Dana Desa Budaya

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

 Pada jaman dahulu kala, ketika Mas Fred Wibowo masih menjadi Direktur Program SAV Puskat Yogyakarta, beliau menggagas soal balai budaya sebagai pengganti balai desa. Di beberapa desa kabupaten DIY (Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul), ada banyak balai desa yang nganggur.

Pengertian nganggur, lebih banyak hanya dipakai tempat penyuluhan pamong desa, pilkades, atau mungkin mantenan, disamping tentu untuk kebutuhan internal aparat desa. Lhah, kenapa tidak memakai balai desa untuk aktivitas budaya (setidaknya kesenian) dan menjadikannya balai budaya?

 

 

Tapi senyampang hilangnya Mas Fred, gagasan agar setiap desa mempunyai balai budaya mandeg. Mungkin hanya ada dua yang jalan, seperti Balai Budaya Minomartani (Sleman) dan Balai Budaya Samirono (Kodya, karena berada di lingkungan mahasiswa). Sementara Balai Budaya Sinduharjo (Sleman) yang menjadi gagasan awal, malah tak kedengaran lagi aktivitasnya.

Apa yang dilakukan beberapa teman di desa Guwasari, Pajangan, Bantul (lihat flyer di bawah) ini menarik. Kegiatan itu bisa menjadi pemicu untuk membangkitkan kegiatan literasi masyarakat, langsung menusuk jantung. Apalagi bila hal itu dilakukan di banyak balai desa di DIY. Desa akan kembali pada marwahnya, menjadi mandala-mandala kecil yang tumbuh dari bawah untuk warganya.

Jika pun Danais sudah habis, atau setidaknya dikuasai kelompok tertentu dan tak ada sisa, semoga Dana Desa penggunaan dan pengelolaannya sudi untuk aktivitas semacam yang terjadi di Guwasari. Tinggal pengawasannya saja. Apalagi jika Dana Desa juga disisihkan agar masing-masing desa dengan menggerakkan warganya, membuat sejarah desa masing-masing. Maka serentak dan dalam waktu singkat Daerah Istimewa Yogyakarta akan memiliki data sejarah desa yang lengkap.

Perkara akurasi dan kualitas, biarkan saja berproses. Karena dialektikanya jauh lebih penting, dalam kaitan merangsang tumbuhnya proses literasi. Sementara kalau kita ngomongin Danais, mungkin agak sensi, karena dia hanya menjadi supplyer bagi individu, bukan bagian dari disain socio-cultural movements.

Semoga semakin banyak desa-desa tumbuh, bersama generasi barunya. 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Thursday, March 21, 2019 - 17:30
Kategori Rubrik: