada babi Yudaspun menjual gurunya demi ambisi dan kekayaanNya... biakan nanti penghakiman HAKNYA Tuhan...kita akan jd penonton Bang Saiful...yg penting kita sudah lakukan bagian kita ...kita terus berjuang dg ketulusan dan hati yg bersih...aku percaya Gusti Ora Sare.....selamat berjuang Bang Saiful...terus berjuang dlm ridho Allah... InsyaAllah Allah akan berpihak pd kebenaran Amin... Gbu.

Sumber : Saiful Huda Ems

Wednesday, November 29, 2017 - 16:45
Kategori Rubrik: