Debat Bahasa Inggris, Bahasa Jawa Apa Bahasa Hati?

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Berseliweran di beberapa statement bahwa kaum intelektual jongkok mengusulkan ke KPU debat capres dalam bahasa inggris. Kemana arahnya kita tau, karena jagonya yang nggak jago itu hidupnya lama diluar, dan cawapresnya tamatan universitas ternama di Amerika. Usulan ini sama saja seperti memaksa orang Amerika yang lama tinggal di Yogya dan fasih berbahasa Jawa terus nyapres, dia usul debatnya pakai bahasa jawa. Lha rakyat Amerika ngertii apa dengan bahasa Jawa, sama juga disini, rakyat Indonesia juga sak upil yang ngerti bahasa Inggris. Terus yang mau didengar apanya,

 

 

Idiot lanjutan ini terus mengemuka, karena tak ada prestasi yang bisa dikasi, mereka mencari-cari kerjaan yang pantas ditertawakan, mungkin continjensinya kalau debatnya kalah gak banyak yang tau karena banyak yang tidak mengerti. Jadi sebenarnya mereka grogi menghadapi Jokowi, makanya selalu mencari-cari, pakai maki-maki.

Beberapa kali saya sampaikan, kalau Prabowo itu sedikit saja " MENGERTI " bahwa sejak lama orang dilingkungannya sedang menggali kuburan sendiri, dan yang parah Prabowolah yang dijorokkan duluan, cuma karena mereka " nyusu" ke Prabowo untuk kepentingan ekonomi, mereka ngelendot dan ngempeng walau kadang di tempeleng, mereka bertahan dengan terus mengumbar sanjungan bahwa Prabowo layak menjadi presiden yang kesekian tanpa batasan, capres terusan.

Lima tahun berjalan, dan diujung pencapresan sebenarnya mereka tau capresnya gak laku dijual, bayangkan 3 kali gagal, ibarat murid 3 kali tinggal kelas, pastilah selain bodoh, sekaligus bebal, tak tau diri, dan tak tau malu, muka tebal mah biasa, tapi kalau isi kepala yang kental apa yang diharapkan bisa mereka kerjakan, selain bicara dan gaya-gayaan.

Jujur saja, kita saja sudah makin muak dibuatnya, tiap hari mereka mendebat hasil kerja yang nyata dengan tanpa data. Memutarbalikkan fakta itulah kerjanya, karena memang mereka tak bisa apa-apa. Tidak gampang menaikkan elektabilitas dari angka 30an % naik ke 50an % karena medianya makin sempit didapat. Spot-spot event, demo kecil-kecilan kerjasama dengan mahasiswa picisan pakai uang recehan masih bisa mereka lakukan, tapi untuk melakukan branding pasarnya sudah tinggal kavlingan, tidak lagi ada hamparan yang menjanjikan, apalagi semua lapisan sudah di penetrasi Jokowi dengan apik, cantik, menggelitik, membuat lawan menungkik.

Jadi, biarkan saja mereka berdebat sendiri, mau pakai bahasa inggris atau bahasa hati, kan yang tau dan merasakan kekalahan nantinya mereka sendiri, mereka kan semuanya punya sendiri, istana punya, pasukan berkuda punya, upacara 17an punya, tim survey punya. Ibarat tukang bakso belanja sendiri, masak sendiri, dorong gerobak sendiri, jualan sendiri. Nggak laku dimakan sendiri, kebetulan nggak punya anak-istri.

Haha..perdebatan memang kadang mengasyikkan, hanya saja kita jangan masuk jebakan murahan, dan jangan pula kita memilih presiden yang cuma menghasilkan preseden.

INDONESIA LAYAK MENERIMA KEMULIAAN, SEMOGA DIJAUHKAN DARI KEBURUKAN DAN TIDAK DIBERI PEMIMPIN YANG URAKAN.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, September 19, 2018 - 08:30
Kategori Rubrik: