Dari Beternak Intoleran Hingga Merangkulnya

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Kita menghadapi kelompok intoleran-radikal dengan total, karena memang kelompok ini merusak sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa bernegara dan beragama, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Namun nampaknya ada oknum-oknum yang memelihara kelompok tersebut (baca artikel opini saya "KOMODIFIKASI RADIKALISME" di harian KOMPAS 28 Nopember 2019).

Kemarin ada tamu sekretaris PCNU Kota Probolinggo, Al-Ustadz Dr. Ilyas Rolis. Beliau yang selow ini pernah menjadi korlap demonstrasi menolak hiburan karaoke ( https://sekilasmedia.com/…/ormas-islam-probolinggo-lakukan…/).

Kenapa harus demo? Alasannya masuk akal, kelompok keras biasanya suka mengadakan demo yang ini bila tidak diisi kelompok moderat bisa berefek kepada beberapa orang NU yang malah akan tertarik kepada mereka. Untuk itu, kelompok moderat perlu turun jalan dengan demo model lesehan atau istighasah yang adem sehingga mereka tidak bisa mencari muka.

Ustadz Ilyas juga berkisah, pernah terjadi kelompok intoleran yang jumlahnya sedikit sekali di kota beliau ini yang malah diberi jatah kurban sapi oleh oknum aparat, sementara NU yang mayoritas diberi jatah kambing. Saat Ustadz Ilyas bertanya kenapa bisa begitu (tentu bukan masalah bagian kurbannya tapi sepertinya kelompok keras malah diperhatikan). Jawabnya karena memang hal itu pesan dari atasan (entah atasan mana) dengan alasan untuk merangkul mereka.

Seperti ini adalah cara berpikir yang aneh. Kita bertarung atau disuruh bertarung dengan kelompok intoleran-radikal, tapi aparat (oknum?) malah merangkul. Padahal yang benar justeru ormas besar Islam dengan diambil beberapa gelintir tokohnya diminta untuk merangkul dalam arti mendidik mereka baik dengan soft atau lebih dari itu. Sementara bagi aparat penegak hukum harus tegas dalam menjalankan hukum.

Hukum harus tidak pandang bulu. Karena kalau mereka diberi ruang, biasanya malah semakin merasa sok jago di muka umum karena merasa aparat tidak tegas. Bahkan mereka bisa berani dengan aparat, terbaru kasus Solo, Kapolresta Solo Kombes Andy Rifai Kena Pukulan Bertubi Oknum Ormas Saat Evakuasi Korban - Tribun Jateng - https://jateng.tribunnews.com/…/kapolresta-solo-kombes-andy…

Argumen merangkul semua anak bangsa yang melanggar hukum bukan tugas utama aparat, kalau alasannya itu maka apakah aparat juga akan merangkul dan longgar terhadap bandar narkoba, koruptor kakap? Tentu tidak, hukum harus dijalankan dengan tegas.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Wednesday, August 12, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: