Dari Gubernur KW sampai Kasus KW

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Bagi saya, kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok itu mirip dengan kasus-kasus sebelumnya. Ada atau tidak ada masalah, ya, gimana caranya dibuat masalah.

Jokowi naik sebagai Presiden meinggalkan kursi Gubernur Jakarta. Ahok sebagai wakil Gubernur otomatis menggantikan posisi Jokowi. Ini kasus pertama. FPI protes.

Meski tidak ada alasan rasional menolak Ahok, potes itu terus dikumandangkan. Intinya mereka tidak ingin Ahok jadi Gubernur. Puncaknya, FPI melantik Fakhrurrozi sebagai Gubernur tandingan. Kita mengenal sebagai Gubernur KW2.

Rakyat cuek tidak menanggapi. Isunya melempem.

Kemudian ada isu sumir Sumber Waras. Kabar yang beredar ada kepentingan seorang petinggi BPK yang ditolak Pemda DKI. Lalu kita mengetahui ada audit BPK yang mengatakan telah terjadi kerugian negara dalam pembelian lahan Sumber Waras. Setelah ditelusuri, BPK menggunakan patokan harga lama dan posisi tanahnya berbeda dengan sesungguhnya.

Demo digelar. Protes disuarakan agar Ahok ditahan polisi. Tapi KPK bersuara lain. Kasus ini, kata KPK, tidak ada pelanggaran hukum. Bahkan jika dihitung dengan normal, pembelian tanah itu justru sangat menguntungkan Pemda DKI.

Dengan kejelasan dari KPK, isu ini melempem.

Dicari lagi kasus lain. Ada masalah reklamasi. Ahok ngotot meminta retribusi tambahan 15% dari NJOP kepada pengembang. DPRD menolak. Sementara di luar isu disebar, Ahok diback-up naga-naga developer besar. Orang demo lagi minta Ahok ditangkap. Sialnya, KPK justru menangkap tangan Sanusi, anggota DPRD dari Gerindra, sedang menerima duit suap.

Isunya melempem lagi.

Sementara prestasi Ahok membangun Jakarta mulai terasa. Banjir jauh berkurang. Kali-kali di Jakarta menjadi kinclong. Pembangunan sarana transportasi menunjukan hasilnya. KJP terus ditingkatkan jumlahnya. Masjid dibangun. Marbot dan Kuncen diberangkatkan umroh. Siswa Madrasah mendapat perhatian.

Ini sangat tidak disukai oleh pembencinya, sebab yang memberikan wajah positif kepada Jakarta adalah Ahok.

Bertemulah status Buni Yani. Orang ini melakukan editing teks dan memotong video pidato Ahok di P. Seribu. Padahal video itu lengkapnya diunggah oleh Pemda DKI sebagai bukti transparansi program Pemda. Hasil editing Buni Yani inilah yang menjadi inspirasi. "Hore! Ini baru, pas."

Setelah sekian lama capek mencari-cari masalah, dari mulai Gubernur KW sampai kasus-kasus KW, hasil editing Buni Yani ini tampaknya yang paling pas.

Bagi saya, kasus Ahok sekarang ini, mirip dengan kasus yang dicari-cari sebelumnya. Tujuannya sama : bagaimana menggagalkan Ahok jadi Gubernur. Bedanya, kali ini, ada stempel agamanya. Makanya heboh.

 

(Sumber: Status Facebook Eko Kuntadhi)

Tuesday, December 13, 2016 - 18:30
Kategori Rubrik: