De Sakralisasi Sang Dewa

ilustrasi

Oleh : Eddy Sinang Trenggono

Bertahun-tahun sejak Reformasi masyarakt kita tercekam oleh RS dan FPI.
Massa dan organisasi mayoritas Islam terlalu bijak dan kalem menghadapi kepongahan dan keangkuhan RS& FPI.
Padahal kebesaran agama Islam seolah berhasil dibajak oleh kelompok kecil ini, dan berhasil diidentifikasikan dengan organisasi mereka.

Seolah Islam identik dengan FPI. Menolak FPI dan RS seolah menjadi identik menolak dan benci Islam.
Menyebabkan masyarakat umum yg menganut Islam moderat, nasionalis dan pluralis menjadi gamang. Menjadi takut jika kalau bersikap kritis terhadap mereka akan di cap menolak ajaran Islam.

Kepongahan FPI semakin menjadi jadi setelah bersimbiose dengan beberapa
oknum politisi yang vokal dan mungkin di dukung dengan kelompok kelompok tertentu yang menjamin dana.
Ternyata Sang Kuasa punya skenario lain.

Kepulangan RS yang diperkirakan akan membawa mereka semakin membesar, malah jadi momen titik awal anjlok nya mereka.

Kok "ndilalah nya" ( bahasa Jerman) trigger nya adalah keberanian seorang Nikita, yang oleh sementara masyarakat dipandang minus. Di picu oleh konfliknya di medsos dengan seorang pemuja RS, dan di perbesar apinya oleh RS sendiri diacara peringatan Maulid Nabi, yang malah jadi blunder dan momentum yang membangkitkan kemuakan masyarakat luas. Masyarakat Islam waras menjadi muak ketika sebuah acara suci kok seenaknya diisi dengan ucapan ucapan kotor dan kebencian. Kesalahan yang fatal adalah ketika keluar ucapan ucapan yang 'mengejek/mencerca' institusi TNI.

"Ndilalah" kedua dengan adanya pelanggaran semena mena RS dan kelompok nya terhadap protokol kesehatan, membuat momen perlawanan terhadap nya kuat secara hukum.

Dengan kenekadannya NM memulai "De sakralisasi " terhadap figur RS,
berlanjut dengan sikap tegas Pangdam Jaya yang menyatakan bahwa RS adalah manusia/warga biasa. Pangdam dengan tegas siap melibas kelompok radikal., dan menyatakan " Kalau perlu dibubarkan saja ".
Baliho baliho pemujaan terhadap RS yang selama ini sakral dan menjadi berhala pemujaan baru, menyebabkan tidak ada petugas /aparat Pemda berani menyentuhnya. Dengan tegas telah diturunkan oleh para prajurit TNI.
"Sang Dewa" telah dipaksa mendarat kebumi , dan ternyata juga tidak apa apa.

Proses "De sakralisasi " RS mulai menemukan momentumnya. Mulai rontok aura yang sengaja dibuat oleh orang sekeliling dan pengikutnya.
Tinggal para bohir dan dalang yang saat ini mulai ribut di. Medsos, dan sudah kita duga siapa siapa orangnya.

Mari kita dukung ketegasan TNI, POLRI dengan cara apapun yang kita bisa
Selamatkan Indonesia dari kebencian dan perpecahan.

Sumber : Status Facebook Eddy Sinang Trenggono

 

Sunday, November 22, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: