Dari Kemben Hingga Cadar

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Pakaian kemben di Jawa dan Bali khususnya yang menutup dada perempuan itu sebetulnya juga karena pengaruh Islam karena dulu pakaian / kain jarik yang dipakai oleh perempuan Jawa dan Bali itu tidak menutup dada sehingga susu mereka kelihatan mrentul-mrentul.

Di kemudian hari nanti, komunitas Muslimah santri ("kaum putihan") di kauman dan pesantren mengenakan kerudung. Meski begitu, pakaian kemben tetap dipakai oleh perempuan "Muslimah abangan" di pedalaman maupun keraton. Kemben (dan konde) dan kerudung berjalan beriringan dipraktikkan oleh beragam umat Islam.

 

 

Para kiai dan ulama besar dulu biasa saja menyikapi soal busana kemben dan kerudung itu. Tidak ada yang bilang perempuan yang berkerudung atau berkemben itu kurang Islami lah, kurang syar'i lah, calon penghuni neraka lah, dan seterusnya.

Baru belakangan saja, setelah trend "hijab syar'i" (ditambah "cadar ninja") diperkenalkan oleh para ustad dan da'i unyu-unyu, cacian kepada perempuan Muslimah berkerudung dan berkemben dilakukan karena dianggap dan divonis tidak Islami, tidak syar'i, dan kandidat kuat penghuni neraka.

Apakah perempuan Muslimah yang berhijab syar'i dan bercadar itu lebih Islami ketimbang mereka yang cuma berkerudung dan berkemben? Jelas tidaklah. Kualitas keagamaan bukan diukur dari sehelai pakaian tapi dari akhlak, moralitas, dan perilaku umat beragama itu dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang sibuk menilai dan mengvonis orang lain sementara melupakan aibnya sendiri itu ibarat sebuah pepatah: "Burung kuntul di seberang lautan tampak, burung kuntil di depan mata tak tampak"

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Thursday, May 3, 2018 - 07:45
Kategori Rubrik: