Data Akurat, Penanganan Akurat

ilustrasi

Oleh : Tenriagi Melawat

Minggu lalu, saya menerima pasien di UGD. Saat dianamnesis dia berkata bahwa sakit perutnya dirasakan di seluruh bagian perut mulai sejak 3 hari lalu. Tidak ada permulaan nyeri dari uluhati menjalar ke kanan bawah. Pokoknya langsung seluruh perutnya sakit begitu. Nyeri terus menerus. Tidak pernah makan makanan yang dapat diduga sebagai penyebab nyeri perut. Tidak ada muntah. Tidak ada demam. Tidak ada riwayat trauma/tabrakan benda keras ke perut. Dia tidak bisa buang air besar selama 3 hari ini. Padahal sebelumnya BAB-nya lancar, tidak ada perubahan waktu, konsistensi dan frekuensi BAB. Menurutnya beolnya normalnormal saja sampai sebelum 3 hari ini. Kentut pun sudah tidak pernah lagi 3 hari ini, akunya.

Tentu dari info yang dia berikan saya belum bisa menarik kesimpulan dia sakit apa dan apa penanganannya.
Apalagi waktu diwawancara dia lebih banyak menggeleng dan menjawab singkatsingkat. Satusatu kata jawabannya.

Saya mesti mengarahkan pertanyaan menjadi Yes/No Question type. Tentu sangat menyulitkan mendapat data yang valid dengan metode ini. Tapi dia benaran tidak koperatif. Saat menjawab, dia melempar pandangan ke arah lain.
Saya berdiri di sisi kanannya waktu itu..
Begini fragmennya :
Ibu demam?
Menggeleng, melempar pandang ke kiri
Perut Ibu pernah terbentur apa gitu? Meja, pintu, atau apa?
Menggeleng, melempar pandang ke kiri.
Dia seakan takut menjawab. Tidak mau bertatapan dengan saya.

Jadi saya bilang, "Ibu, kalau Ibu tidak bisa memberikan data yang baik, saya bisa salah menangani Ibu. Tolong kita bekerja sama agar proses pengobatan Ibu juga berjalan lancar."
Tapi kemudian tetap begitu sikapnya.

Dia ditemani seorang keluarganya. Sikapnya pun sama. Sangat tidak koperatif.
"Dokter, dia tidak lancar bahasa Indonesia!!" sergahnya.
Saya pun wawancara dengan menggunakan bahasa daerah dengan bantuan seorang perawat.
"Dokter, pokoknya perutnya ini tibatiba sakit semuanya gitu. Terus menerus!"
"Dokter, dia ini sudah minum obat banyak."
"Dokter, tidak usah terlalu ditanyatanya seperti begitu. Langsung saja diobati!!"
Saya mengalihkan pandangan ke arah si keluarga, "Ibu ini siapanya pasien? Tinggal satu rumah dengan dia?"
Yang lantas dijawab dengan : ipar, tidak tinggal 1 rumah.

Yuhuuuu... silakan jij keluar, suruh masuk ke sini keluarganya yang tinggal serumah dan tidak mengganggu proses anamnesis saya!!!
Saya mulai memeriksa fisik pasien.

Sampai di perut, dia berusaha melindungi perutnya dengan kedua tangannya, "Ibu, saya harus periksa bagian ini, kan ini yang sakit?"
"Jangan ditindis!"
"Tapi saya harus sedikit menekannya, supaya jelas!"
Dia tidak memindahkan lengan dan tangannya dari bagian depan perutnya.

Saya meninggalkan tempat tidur pasien sambil berkata agak keras supaya didengar olehnya, "Panggil ambulans, bawa pulang ini pasien ke rumahnya saja."

"Dokter...."
Dia bersuara lirih, dan akhirnya saya bisa memeriksanya lebih teliti.
Hasil pemeriksaan saya tidak sesuai dengan data yang dia berikan. Teraba massa/benda di perut kanan bawah sebesar kepalan tangan orang dewasa dengan batasan yang tidak jelas. Nyeri perut level 7 saat ditekan ringan. Tanda radang usus buntu tidak jelas karena penekanan di seluruh bagian perut sudah merata nyerinya. Level 5.
Saya berpikir tumor usus besar.

Pemeriksaan radiologi polos 3 posisi dan USG abdomen menyatakan kemungkinan hal yang sama.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan tanda infeksi sistemik berat dan kekurangan protein albumin. Ada pula gangguan keseimbangan elektrolit. Rapid test C-19 non reactive.

Baiklah kita rencanakan operasi cito exploration laparotomy with bowel resection as an alternative.
Maaf saya tidak bersedia menerangkan dengan bahasa Bugis, supaya terdengar lebih gagah

Pokokna operasi buka perut.

Operasi berjalan 3 jam lebih.
Di dalam perut saya tidak mendapatkan tumor, alhamdulillah. Tidak ada pemotongan usus, alhamdulillaah. Tapi genangan nanah dan usus buntu yang sudah membubur. Usus bolong di tempat appendix berpangkal. Membongkar bongkahan nanah dan perlengketan usus yang membuat prosedur jadi lama dan penuh debaran. Takut perlengketan menyebabkan robekan. Perkiraan saya pasien ini sudah menyimpan penyakitnya lebih seminggu. Tidak seperti datanya yang selalu ngotot dia kemukakan baru 3 hari.
Bagian usus yang lain kesan normal, kecuali bekas lengket nanah di manamana.

Selesai operasi, berganti baju, menulis laporan, ngemil makanan yang ada di kulkas pantry OK, saya segera melenggang ke luar.
Begitu membuka pintu besar Kamar Operasi, saya melihat sekitar 50 orang keluarga pasien memadati koridor di depan lift. Ada yang makan kacang dan biskuit. Ada yang baringbaring. Ada yang sarungan mungkin kedinginan kerna AC 16 derajat. Banyak yang main hape. Saya harus menggunakan lift itu untuk turun. Terpaksa melangkah di antara mereka.
Lift terasa lama sekali baru tiba di haribaan. Saya merasakan semua mata keluarga menatap dari belakang.
Ada yang berbahasa daerah,
"Ya minne dottoroka..."
"Ooo... dottoro lompoka?"
"Iyo, ya minne."

Ini dokternya. Oh dokter kepala (yang operasi)? Iya dia ini.

Maksudnya?
Pelototan mereka menghujam tubuh bagian belakang saya. Seperti ada rasa dingindingin menakutkan gitu.
Saya meraih telepon dan memanggil Superman eh... tidak. Hanya eksyen supaya kelihatan sibuk dan perhatian saya teralih.
Lift datang dan saya menghambur masuk.
Ah... rusak betul image saya!
Saya tidak menghambur, saya melangkah anggun dengan kepala tegak, memutar badan lalu pose di dalam lift. Menekan tombol angka 1. Menatap mereka yang masih menatap saya.
Apelo semua!
Pintu lift tertutup

Saya segera memberi kabar ke grup WA RS, agar sekuriti menertibkan keluarga pasien tersebut.
Mengapa bisa sampai lolos sedemikian banyaknya? Bagaimana nanti di depan ICU ramainya mereka. Suruh mereka pulang semua. Hanya 1 orang yang boleh menjaga. Itu perintah saya, dan diiyakan oleh anggota grup.
Sejak pandemi, jam berkunjung memang ditiadakan. Penjaga pasien pun hanya boleh 1 orang. Jadi 50 orang adalah sangat berlebih.

Keesokan harinya, saya menemui si pasien di ICU. Dia --akhirnya-- tersenyum pada saya.
Saya melotot!!
Apelo!
Saya memberitahunya bahwa dia tidak boleh menyembunyikan faktafakta mengenai penyakitnya. Bahaya bagi jiwanya.
Dan apa jawabannya?
"Saya takut dibilang Covid, Dokter..."
Jeng jeeeeng......
Itulah kalimat terpanjangnya.
Dan menurut keluarga yang menjaganya, ke-50 orang pengunjung sore kemarin sama ketakutannya dengan si pasien.

Berarti kami semua samasama ketakutan kemarin.
Saya takut diserbu keluarga. Mereka takut pasien "DiCovidkan"
"Lalu, kalau memang kamu membawa virus Covid, bagaimana? tanya saya sambil memeriksa luka operasi dan selang drainnya.
"Saya minta pulang..."

Pret.
Pret lagi.
Pret lagi.

Dia membawa bala bantuan kemarin itu. Andai Rapid Testnya reactive, maka kemungkinan akan terjadi kehebohan kemarin?
Mungkin kemarin saya yang akan dilarikan ke RS lain pakai ambulans
Pret!!

Tolong ya, bijaklah, sadarlah!
Bukalah wawasan kalian.
Tidak ada itu istilah bukan 'penderita Covid lantas diCovidkan'.
Untuk apa kami berulah begitu?
Malah bila memang benar pasien tersebut menderita Covid dengan usus buntu bocor, maka prosedur yang akan dilaluinya akan lebih detail dan tepat. Kami akan menyiapkan semuanya dengan seksama, khusus untuk pasien.
Selama persiapan operasi
Pada saat operasi
Saat pasien selesai dioperasi.
Jangan pernah berpikir kami ada keuntungan finansial dengan menyatakan pasien nonCovid adalah Covid.
Sebenarnya kami malah rugi kerna kemungkinan kami akan terpapar ada. Prosedur akan bertambah panjang dan detail bila kami mengetahui sejak awal bila pasien ini juga menderita C-19. Tapi demi keselamatan pasien, tentu kami akan berusaha sekeras mungkin.

Pasien juga tidak perlu takut berobat ke RS di awal masa sakitnya. Jangan disimpan hingga parah begitu. Semua jadi rumit serumitrumitnya rumit.
Makin cepat pasien ditolong, makin besar kemungkinan pulih tanpa komplikasi.

----

Ya Allah, tolonglah bangsa ini keluar dari kekelaman pikirannya. Dari sempitnya wawasannya. Dari ketakutannya.
Hanya kepadaTa'-lah kami memohon ampun, Tuhan
Dan kepadaTa'-lah juga kami meminta pertolongan.

Sumber : Status Facebook Tenriagi Melawat

Thursday, July 9, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: