Dan Papua Meledak Lagi

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Tetiba ceramah Somad merangsek ruang sosial kita. Pembicaraan soal salib yang menyebalkan itu, bergaung dimana-mana. Resikonya ada gesekan bernuansa agama. 

Belum lagi soal Somad reda, di Polsek Wonokromo seorang lonewolf menyerang polisi dengan parang. Lelaki penjual macaroni ini kerasukan jin ISIS. Ia jadi gahar. Polisi cepat melumpuhkannya.

 

Tetiba ada gerakan aneh menyambut HUT Kemerdekaan RI. Mahasiswa-mahasiswa Papua di berbagai kota di Jawa menggelar demonstrasi. Di Surabaya, asrama mahasiswa Papua diserang FPI. Entah siapa yang membakar bendera merah putih disana. 

Mahasiswa Papua di Surabaya sendiri tidak merasa melakukan pembakaran bendera. 

Video seorang aparat melecehkan mahasiswa Papua juga beredar. Ikut memercikkan api. Suasana itu disambut oleh gerakan di Manokwari. Masyarakat menyerang DPRD Manokwari, membakar sebuah gedung kosong bekas kantor parlemen.

Hari ini kabarnya masyarakat Papua menggelar demo di Jayapura. Jumlahnya ribuan. Di Sorong, kerusuhan kecil meledak di Bandara. 

Bisa dikatakan, seluruh Papua sedang panas.

Ada dua dasar bergeraknya masyarakat Papua. Pertama mereka memang digerakkan oleh semangat sparatisme Papua yang sejak dulu masih menjadi duri dalam daging. Ketidakadilan Soeharto yang mengeruk habis harta bumi Papua, menjadikan mereka antipati pada pemerintahan di Jawa. 

Sebelum kejadian ini, di Papua sempat terjadi penembakan aparat. Seorang polisi gugur.

Kedua, kemarahan masyarakat Papua juga dipicu pelecehan Somad terhadap simbol salib. Kita tahu, agama kristen paling banyak dianut masyarakat disana. Ketika Somad melecehkan simbol-simbol agama, isu itu ditangkap rakyat Papua, diikat oleh prasangka rasial Jawa-Non Jawa, yang telah lama ada di benak publik disana. Maka lengkaplah semuanya untuk meledakkan suasana.

Tapi harus diingat, Papua adalah wilayah yang pertumbuhan pengikut HTI paling besar. Pada acara pertemuan khilafah dunia beberapa tahun lalu, utusan dari Indonesia yang hadir adalah anggota HTI dari Papua. Kelompok-kelompok khilafah ini memang sengaja membangun basis di lokasi yang masyarakatnya didominasi non-muslim.

Ingat kan, ketika kampanye Prabowo kemarin, justru bendera HTI berkibar di Manado. Wilayah yang juga mayoritas penduduknya beragama kristen. Lihat juga di Sulteng, HTI mengakar kuat disana. Kita juga ingat ketika seorang bigot di Palu menggerek bendera HTI pada tiang bendera DPRD Palu. 

Kenapa HTI begitu memprioritaskan membangun basis di wilayah non-muslim? Begini. Konflik akan terjadi apabila ada dua kekuatan seimbang. Jika HTI kuat di Jabar, peluang terjadi gesekan keras sangat kecil. Sebab wilayah Jabar mayoritas muslim. 

Lain halnya jika HTI punya gerombolan yang signifikan di Papua atau Manado. Pasti pertentangan masyarakat akan lebih keras. Isu konflik agama akan digoreng habis-habisan. Sentimen keimanan akan dijadikan bahan baku untuk membakar Indonesia.

Kita masih ingat kerusuhan Ambon dan Poso yang memilukan itu.

Kejadian-kejadian ini bukan hal terpisah. Bila kita jeli membacanya, semua ini ada dalam skenario besar untuk melumpuhkan bangsa ini. 

Papua sejak lama memang ditinggalkan oleh pemerintahan di Jawa. Perhatian pada bumi paling Timur Indonesia ini memang paling minimal. Karena itu, Presiden Jokowi berusaha sekuat tenaga untuk membangun Papua. Ia ingin menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi efek pembangunan butuh waktu. Infrastruktur dasar yang dengan keras telah dibangun Jokowi butuh jarak lama agar masyarakat bisa merasakan hasilnya. Sementara kekecewaan masyarakat Papua pada ketidakadilan telah tertanam sejak lama. Apalagi ditambah dengan ketersinggungan ketika simbol agamanya dilecehkan.

Ada banyak kepentingan yang mencoba mengeruk keuntungan dari situasi ini. Konflik horisontal biar bagaimanapun akan melemahkan negara. Termasuk melemahkan posisi Presiden. 

Apalagi tanah Papua yang kaya dengan mineral. Pasti jadi incaran berbagai kepentingan dunia untuk memguasainya.

Aneh kan? Papua yang saat ini begitu dimanjakan Jokowi justru meledak. Ini adalah usaha mendelegitimasi semua usaha Presiden untuk memberikan kemakmuran pada rakyat Papua. Ini juga usaha serius melemahkan Indonesia.

Ada teori tentang hubungan negara dan rakyat. Jika negara kuat, rakyat lemah. Yang terjadi adalah tirani.

Jika rakyat kuat, negara lemah, yang terjadi adalah anarki. 

Jika negara lemah, rakyatnya juga lemah, yang terjadi adalah intervensi asing. Saya melihat konflik-konflik ini sengaja disulut untuk memudahkan kekuatan asing masuk. Entah itu kekuatan kapitalisme dunia. Atau kekuatan ideologi yang diimpor dari Timur Tengah. 

Saat ini demokrasi di Indonesia telah memberikan legitimasi kuat pada negara dan pengelolanya. Sekaligus menandakan bargaining rakyat yang juga kuat menentukan jalannya politik di Indonesia. Idealnya memang demikian. Dalam suasana itu, kita tinggal memastikan bahwa hukum harus menjadi panglima. 

Bisa dikatakan, saat ini Indonesia sedang memasuki tahap penting perkembangannya. Jika kita berhasil melewatinya, kita akan mampu berdiri lebih kokoh di tengah bangsa-babgsa di dunia. Jika kita gagal melalui fase ini, bangsa besar ini hanya akan tinggal puing-puing.

Ingatlah satu hal. Sebuah isu atau kejadian besar bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Di belakangnya ada serentetan kepentingan yang nenyertainya. Bacalah semua situasi ini dengan kepala yang dingin.

"Kamu lagi ngapain Kum?"

"Merendam kepala, mas. Biar dingin..."

(www.ekokuntadhi.id)

Monday, August 19, 2019 - 22:15
Kategori Rubrik: