Dasar Sukri! Pilih Bom Bunuh Diri Buat Ketemu Bidadari

Oleh : Eko Kunthadi

Apa yang dicari para pelaku bom bunuh diri? Ada humor pahit, katanya mereka akan dipertemukan dengan 72 bidadari di surga. Mungkin juga itu yang menjadi cita-cita Sukri, salah satu pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu, kemarin.

Akan ada 72 bidadari yang menunggunya di surga. Maka diapun berangkat meledakkan dirinya, mati bersama korban lain. Saya rasa Sukri pusing dengan ketiga istrinya. Sebab di dunia ini, yang namanya istri harus diberi nafkah. Berbeda dengan di surga, mungkin saja 72 bidadari itu bisa mencari makan sendiri. Sukri tinggal indehoi leha-leha di kelilingi perempuan cantik.

Seperti berenang-renang dahulu, tenggelam kemudian. Sukti mau berkeping-keping dahulu tubuhnya akibat ledakkan bom, untuk tenggelam di pelukan perempuan cantik di surga.

Padahal di dunia ini, Sukri sudah memiliki 3 istri. Tapi toh, dia harus meninggalkan ketiganya untuk mendapatkan 72 bidadari cantik. Lantas apa yang didapatkan ketiga istrinya, juga anak-anaknya?

Sukri tinggal di sebuah kontrakan, Kampung Cempaka, Lebak Jaya, Garut. Ketiga istrinya menempati masing-masing satu petakan bersama anak-anaknya. Ketika Sukri mati, ketiga perempuan itu harus berurusan dengan polisi.

Kasian mereka. Sukrinya lagi indehoi di surga, sementara mereka dan anak-anaknya repot di bumi.

Apakah yang dirasakan ketiga perempuan itu sekarang? Kita tidak tahu. Yang pasti jadi janda seorang teroris, bukan hidup yang menyenangkan. Demikian juga anak-anak mereka, jadi yatim karena bapaknya mati dengan mengajak beberapa polisi untuk mati juga. Tentu ini bukan ingatan yang manis untuk anak-anak.

Ideologi keagamaan Sukri memang ideologi yang berorientasi pada lelaki. Perempuan di posisikan hanya sebagai objek atau sejenis properti. Sukri mencari jalan untuk mendapatkan surga menurut versinya sendiri, dengan target mendapatkan kesenangan dengan lebih banyak perempuan.

Dia meninggalkan tiga istrinya yang harus melanjutkan hidup dengan anak-anaknya. Sementara dia sendiri, setelah mati dilumat bom yang disulutnya, bermmpi akan dijemput bidadari.

Betapa egoisnya ideologi keagamaan Sukri.

Bagi orang-orang seperti Sukri, Islam ditafsirkan sebagai agama lelaki. Posisi perempuan hanya sebagai pelengkap saja. Wajar jika di banyak negara yang menganut paham Islam puritan, kaum perempuan masih harus berjuang untuk mendapatkan kesetaraan.

Di Saudi, misalnya, perempuan yang mengendarai mobil sendiri akan dikenai hukuman pidana. Di Aceh, perempuan dilarang mengendarai motor dengan posisi duduk mengangkang. Bahkan pada jaman Taliban, perempuan Afganistan hanya kenal dengan tembok segi empat rumahnya saja. Mereka tidak bisa beraktifitas sendiri di luar rumah, jika tidak didampingi lelaki.

Saya pernah menyaksikan film berjudul Osama, yang menceritakan seorang anak perempuan di Afganistan saat Taliban berkuasa. Dia harus menyamar sebagai lelaki agar daat mencari nafkah untuk ibu dan neneknya. Sementara ayahnya tewas di tangan Taliban.

Tapi penguasa Taliban akhirnya mengetahui 'kejahatan' pengelabuan tersebut. Kisah tragis ini ditutup dengan perempuan yang masih anak-anak itu diserahkan kepada lelaki tua untuk dinikahi. Entah jadi istri yang keberapa. Nasibnya berakhir hanya sebagai properti.

Dunia juga mengenal Malala Yousafzai, seorang gadis kecil di sebuah desa di Pakistan. Desanya yang dikuasai Taliban melarang perempuan untuk sekolah. Tapi Malala melawan. Dia menyerukan haknya untuk mendapat pendidikan. Kita tahu, Malala ditembak oleh kelompok Taliban. Dia dianggap melawan doktrin agama. Untungnya selamat. Malala akhirnya menjadi duta dunia untuk menyuarakan hak-hak perempuan di negara-negara Islam.

Padahal kelahiran Islam dulu salah satunya untuk mengangkat derajat perempuan. Al Quran menghardik kebiasaan jahiliyah yang mengubur hidup-hidup bayi perempuan.

Di Indonesia sendiri, perjuangan kesetaraan perempuan sudah dirintis sejak lama. Kartini adalah salah satu ikon besar. Sejak kemerdekaan, Indonesia tidak pernah menganut sistem yang membedakan perempuan dan lelaki. Hak politik perempuan diakui sejak dulu. Sedangkan di Saudi, perempuan baru diakui suaranya dalam politik baru-baru ini saja.

Artinya Indonesia jauh lebih maju dari negara-negara lain yang menganut pemahaman Islam puritan. Perempuan-perempuan kita bisa menunjukan eksistensinya setara dengan lelaki.

Tapi, belakangan kita lihat, paham keagamaan puritan mulai berkecambah di antara kita. Dengan pemahaman ini, perempuan kita yang tadinya berposisi setara, harus ditarik kembali dalam kungkungan keterbatasan. Harus ditempatkan kembali dalam suasana di bawah dominasi pria.

Dengan alasan tafsir keagamaan, posisi perempuan menjadi begitu lemah. Mereka diposisikan inferior berhadapan dengan pria. Ini karena doktrin keagamaan kaum puritan yang melulu maskulin mulai merangsek ke dalam masyarakat kita.

Setiap kali saya menyaksikan berita penangkapan para teroris, saya selalu melihat ada istri yang memakai pakaian hitam tertutup rapat yang harus menanggung penderitaan panjang.

Sama seperti ketiga istri Sukri, yang harus melanjutkan hidup yang berat membesarkan anak-anak mereka. Sementara Sukrinya sendiri , mau enak-enakan indehoi dikerubungi bidadari.

Dasar Sukri!

Sumber : facebook Eko Kunthadi

Monday, May 29, 2017 - 10:45
Kategori Rubrik: