Dari American First Jadi American Alone

Oleh: Eko Kuntadhi

Ketika virus Covid melanda dunia, hampir semua negara luluh lantak. Awalnya setelah China, Iran merupakan negara dengan jumlah penderita terbanyak. Negeri itu butuh obat. Butuh alat kesehatan. 

Tapi apa yang terjadi. AS yang telah lama melakukan embargo kepada Iran, sama sekali tidak mau melonggarkan embargo. AS seperti ingin meledek Iran, rasain lu, mampus oleh Covid19. 

 

Iran akhirnya berjuang sendiri. Segala upaya dilakukan. Ketika seluruh dunia masih berkutat dengan obat alternatif, Iran paling banyak melakukan langkah terapi plasma darah yang murah meriah itu. Langkah ini rupanya efektif. Jumlah orang yang sembuh lumayan besar. 

Bukan hanya Iran. Venezuela juga tetap diembargo AS, meski negeri itu megap-megap dihantam Corona. Obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan rakyat Venezuela tidak bisa masuk ke negeri itu. 

Bahkan di tengah pendemi yang mencekik, kabarnya AS malah ikut merancang kudeta terhadap presiden Meduro yang akhirnya gagal itu.

Akibat covid19 ini, Venezuela tercekik. Negerinya kekurangan bahan bakar untuk rakyatnya. Sementara negara lain tidak berani menjual minyak kepada Venezuela. Akhirnya Iran mengirimkan 5 tanker minyaknya. Kapal-kapal itu melayari terusan Suez, menuju benua Amerika.

Apa yang dilakukan AS? Mereka mengancam akan menyerang tanker minyak Iran dengan kekuatan militer. Ancaman itu dibalas Iran, apabila AS benar menyerang kapal-kapal Iran, negeri mullah itu akan membalasnya secara serius. 

AS keder juga. Wong setelah wafatnya jenderal Sulaimani akibat serangan drone AS, Iran beneran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS. Dan AS gak berani berkutik membalas lagi. Artinya ancaman Iran bukan main-main. Negeri itu gak ada takut-takutnya pada ancaman AS.

Dalam konflik dengan China, AS memainkan kartu Hongkong. Setidaknya ingin meneruskan kerusuhan Hongkong beberapa waktu lalu, yang mungkin bisa menekan China. 

Tapi China tampaknya gak terpancing. Mereka membiarkan saja Hongkong terbakar dengan ulah para demonstran. Suara prodemokrasi yang diteriakkan para mahasiswa Hongkong itu, pada akhirnya dikecam oleh rakyat Hongkong sendiri. Sebab akibat demo yang terus menerus, ekonomi Hongkong babak belur. Yang paling merasa dampaknya adalah warga Hongkong sendiri.

China tidak terpancing untuk mengerahkan kekuatan militernye ke Hongkong. Mereka seperti menonton saja, ulah anak-anak muda Hongkong yang akhirnya merusak tanahnya sendiri.

Bukan hanya itu. AS juga kabarnya mengirimkan armada kapal induknya ke perairan Asia. Mungkin untuk menakut-nakuti China. Tapi China gak bergeming. Mereka tidak mau didikte kepentingan AS.

Meski masih sok, mau mengatur dunia, akhirnya AS disadarkan bahwa dalam negerinya sendiri banyak ketidakberesan. Mereka teriak-teriak HAM, tetapi justru persoalan HAM paling dasar yaitu rasisme, justru terjadi di AS.

Kini Trump terpaksa diungsikan dari Gedung Putih karena demontran yang memprotes kasus George Floyd, telah merangsek sampai ke sana. Kerusahan rasial meledak. Penjarahan meluas kemana-mana.

Kalau dibandingkan, cara penanganan polisi AS terhadap pengunjuk rasa, masih jauh di bawah kemampuan polisi Indonesia saat menangani demo di halaman Bawaslu kemarin. Juga demo RUU KUHP yang ramai itu. 

Kita tidak tahu, apakah Covid19 ini justru jadi momentum berubahnya kekuatan dunia. Setidaknya menandakan dominasi AS cuma tinggal kisah lama. Toh, kenyataanya, AS dan Trump cuma besar bacot dan doyan mengertak saja. Giginya sudah ompong.

Berkaca dari kasus dalam negeri AS saat ini, sepertinya mereka gak punya legitimasi moral lagi kalau mau kotbah soal HAM dan keadilan. Sebab kini dunia sedang berbenah. 

Bahkan Eropa juga mulai siap-siap menarik diri dari AS. Mereka mungkin sadar, gak mau tenggelam bersama jambulnya Trump.

"Mungkin slogan American First akan berganti dengan American Alone," ujar Abu Kumkum.

Entah, dia belajar dari mana. Kok bisa nyeletuk yang sok british kayak gitu.

(www.ekokuntadhi.id)

Monday, June 1, 2020 - 21:15
Kategori Rubrik: