Dari Bela Islam jadi Bela Harto

Oleh: Zen RS
 

Sebetulnya sudah agak-agak bosan membahas Supersemar. Namun menjelang 11 Maret 2017 ini, Supersemar berbunyi lain: diprakarsai oleh keluarga Cendana, perayaan Supersemar dikhidmati dengan cara dzikir, semacam tabligh akbar, di Masjid At-Tin, TMII. 
 
Beberapa tokoh penting dalam rentetan aksi #BelaIslam pun hadir dalam acara ini, bahkan menjadi endorser, di antaranya: Rizieq Shihab dan Aa Gym. Narasi yang dibangun, salah satunya, adalah Soeharto adalah pemimpin yang Islami, pro umat Islam, tidak pernah memenjarakan atau mengkriminalisasi ulama, dll.
 
Narasi macam itu tentu saja beririsan dengan narasi yang mengemuka dalam konstelasi politik Pilkada DKI Jakarta. Mau bilang apa? Memang acara itu nyerempet-nyerempet Pilkada DKI, kok.
 
Buat saya cukup jelas: Soeharto bukanlah pahlawan umat Islam. Sangat banyak kekerasan yang dia lakukan selama berkuasa di Indonesia. Umat Islam, baik secara individual maupun sebagai aspirasi politik, mengalami langsung kekerasan dan represi yang massif dan terstruktur. Dari pembakaran musolla dan masjid (ingat kasus mushala Losarang pada Pemilu 1971), pembantaian umat Islam yang ingin hidup secara Islami (kasus Talangsari dan Haur Koneng), pembantaian umat yang menolak asas tunggal Pancasila (Kasus Priok). 
 
Belum termasuk represi terhadap tokoh-tokoh Islam (politik). Ingat bagaimana Harto (melalui Sjafrie Sjamsuddin) menangkap dan menyeret Daud Beureueh, menangkap dan memenjarakan Abuya Dimyati dari Cidahu, membunuh penceramah Amir Biki, memenjarakan Abdul Qadir Jaelani, memenjarakan Abubakar Ba'asyir dan Abdullah Sunkar, sampai mencekal M. Natsir yang sudah sepuh karena Petisi 50. 
 
Itu baru sedikit kasus dan nama saja. Namun cukup jelas bahwa Soeharto melakukan kekerasan yang serius terhadap umat Islam dan aspirasi Islam Politik. Berkampanye bahwa hanya Soeharto presiden yang tidak pernah menangkap ulama jelas-jelas dusta akbar.
 
Cara mencuci dosa Soeharto biasanya merujuk tahun-tahun terakhir kekuasaan Harto, sejak 1990, saat ia terlihat lebih ramah pada Islam. Dengan mendirikan ICMI pada 1990, naik haji pada 1991. Dalil lain untuk mencuci kekerasan Harto kepada umat Islam adalah ia dengan teguh membela Bosnia pada 1995 sampai berani pergi ke Sarajevo. Dalil tambahan: jika Orde Baru melakukan kekerasan, maka itu adalah dosa Benny Moerdani.
 
Kekerasan terhadap rakyat, termasuk pada umat Islam, tidak hilang setelah Harto bikin ICMI dan naik haji. Coba cek-cek lagi Tragedi Haur Koneng pada tahun berapa dan  pembantaian rakyat sipil di Aceh selama  DOM terjadi tahun berapa (sudah pasti mayoritas korban sipil Aceh di era DOM, jika bukan semuanya, adalah muslim).
 
Tragedi Priok kemudian dinisbatkan sepenuhnya dosa Benny Moerdani, bukan Soeharto. Cek-cek sajalah Tragedi Priok tahun berapa (1984) dan Moerdani "dipecat" sebagai Pangab tahun berapa (1988). Kalau ada yg mengira tindakan Benny di Priok tidak sejalan dengan Harto, sudah dipecat sejak lama itu Benny. Nyatanya enggak. 1988-1993 Benny masih "dipakai" dengan menjadikannya sebagai Menhankam.
 
Kalau mau bilang itu buktinya Benny tidak lagi jadi Pangab, dan dipiknikkan di jabatan yang kurang strategis yaitu Menhankam pada 1988, ya coba cek-cek sajalah itu Tragedi Talangsari terjadi tahun berapa (1989). Komandan lapangannya adalah tentara yang lain, AM Hendro, yang di era Megawati dapat tempat yang lapang (era Mega melanjutkan lagi "Dom", dengan komandan yang matanya saat itu berapi-api: Ryamizard).
 
Mengenai isu Bosnia, cobalah baca-baca ke mana saja uang penggalangan dana solidaritas untuk Bosnia yang digalang dan dikelola keluarga Cendana. Bisalah kalian baca ini: https://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/14/0030.html.
 
Tulisan Windu Jusuf ini memberikan peta mengenai mengapa sejarah bisa dengan seenaknya diutak-atik untuk kepentingan politik masa kini. Windu tentu saja menjadikan acara peringatan Supersemar sebagai pintu masuk, namun esainya ini lebih jauh dari sekadar itu.
 
Sedangkan esai Muhammad Iqbal menyinggung bagaimana ayahnya mengalami represi hanya karena mendukung PPP, partai resmi loh ya, bukan PKI atau apa. Tak hanya itu, ia juga menjelaskan perlawanan faksi NU di dalam tubuh PPP terhadap kebijakan-kebijakan Soeharto yang dianggap merugikan Islam. Baca esai Iqbal di sini: https://tirto.id/nu-ppp-dan-represi-orde-soeharto-kepada-islam-ckx2.
 
Baca juga tiga tulisan Petrik M tentang beberapa kasus kekerasan Orde Baru terhadap umat Islam dan ulama:
 
Tentang kasus Talangsari, silakan baca ini: https://tirto.id/mengenang-pembantaian-umat-di-talangsari-ckrJ
 
Tentang pandangan negatif Soeharto terhadap Islam, termasuk aspirasi Islam politik, baca tulisan Petrik M yang ini: https://tirto.id/benarkah-soeharto-memusuhi-islam-dan-mengapa-ia-berubah...
 
Tentang kekerasan Soeharto terhadap para ulama, silakan baca ini: https://tirto.id/cara-orde-baru-membungkam-para-ulama-ckrP
 
Jadi kalau ada yang berpikir Soeharto adalah pahlawan Islam, sederhana saja: MIKIR!
 
(Sumber: Facebook Zen RS)
Monday, March 13, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: