Darah Semesta

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Seseorang bisa saja secara biologis berusia 7 tahun, 20 tahun, 40 tahun. Namun tubuh seseorang terdiri dari jutaan trilyun atom yang masing-masing atomnya berusia milyaran tahun.

Kulit manis seorang gadis, tidaklah berbeda. Atom penyusun kulitnya juga telah berkelana di semesta selama milyaran tahun. Mata manusia, tak mampu menyelami hakikat usia dari benda yang dilihatnya.

Dan semua atom itu adalah yang berhasil menyelesaikan perjalanan panjang hingga jutaan tahun cahaya dari tempat asalnya, sehingga sampai ke bumi, dan menjadi penyusun tubuh kita.

Selama hidupnya, manusia membuang atom yang pernah menjadi bagian tubuhnya, sekaligus menyerap atom baru dari makanan, minuman dan udara yang dihirupnya. Ini adalah proses tak henti hingga seseorang mati.

Sehingga atom yang menyusun badan kita, saling bertukar dengan makhluk lain, termasuk manusia lain. Kalau saja setiap atom di tubuh kita bisa bercerita dari mana asalnya dan bagaimana perjalanannya sebelum bergabung dengan tubuh kita, kita akan terkejut melihat sejarah "perjuangan" mereka.

Bukan tidak mungkin, sebagian atom penyusun tubuh kita, dahulu pernah menjadi penyusun tubuh Tyrex yang amat menyeramkan itu. Bukan tidak mungkin, sebagian atom oksigen yang kita miliki, pernah menjadi bagian dari tokoh yang hidup ribuan tahun sebelum kita, baik ia tokoh baik ataupun durjana.

Atau bisa jadi atom dari orang yang amat kita benci dan kita rela memfitnahnya, sekarang justru menjadi bagian dari tubuh kita, yang kalau kita kekurangan atom itu, maka tubuh kita menjadi sakit tidak karuan.

Itu adalah konsekuensi logis dalam sebuah ekosistem kehidupan, sehingga sangat tidak layak kita membanggakan diri, etnis, kelompok, secara berlebihan. Yang layak dibanggakan bukanlah materi, atom penyusun tubuh, melainkan nilai yang kita pilih dan anut. Atom kita bisa berpindah dan hilang dari tubuh kita, tetapi nilai bisa bertahan hingga jauh sesudah kita mati.

Tidak sembarang nilai, nilai yang mampu menundukkan hati kita di depan Sang Pencipta, dan nilai yang menjaga keharmonian ekosistem kehidupan yang dianugerahkan-Nya kepada kita.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Thursday, November 28, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: