Dasar Kampret

Oleh: Denny Siregar

 

"Anjirrrrr.... Asli ngakak abis...nemu nih foto sang legendaris kodok betina," 

Begitu status sebuah akun wanita dgn poto profil memakai jilbab, bernama Zikria Djatil. Dibawah status itu ada foto Bu Risma, Walikota Surabaya sedang duduk. 

 

Sontak warga Surabaya marah dan menuntut pemilik akun itu meminta maaf. Tapi akun itu malah dihapus. Pemkot Surabaya pun bergerak cepat dengan melaporkan akun itu ke kepolisian.

Hari ini ada kabar bahwa pemilik akun itu sudah berhasil ditangkap. "Dari Jawa Barat.." kata polisi. Masih ditunggu perkembangan benarkah akun itu asli atau hanya memakai poto seseorang. 

Entah kenapa, ada kebiasaan beberapa orang untuk selalu menghina, bahkan melontarkan ujaran kebencian. Mereka sih ngomongnya "kritik". Tapi yang disebut kritik oleh mereka, bukan pada kebijakan, melainkan pada sosok seorang dgn sebutan buruk. Jelas itu bukan kritik, tapi penghinaan..

Bisakah mereka dituntut ? Bisa. Asal yang merasa dihina melaporkan. Di kasus Surabaya itu, bu Risma atas nama Pemkot Surabaya yang melaporkan. Berbeda dengan Presiden dan Wapres, mereka tidak perlu melaporkan penghinaan karena ada hak istimewa sebagai simbol negara.

Yang heran, orang2 ini tetap gak pernah paham, mana kritik dan mana menghina. Sama seperti tidak pahamnya mereka mana pelajaran menyanyi dan mana matematika. Semua sama2 pelajaran. Pantas, banyak dari mereka yang masuk penjara. 

Kalau sudah kejadian, kemudian merasa menjadi korban politik. Kayak Jonru dulu, yang sama sekali gak sadar sudah menghina ibunda Presiden. Malah merasa dia sedang perang melawan rezim. Mungkin karena jenggotnya kepanjangan, jadi otaknya ketarik kebawah.

Itulah kenapa mereka dulu dinamakan kampret. Dan seharusnya mereka paham, bahwa sepandai-pandainya kampret akhirnya tidurnya kebalik juga..

Seruput..

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Monday, February 3, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: