Dan Kematian Semakin Akrab

Oleh: Sunardian Wirodono
 
“Dan kematian semakin akrab,” tulis Subagio Sastrowardojo (1924 – 1995) dalam puisi dengan judul itu.
Membacai dan melihat media beberapa hari lalu, saya baru tahu ada beberapa hal menyedihkan tentang kematian. Tentu di antaranya para saudara kita yang pralaya karena vonis Covid-19. Juga beberapa nama yang kita kenali, berada dalam lingkaran kenangan kita, karena kebaikan dan setidaknya menjadi bagian prosesi kehidupan kita.
Ada Pak Sapardi Djoko Damono beberapa waktu lalu, kemudian belum lama lalu, Pak Ajip Rosidi, Teddy Satya Nugraha (sulungnya Rendra). Nama-nama yang setidaknya pernah menyertai kenangan kita akan masa lalu. Ada juga pelawak Omaswati, Bang Benny Likumahuwa. Dan entah siapa lagi, yang kematiannya mampu menyedot kesadaran kita akan nilai hidup.
 
Hidup dan mati, sebenarnya hanya terpisah lapisan amat tipis. Menurut Pak Subagio, pakde’nya Dian Sastro, “seakan kawan berkelakar/ yang mengajak tertawa”. Berbeda dengan Chairil Anwar, dengan elan vital ingin hidup seribu tahun lagi, Chairil terasa lebih menunjukkan kecemasan. Subagio lebih ‘tenang’ menghadapi kematian.
Dalam sajak ‘Daerah Perbatasan’, bahkan Subagio seolah menantang, “Ada baiknya/mati muda dan mengikut/ mereka yang gugur sebelum waktunya.,… Bukan karena rongrongan penyakit tua, melainkan berdiri menantang kehidupan itu.
“Mati lebih mulia/ dan kekal daripada seribu tahun/ terbelenggu dalam penyesalan,”tulisnya lagi. Saya tidak tahu apakah ia sedang menyidnir Chairil Anwar. Tapi saya tak bisa melepaskan pemahaman, bahwa Subbgio adalah kritikus sastra yang tajam, dan senyampang itu seorang yang meyakini puisi-puisinya adalah keyakinan falsafatinya yang paling cair. Ia pasti membaca Chairil. Bahkan dalam ‘Juga Waktu’, dituliskannya; “nyawa ini sendiri/ terancam setiap saat.”
Lantas untuk apa hidup? Tentu bukan untuk mati, juga bukan untuk takut meski kematian selalu mengakhiri kehidupan. Tapi hanya secara wantah. Kehidupan imaterial, akan terus berlanjut. Tergantung pada centhelan kehadirannya. Karena ‘yang kita bisa hanya/ membekaskan telapak kaki,…’ lanjut Subagio dalam ‘Juga Waktu’.
Telapak kaki yang kayak apakah? Itu persoalannya. Bukan kematian yang menjadi persoalan. Sapardi Djoko Damono, Ajip Rosidi, juga Omaswati, Benny Likumahuwa, Sultan Sepuh XIV Cirebon, para pesohor lainnya yang mesti kita sebut, walau mungkin kenal juga kagak.
Kita, yang masih fesbukan hingga detik ini, artinya masih hidup. Hingga bisa mengerti, bagaimana kematian adalah sebuah kemestian. Ia bisa nyamperin siapa saja tanpa babibu. Menghampiri orang-orang yang kita cintai dan kenali.
Namun kisah kehidupan kita hari-hari ini juga tak kalah mengharu-biru. Tentang seorang siswi SMP di Batam, yang menjual diri untuk berkencan online, agar bisa membeli pulsa buat belajar online di rumah saja. Atau anak-anak Alor, di NTT, yang harus nebeng ke kantor Polisi untuk bisa menggarap soal. Sementara d Sleman ada seorang ibu pontang-panting nyari utangan, untuk beli ponsel. Agar anaknya tak tergantung nunggu dia pulang kerja malam-malam menggarap tugas sekolahnya.
Padal, Indonesia adalah negara ke-6 di dunia yng memiliki jumlah ponsel terbesar di dunia. Padal, emangnya kalau sudah beli ponsel, tak beli pulsa? Emangnya kalau sudah beli pulsa jaringan lancar? Pemerintah memaksa rakyat untuk membiayai sistem yang mereka ciptakan, tapi mereka tak bertanggungjawab equipment dan servicesnya, apalagi memahami. Kisah kehidupan kita hari-hari ini juga tak kalah akrabnya, makin menjengkelkan.

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

Tuesday, August 4, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: